Feeds:
Posts
Comments

Russian Ambassador: ‘Indonesia is very much like home’

Alexandra Hansen ,  Contributor ,  Jakarta   |  Fri, 02/05/2010 1:39 PM  |  People

JP/Alexandra HansenJP/Alexandra Hansen

In light of the 60th anniversary of Indonesian-Russian diplomatic relations, the Russian ambassador to Indonesia is thinking of home, and how in Indonesia he is reminded of it every day.

Russian Ambassador: ‘Indonesia is very much like home’ | The Jakarta Post

skip to main | skip to sidebar

International Visitor Leadership Program of US Gov

Live Peace and Harmony in Diversity and Multicultural Society

Mosque

Mosque
Masjid at Massachussette, Wash, DC

Grand Central, Washington, DC.

Grand Central, Washington, DC.
in Front of Train Station of Grand Central Wash. DC

Washington, DC

Washington, DC
During IV Leadership Program, at George Washington Statue

Portland, Maine

Portland, Maine
Family Dinner Program in Portland, Maine.

IV Leadership Program

IV Leadership Program
On Right, DR. Razi Hasan, Imam Masjid Tauhid, Hunstville, Alabama after an International Seminar of Muslim Community, May 2005

Birmingham, Alabama

Birmingham, Alabama
At the Hospital for Senior Citizen with Participant from Uganda, the Philipine, Tanzania and …..

IV Pasrticipants

IV Pasrticipants
Left and Right Participant from Nigeria (Abdul Latif) Washin and Tanzania

George Washington University

George  Washington University
A part of Medical Faculty of George Washington University

IV Program, Friends

IV Program, Friends
A friend from Pakistan. Snap in front of White House arena

IV 2005, Friends

IV 2005, Friends
Bob, A Efendi, some one, Jo, all of Staff of IV Leadership Program 2005, visited Malaysia after program on Jan, 2006

Santa Fe, NM, USA

Santa Fe, NM, USA
Down-hill Skiing, Santa Fe, IV 2005

Seattle Farmer Market

Seattle Farmer Market
Azhari Affabdi, Pakistani Lady, South Africa Lady, The Pihilipine and others at Farmer Market Seattle, WA

Surat dari Mesir (1)

Hifzi, Pengurus Wisma Nusantara Kairo
Mahasiswa dari Piladang
.
Pak Darlis dan sahabat-sahabat persku Hasril, Zaili, Eko di Sgl, MM, Padek dan Haluan Yth. Kepada salah seorang di antara sahabatku, kemarin saya berjanji untuk menulis terus dalam perjalanan ini. Seperti yang sudah saya tulis sebelum keberangkatan kemarin, (entah sudah bapak terima dan baca) dalam email, kami berangkat dari Padang Pukul 12.55 dengan Garuda GA 844. Setelah transit di PekanBaru kami sampai di Singapura pukul 16.15 waktu Singapuara.
Pukul 06.40 pagi ini (Kamis, 22/7) saya Imnati dan Adam sampai di Bandara internasional Kairo. Ada sedikit perbedaan proses imigrasi. Di Singapura dan Bangkok pemeriksaan imigrasi dan barang dilakukan secara otomotis dengan kotak sinar X ketika masuk dan keluar. Ini sudah biasa di seluruh ariport di dunia.
Di sini, kotak Sinar X itu meskipun ada tidak terlalu diperlukan. Setelah ceking pasport dan slip kedatangan, oleh petugas di balik kaca lintas keluar imigrasi, kami di suruh mengunggu di satu sudut. Ternyata di beberapa kursi di sudut ruangan itu ada pula penumpang lain yang akan masuk ke Kairo. Rupanya bagi orang yang bukan warga Mesir sering atau memang seperti itu.
Terasa kepada saya seperti masuk kota Jeddah waktu musim haji saja. Sahabatku Haji Darlis, Kita kan pernah sama-sama naik haji tahun 1996 ? Kira-kira begitulah. Artinya ada petugas lain sesudah dari meja imigrasi yang bertugas membagikan passport yang sudah distamp itu. Pada mulanya saya ragu. Jangan-jangan karena baru kali ini saya masuk Mesir, ada sedikit kesulitan. Tetapi ketika saya tanya kepada pengunjung Mesir yang lain yang duduk di sebelah saya tadi, yang juga mengalami hal yang sama, rupanya ini sudah hal biasa. Kata dia, sudah tiga kali masuk Mesir, dia mengalami hal seperti itu. Jadi tidak ada masalah samasekali.
Namun sebelum passport yang sudah distamp itu diberikan ke saya, hati saya agak ragu juga. Apalagi mahasiswa Minang yang menunggu saya di luar mengirim sms ke saya, apakah ada kesulitan ? Saya terangkan keadaan itu.Total waktu yang saya butuhkan satu setengah jam. Dan kira-kitra selama itu pulalah Abdul Baari, Hasnul Yakin, Syaiful, Arif Taufik, dan Sirajuudin, menunggu. Mereka adalah Ketua dan Wakil Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau dan petugas KBRI Kairo.
Seperti yang telah saya terangkan, kedatangan saya ke sini atas undangan mereka. Bagi saya ini sangat menarik. Saya selalu berhubungan dengan mahasiswa-mahasiswa kita di luar negeri. Kemarin di Singapura saya memperkenalkan anak saya yang kuliah Ilmu Komunikasi Universita Islam Bandung kepada Ridha, putri Drs. Usman Alnas, MA, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang tempat saya menjadi salah seorang dosennya. Bulqish sedang mengeksplorasi data dan resources serta informasi dan materi untuk menulis tesis, tugas akhirnya .
Hari ini Ridha, mahasiswa Universitas Nasional Singapura itu membawa Putri Bulqish ke Kampusnya. Kata Bulqish via sms tadi, kampus Ridha sangat moderen dan canggih. Ridha adalah mahsiswi di univeristas bergengsi ini. Dan di Singapura juga ada kesatuan mahasiswa Minang. Bara Mamiya yang kuliah di Nan Yang University dan lain-lain adalah anggotanya. Mereka semua mendapat bea-siswa yang sangat memadai.
Eh, ternyata di Kairo, saya bertemu pula dengan adik kelas setahun di bawah Putri Bulqish yang sama-sama di Diniyah Putri Padang Panjang tiga tahun lalu. Yang terakhir ini bernama Kuntum, mahasiswi jurusan Bahasa Arab di al-Azhar yang orang tuanya tinggal di daerah Tunggul Hitam Padang. Ah, saya juga ingin mengatakan bahwa Arif Taufik yang tadi salah satu menjemput kami di Bandara adalah teman anak saya di Pesantren Darun Najah di Jakarta dan Cipining Bogor dulunya. Iqbal, teman Arif itu kini sedang kuliah S2 jurusan studi hubungan internasional di UGM Yogyakarta.
Sampai di Wisma Nusantara Kairo saya bertemu dengan beberapa mahasiswa Minang dan Indonesia lainnya. Di antaranya yang akan banyak tempat saya bertanya sampai 26 Juli pagi nanti adalah Hifzi, mahasiswa jurusan Hadist dari Piladang, Kab. 50 Kota. Ia sudah lebih 5 tahun di sini dan sebelumnya adalah tamatan Gontor Ponorogo. Sedangkan Hasnul, Abdul Baari dan lain-lain tadi, sebelumnya adalah tamatan MAN Program Khusus Koto Baru Padang Panjang.
Wisma Nusantara adalah sebuah gedung berlantai lima dengan masing-masing lantai ada tujuh ruang. Di antara 35 ruangan itu, di lantai dua, ada 7 kamar dijadikan kamar tempat menginap tamu warga Indonesia yang berkunjung ke Mesir. Hifzi, adalah salah seorang di antara 8 orang mahasiswa yang diangkat mengurus wisma ini. Kata Hifzi, dulu wisma ini dibeli oleh ICMI. Ketika itu ICMI dipimpin Prof Dr. BJ Habibie pada th 1997 sewaktu Mantan Presiden RI 1998-1999 itu menjadi Menristek. Habibie, banyak meninggalkan kesan mendalam bagi mahasiswa Indonesia Mesir.
Di Gedung inilah sekarang dipusatkan berbagai kegiatan mahasiswa dan sekaligus menjadi kantor DPP Persatuan Pelajar dan Mahassiswa Indonesia Mesir sejak tahun 2001 lalu. Di lantai paling atas ada perpustakaan yang lumayan. Dan bagi mahasiswa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan ethnis, daerah dan provinsi, wisma nusantara pusat kegiatan yang sangat membantu untuk pengembangan diri dan komunitas.
Nanti malam, sesuai agenda yang KMM susun, kami akan makan malam di rumah Atase Pertahanan KBRI Kairo, Kolonel Laut Yuhastiar. Menurut info, beliau adalah teman Pak Wako Padang kita sekarang Drs. H. Fauzi Bahar, M.Si. Ketika kemarin saya terima telepon Pak Wako dengan temanya : “yang kujaga dan kubela” Kota Padang itu di Singapura, beliau membenarkan . Susana nanti malam dan apa kesan dan pikiran saya akan saya tulis untuk besok. Oh, ya beda waktu antara Indonesia dan Mesir adalah 4 jam musim panas dan 5 jam untuk beda pada musim dingin. Sekarang adalah musim panas. Itu artinya ketika kami makan malam di rumah Pak Yuhastira pk. 20.00 malam ini, maka di Padang sudah pukul 12.00 tengah malam kepergantian hari 23 Juli. Sampai besok, sahabat-sahabatku. ***

Surat dari Mesir (2)

Surat Shofwan Karim dari Kario (2):
Hidup dari Wisata Sejarah
Sahabatku H Darlis, Hasril, Zaili dan Eko di Singgalang, Mimbar Minang, Padek dan Haluan. Kemarin agenda yang dibuat oleh KMM cukup padat. Disela-sela acara itulah surat ini dibuat. Pada surat kemarin, seakan-akan saya langsung akan menulis soal acara dengan Atase Pertahanan KBRI yang mengundang makan malam hari itu.
Sayang rasanya cerita soal poerjalanan saya sesudah menulis surat kemarin itu dilampaui. Maka laporan saya tentang atase itu saya tulis dalam surat yang ketiga. Sementara yang kedua ini, saya akan cerita apa yang dilakukan sore hari kamis kemarin.
Mobil KBRI yang disopiri Abdul Rahman, anggota KMM membawa kami ke Giza. Memang agak lelah, karena baru pagi harinya sampai dan beerapa saat istirahat langsung jalan. Wilayah di seberang Sungai Nil menjadi kunjungan utama wisatawan di Mesir.
Di situlah, menurut adik-adik KMM, negara Mesir meraup salah satu dari sekian devisa masuk Mesir. Dasar utama ekonomi Mesir di antarnyta memang dari sektor pariwisata. Dari sekor lain, misalnya minyak bumi, memang ada, tetapi jauh di bawah Libya , Aljazair, dan lebih jauh lagi di bawah bawah Saudi, Irak, Quwait.
Pertanian juga memasok pendapatan warga dengan adanya bendungan raksasa Aswan yang membendung sungai Nil untuk irigasi dan oembangkit listrik. Dengan begitu Mesir dianggap negeri pemnghasil produk tani seperti sayuran dan buah yang lumayan. Tetapi sektor wiisata dinggap lebih utama.
Objek wisata dari bekas negeri Nabi Musa, Nabi Yusuf dan sekaligus raja-raja Fir’aun ini, di antara yang paling utama adalah Ahram atau Piramid dan Abul Haul atau Spinx. Di dalam catatan tujuh keajaiban Dunia, ciptaan manusia di samping Tembok Raksasa Cina, Borobudur, Menara Pisa dan lain-lain, maka Piramid dan Spinx adalah yang paling tertua di antaranya.
Di musim panas yang berkabut dan kering ini, bangunan segi tiga lancip menjulang itu, dikunjungi ramai sekali wisatawan manca negara. Dari wilayah Panorama yang telah ditimbun sedemikian rupa oleh Pemerintah Mesir, kami memandang kepada ketiga Piramid itu.
Tak jauh di belakangnya, di situ bediri pula bangunan batu terjal patung raksasa Kepala Manusia berbadan singa yang disebut Abul Haul atau Spinx itu berada. Hidung Spinx sudah copot. Kata gosip sejarah, hidung yang tercampak itu dibawa Napoleon setelah meinggalkan Mesir pada lebih dua abad lalu. Menuju ke Piramid yang berdiri tiga sejajar dengan ukuran besar menengah dan agak kecil, itu kami tempuh sekitar 1 jam dari Wisma Nusantara, distrik Nasir City, Kairo.
Nampaknya pengelolaan tidak terlalu rapih. Namun, seperti kata sebagian pengunjung, Mesir tetap mendapatkan keuntungan dari peradaban Fir’aun kuno yang sudah ribuan tahun ini. Untung ada Benteng Shalahuddin al-Ayubi, yang berdiri setelah kemenangan Panglima Perang Salib pada abad ke 10 Miladiyah itu. Maka benteng ini yang tetap berdiri kokoh menjadi pula sasaran kunjungan wisata Mesir yang tak kalah dengan Piramid dan Spinx itu.
Ini menjadi perimbangan kebanggaan orang Mesir terhadap dua peradaban: Fir’aun dan Islam. Berturut-turut sesudah kedua tempat tadi, kami berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid tempat mengajar ilmu keeslaman Imam Besar Syafii terletak di daerah yan disebut Hayun Safii wilayah Fusthat.
Muhammad bin Idris Al-Syafii lahir di Ghaza, Palestina pada 150 H. Beliau hidup dan belajar serta mengajar ilmu keislaman berpindah-pindah. Dari kampungnya, ulama besar sumber Mazhab Syafii ini hidup dan belajar berturut-turut di Mekkah, Madinah, Yaman, Irak dan Parsi atau Iran sekarang. Kemudian beliau pindah ke dan wafat di Mesir. Begitu penyesuaian dan elastisnya Imam ini memberikan fatwa, maka dikenal apa yang disebut fatwa lama dan fatwa baru. Suatu istilah yang popler di kalangan ilmuwan fikih yang disebut Qualul Qadim dan Qaulul Jadid. Suatu istilah sebagai pembeda antara fatwa yang keluar dari beliau pada masa kehidupannya di Irak dan di Mesir.
Di Masjid ini, menurut ornamen yang tertulis di dindingnya, Imam Syafii sehari-hari hidup dengan mengajar murid-murid dan jama’ahnya. Pagi-pag sesudah shalat subuh mengajar Tafsir. Kemudian matahari mulai muncul beliau mengajar hadist dan ketika waktu dhuha baru beliau membuka lebar pintu untuk masyarakat umum berdiskusi dan berdialog soal-soal praktis bagi kalangan awam.
Sayang, tempat wisata sejarah ini terletak di daerah yang agak sempit dan terkesan kurang mendapat perhatian . Menurut sebagian orang, ada kemungkinan pemerintah memang kekurangan dana untuk pemeliharaan atau ada faktor lain. Misalnya, mazhab Syafii kurang populer di Mesir yang mayoritas mengikuti Mazhab Maliki.
Antisipasi terhadap kemungkinan masyarakat hanya terfokus pada salah satu mazhab, nampaknya ada pula masjid-masjid yang terbuka untuk jama’ah semua mazhab. Setiap warga dan umat baik pengikut mazhab Syafii, Hanbali, Hanafi dan Maliki dapat melakukan ibadahnya di Masjid ini menurut caranya masing-masing. Inilah Masjid Hasan Bin Thalun yang terletak lebih terbuka dan tempatnya lebih strategis tak jauh dari wilayah benteng Shalahudiin yang sudah disinggung di atas tadi. Masjid ini dibangun, menurutu shahibul hikayat sebagai peringatan untuk Saidah Aiisyah Radhiallahu’anha, istri Rasulullah. SWA.
Membangun proyek-proyek yang bersifat monumental untuk memperingati peritiswa dan tokoh samapi sekarang diteruskan oleh Mesir. Misalnya jalan layang toll bebas hambatan melintas kota Kairo yang dijuluki layang dan toll tepanjang di Afrika adalah dalam rangka monumen kemenangan Mesir dari perang melaawan Israel pada bulan Oktober atau Ramadhan tahun 1973.
Begitu pula dibangun monumen dengan pilar segitiga dan taman yang terpelihara rapi di hadapan stadion seberang jalan raya yang membelah kota Kairo. Monumen itu untuk mengenang wafatnya Anwar Sadat ditembak oleh salah seorang prajurit dalam suatu upacara parade militer pada bulan Oktober 1981. Sampai kami berhenti di temnpat itu, kami melihat tentara dengan pakaian kebesarannya berjaga-jaga dengan disiplin. Dengan pakain yang penuh assesoris agak mencolok, menurut pikiran saya sebagai tanda penghargaan yang tinggi kepada almarhum mantan Presiden Mesir itu. ***

Surat dari Mesir (3)

Surat Shofwan Karim dari Kario (3):
Hidup dari Wisata Sejarah

Sahabatku H Darlis, Hasril, Zaili dan Eko di Singgalang, Mimbar Minang, Padek dan Haluan. Kemarin agenda yang dibuat oleh KMM cukup padat. Disela-sela acara itulah surat ini dibuat. Pada surat kemarin, seakan-akan saya langsung akan menulis soal acara dengan Atase Pertahanan KBRI yang mengundang makan malam hari itu.
Sayang rasanya cerita soal poerjalanan saya sesudah menulis surat kemarin itu dilampaui. Maka laporan saya tentang atase itu saya tulis dalam surat yang ketiga. Sementara yang kedua ini, saya akan cerita apa yang dilakukan sore hari kamis kemarin.
Mobil KBRI yang disopiri Abdul Rahman, anggota KMM membawa kami ke Giza. Memang agak lelah, karena baru pagi harinya sampai dan beerapa saat istirahat langsung jalan. Wilayah di seberang Sungai Nil menjadi kunjungan utama wisatawan di Mesir.
Di situlah, menurut adik-adik KMM, negara Mesir meraup salah satu dari sekian devisa masuk Mesir. Dasar utama ekonomi Mesir di antarnyta memang dari sektor pariwisata. Dari sekor lain, misalnya minyak bumi, memang ada, tetapi jauh di bawah Libya , Aljazair, dan lebih jauh lagi di bawah bawah Saudi, Irak, Quwait.
Pertanian juga memasok pendapatan warga dengan adanya bendungan raksasa Aswan yang membendung sungai Nil untuk irigasi dan oembangkit listrik. Dengan begitu Mesir dianggap negeri pemnghasil produk tani seperti sayuran dan buah yang lumayan. Tetapi sektor wiisata dinggap lebih utama.
Objek wisata dari bekas negeri Nabi Musa, Nabi Yusuf dan sekaligus raja-raja Fir’aun ini, di antara yang paling utama adalah Ahram atau Piramid dan Abul Haul atau Spinx. Di dalam catatan tujuh keajaiban Dunia, ciptaan manusia di samping Tembok Raksasa Cina, Borobudur, Menara Pisa dan lain-lain, maka Piramid dan Spinx adalah yang paling tertua di antaranya.
Di musim panas yang berkabut dan kering ini, bangunan segi tiga lancip menjulang itu, dikunjungi ramai sekali wisatawan manca negara. Dari wilayah Panorama yang telah ditimbun sedemikian rupa oleh Pemerintah Mesir, kami memandang kepada ketiga Piramid itu.
Tak jauh di belakangnya, di situ bediri pula bangunan batu terjal patung raksasa Kepala Manusia berbadan singa yang disebut Abul Haul atau Spinx itu berada. Hidung Spinx sudah copot. Kata gosip sejarah, hidung yang tercampak itu dibawa Napoleon setelah meinggalkan Mesir pada lebih dua abad lalu. Menuju ke Piramid yang berdiri tiga sejajar dengan ukuran besar menengah dan agak kecil, itu kami tempuh sekitar 1 jam dari Wisma Nusantara, distrik Nasir City, Kairo.
Nampaknya pengelolaan tidak terlalu rapih. Namun, seperti kata sebagian pengunjung, Mesir tetap mendapatkan keuntungan dari peradaban Fir’aun kuno yang sudah ribuan tahun ini. Untung ada Benteng Shalahuddin al-Ayubi, yang berdiri setelah kemenangan Panglima Perang Salib pada abad ke 10 Miladiyah itu. Maka benteng ini yang tetap berdiri kokoh menjadi pula sasaran kunjungan wisata Mesir yang tak kalah dengan Piramid dan Spinx itu.
Ini menjadi perimbangan kebanggaan orang Mesir terhadap dua peradaban: Fir’aun dan Islam. Berturut-turut sesudah kedua tempat tadi, kami berkunjung ke Masjid Imam Syafii. Masjid tempat mengajar ilmu keeslaman Imam Besar Syafii terletak di daerah yan disebut Hayun Safii wilayah Fusthat.
Muhammad bin Idris Al-Syafii lahir di Ghaza, Palestina pada 150 H. Beliau hidup dan belajar serta mengajar ilmu keislaman berpindah-pindah. Dari kampungnya, ulama besar sumber Mazhab Syafii ini hidup dan belajar berturut-turut di Mekkah, Madinah, Yaman, Irak dan Parsi atau Iran sekarang. Kemudian beliau pindah ke dan wafat di Mesir. Begitu penyesuaian dan elastisnya Imam ini memberikan fatwa, maka dikenal apa yang disebut fatwa lama dan fatwa baru. Suatu istilah yang popler di kalangan ilmuwan fikih yang disebut Qualul Qadim dan Qaulul Jadid. Suatu istilah sebagai pembeda antara fatwa yang keluar dari beliau pada masa kehidupannya di Irak dan di Mesir.
Di Masjid ini, menurut ornamen yang tertulis di dindingnya, Imam Syafii sehari-hari hidup dengan mengajar murid-murid dan jama’ahnya. Pagi-pag sesudah shalat subuh mengajar Tafsir. Kemudian matahari mulai muncul beliau mengajar hadist dan ketika waktu dhuha baru beliau membuka lebar pintu untuk masyarakat umum berdiskusi dan berdialog soal-soal praktis bagi kalangan awam.
Sayang, tempat wisata sejarah ini terletak di daerah yang agak sempit dan terkesan kurang mendapat perhatian . Menurut sebagian orang, ada kemungkinan pemerintah memang kekurangan dana untuk pemeliharaan atau ada faktor lain. Misalnya, mazhab Syafii kurang populer di Mesir yang mayoritas mengikuti Mazhab Maliki.
Antisipasi terhadap kemungkinan masyarakat hanya terfokus pada salah satu mazhab, nampaknya ada pula masjid-masjid yang terbuka untuk jama’ah semua mazhab. Setiap warga dan umat baik pengikut mazhab Syafii, Hanbali, Hanafi dan Maliki dapat melakukan ibadahnya di Masjid ini menurut caranya masing-masing. Inilah Masjid Hasan Bin Thalun yang terletak lebih terbuka dan tempatnya lebih strategis tak jauh dari wilayah benteng Shalahudiin yang sudah disinggung di atas tadi. Masjid ini dibangun, menurutu shahibul hikayat sebagai peringatan untuk Saidah Aiisyah Radhiallahu’anha, istri Rasulullah. SWA.
Membangun proyek-proyek yang bersifat monumental untuk memperingati peritiswa dan tokoh samapi sekarang diteruskan oleh Mesir. Misalnya jalan layang toll bebas hambatan melintas kota Kairo yang dijuluki layang dan toll tepanjang di Afrika adalah dalam rangka monumen kemenangan Mesir dari perang melaawan Israel pada bulan Oktober atau Ramadhan tahun 1973.
Begitu pula dibangun monumen dengan pilar segitiga dan taman yang terpelihara rapi di hadapan stadion seberang jalan raya yang membelah kota Kairo. Monumen itu untuk mengenang wafatnya Anwar Sadat ditembak oleh salah seorang prajurit dalam suatu upacara parade militer pada bulan Oktober 1981. Sampai kami berhenti di temnpat itu, kami melihat tentara dengan pakaian kebesarannya berjaga-jaga dengan disiplin. Dengan pakain yang penuh assesoris agak mencolok, menurut pikiran saya sebagai tanda penghargaan yang tinggi kepada almarhum mantan Presiden Mesir itu. Ataukah sekedar untuk menarik perhatian wisatawan ?***

International Visitor

International Visitor
Evaluation Meeting of Program in Seattle, WA, May, 25, 2005

Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban

Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban, (Kerisauan Bersama Cucu Magek Dirih)
www.padangekspres.co.id/
Kamis, 12 Juni 2008
Oleh : Shofwan Karim, Cendekiawan MuslimKerisauan Cucu Magek Dirih (Cucu Magek/CM), harus diakui telah menjadi kerisauan kita bersama. Termasuk Cucu Bandaro Saga Jantan (Cucu Saga/CS). Maka berikut ini diskusi lanjutan dalam rangkaian menyambut esai CM, Selasa 3 Juni lalu: “ Transformasi Islam yang Membina Perilaku Umat (Shofwan Tidak Risau/Sudah Puas?)”.
Sebelumnya, CM (Sutan Zaili Asril) menulis kegagalan subyek pembina perilaku umat. (Lihat, Padang Eskpres, “Kenapa Umara/Ulama dan Dai/Mubaligh Gagal Membina Perilaku Masyarakat?”, Minggu, 25/5. Terhadap esai itulah CS (Shofwan Karim) menulis, “Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat—Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih”, Sabtu, 31/5.
Kalau tidak salah, kali ini CM menggeser pokok pembahasan dari yang semula subyek (umara/ulama, dai/muballigh) yang gagal melakukan pembinaan ummat kepada hal bawaan subyek itu, yaitu transformasi Islam. Paling tidak, gagasan itu yang ditangkap oleh CS dalam membaca diskusi 3/6 yang baru lalu. Oleh karena itu, sebaiknya ke mana irama gendang CM, ke situ pula langkah SC berayun. Singkatnya, CM menghendaki cendekiawan muslim memiliki konsep transformasi Islam yang membina perilaku umat.
Mungkin yang diinginkan CM adalah konsep baru. Kalau konsep lama, rasanya seperti menuangkan garam ke laut. Khazanah “garam” intelektual CM sudah penuh dengan konsep lama itu. Katakanlah, setiap cendekiawan yang tergabung di dalam berbagai organisasi ummat di Indonesia telah memiliki konsep transformasi Islam yang sudah lama tersebut. Muhammadiyah (dulu) memiliki konsep 9 komponen matan-keyakinan hidup dan cita-cita.
Sejak Muktamar 2000, konsep itu dilengkapi dengan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama dengan konsep ahlu sunnah wal jamaah-nya; persaudaraan (ukhuwah) imaniah, wathaniyah dan basyariah-nya. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dengan konsep 5 K-nya. Tidak perlu pula CS menguraikan satu persatu karena nanti CM akan menganggap menggurui. Itu hanya untuk menyebut secuil konsep yang menurut CS perlu dipertimbangkan terus-menerus dikaji, diaplikasikan dan dievaluasi.
Kalau kita mau singgung Persatuan Islam (Persis), al-Jamiah-alkhairiah, al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan seterusnya, maka deretan konsep itu semakin panjang. Lebih dari itu, sejak dari wafatnya Rasulullah, masa sahabat dan masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, Bani Umaiyah, Shafawi, Mughal, Ustmani, sampai berakhirnya kekhalifahan Islam dengan merdekanya negara-negara Islam di dunia sejak pertengahan abad lalu, secara global transformasi Islam tidak pernah selesai dan tidak pernah tuntas.
Ketidakselesaian transformasi Islam itu, menurut hemat CS adalah sesuatu yang harus direnungkan secara dalam. Apakah Islam sudah selesai menjadi agama kebudayaan dan peradaban? Islam mungkin sudah selesai menjadi agama wahyu, menjadi agama theologi atau dimensi akidah. Tetapi ketika Islam menjadi perilaku budaya dan peradaban, maka menurut CS, transformasi Islam tidak akan pernah berhenti dan berakhir.
Hal itu menjadi relevan karena kebudayaan dan peradaban manusia termasuk ummat Islam terus berkembang. Secara kasat mata, terjadi transformasi yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Dimensi syariah, ambil misalnya fikih munakahat (pernikahan). Kitab fikih kita oleh beberapa kalangan diminta untuk ditinjau secara komprehensif akibat perkembangan budaya dan peradaban baru yang disebut dunia maya (virtual world/cyberworld). Masalah ijab kabul, misalnya.
Kalau dulu ada pendapat pro kontra ijab-kabul via telepon, maka sekarang bagaimana dengan sistem chatting internet atau via video-call 3 G. Contoh-contoh itu akan bisa diperpanjang dengan bidang dan dimensi lainnya dalam perkembangan budaya dan peradaban mutakhir lainnya.
Bagaimanapun, transformasi Islam ada yang berjalan secara terencana atau sebaliknya alamiah (untuk tidak menyebut tanpa konsep). Tergantung pemahaman dan praktik Islam oleh siapa, di mana, serta pada tingkat komunitas inetelektual, akal dan budaya pendukungnya. Misalnya soal perilaku ummat.
Kalau yang kita maksud perilaku aqidah dan ibadah yang semestinya bersesuaian dengan perilaku budaya (praktik hidup), maka Al-Qur’an sudah menyebutkan secara lugas dan tegas bahwa orang yang bertaqwa itu mesti dekat kepada Allah dan selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap tarikan nafasnya, karena Allah lebih dekat dari pada urat leher mereka sendiri.
Shalat, selanjutnya, bukankah ibadah wajib ini tidak hanya gerakan fisik tetapi lebih-lebih lagi mengubah perilaku untuk tidak melakukan yang terlarang dan yang mungkar? Sebutlah Aqidah dan ibadah mahdhah dan rukun Islam yang lain, semuanya sudah tercantum di dalam kitab-kitab putih atau kuning mengenai Ushuluddin (Tauhid), Syari’ah, Fikih, Tasawuf dan seterusnya.
Tiap-tiapnya ada pemikiran terdalam yang disebut dengan filsafat (hikmah) aqidah dan syari’ah-nya. Semuanya mengacu kepada konsep transformasi perubahan perilaku dari yang tercela kepada yang terpuji untuk setiap individu, kolegial dan komunal. Soalnya, siapa yang menatalaksanakan konsep itu dalam pentadbiran (manajemen) kehidupan?
Di sini barangkali ada sedikit perbedaan cara pandang antara CM dan CS. Kalau CM memandang beban itu terletak pada pundak umara dan ulama. Pada pikiran CS, beban itu harus dipikul bersama oleh setiap orang dan komponen serta unsur, alias tanggung jawab kolektif, sejak dari rumah tangga sampai ke ruangan publik. Tentu ulama dan zu’ama (cendekiawan) berada dan mengemban posisi dan fungsi strategis.
Keduanya sudah (relatif) dan diharapkan menjadi lokomotif, penggerak utama. CS sependapat dengan CM, sebagai transformator, umara dan ulama berada pada garis depan. Kalau umara’ menjadi mesin penggerak, maka ulama selayaknya menjadi dinamo atau aki yang merangsang mesin itu terus menerus. Tetapi perlu direnungkan bahwa kedua komponen itu tidak berarti apa-apa tanpa komponen-komponen lainnya.
Di dalam transformasi Islam ini, bisa jadi kita harus mengkaji ulang tentang Islam ini. Sebelumnya kita kita sudah terlanjur mempunyai Islam “yang masing-masing”. Betapa, kadang-kadang kita berharap orang lain berbudaya dan berperadaban Islam seperti apa yang kita pikirkan, sementara pikiran dan akal itu merupakan anugerah paling berharga dari Allah SWT.
Termasuk dalam manifestasinya pada kehidupan masing-masing diri, keluarga, komunitas dan seterusnya. Soalnya sekarang, ada di antara kita yang bekerja terus menerus di segmen praktis seperti guru, dosen, pedagang, wartawan, pemerintah, dan kelompok profesional yang terlanjur tidak menoleh ke kanan dan kiri. Ada di antara kita yang menganggap Islam yang kita pikirkan kita praktikkan, itulah yang paling benar. Sementara yang orang lain pikirkan dan praktikkan adalah salah. Artinya, masing-masing kita harus mentranformasi Islam dalam dirinya, budayanya dan peradabannya, termasuk CS. Islam yang rahmatan lil alamin. ***

Thursday, November 26, 2009

Multiply wins Disney iParenting Award

Link

Diposting oleh Shofwan Karim di 1:01 PM 0 komentar Link ke posting ini

Older Posts

Subscribe to: Posts (Atom)

About Me

My Photo

Shofwan Karim
The Time For Innovation: Ilmu amaliah, amal ilmiyah

View my complete profile

New Mexico

New Mexico
International Visitor Leadership Program Participant of 17 Countries Asia, Africa, Latin America and East Eroupe.

Canada World Youth

Canada World Youth
Indonesia Canada World Youth Exchange Program participant, Group Leader and Country Co-ordinator Orientastion Camp at Brag Creek Camp, out site of Calgary, September 1980

Powered By Blogger

Link List

Bendera kita terkoyak

Bendera kita terkoyak
Hasil Jepretan Wartawan Padang Ekspres

Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau Mesir

H. Agus Firdaus Chandra, Lc.
H. Fardi Rahman, Lc.
H. Andrizal Chandra, Lc.
H. Afrinaldi, Lc.
H. Abrar Agung, Lc.
H. Hasnul Yakin, Lc.
H. M. Husni, Lc.
H. Rony Hidayat, Lc.
H. Joni Efendi, Lc.
H. Kilal Syauqi, Lc.
H. Saiful Efendi, Lc.
H. Adrizal, Lc.
H. Abdussalam, Lc.
H. Al Mudarris, Lc.
H. Arwansyah, Lc.
H. Abu Bakar, Lc.
Malik Akbar

Idul Adhha, 1983

Idul Adhha, 1983
My family: Im, Iqbal, Opim

Kairo, Mesir Juli 2004

Kairo, Mesir Juli 2004
Seminar KMM, Isyu Aktual Islam dan Minangkabau

Saskatoon, Saskatcewan, CN

Saskatoon, Saskatcewan, CN
winter Season, Canada 1982

Blog Archive

Links

Followers

International Visitor Leadership Program of US Gov

Diskusi dengan Pakar Islam dari Maroko dan Amerika Implementasi Demokrasi Indonesia Bergeser

Selasa, 29 Juli 2008

Penerapan demokrasi di Indonesia lebih maju dibanding dengan negara-negara anggota ASEAN lainnya. Meski begitu, penerapan sistem demokrasi di negeri ini bertolak belakang dari prinsip-prinsip dasarnya. Sebab, esensi dari demokrasi adalah mengutamakan kepentingan rakyat banyak, bukan mengedepankan kepentingan kelompok atau golongan.

Demikian benang merah yang terangkum dari diskusi pakar studi Islam dari Universitas Adelphy New York Prof  Abdin Chande, pakar politik dari Maroko Prof Dr Said Kh El Hassan, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar Dr Shofwan Karim Elha MA dengan awak redaksi Padang Ekspres, di Carano Room, kemarin.

Sebelumnya, mereka tampil pada seminar international yang digelar di IAIN Imam Bonjol Padang dengan tajuk “International Seminar on Al Quds History and Demography in Islamic Perspective”. Hadir dalam diskusi tersebut, Pemimpin Umum Padang Ekspres H St Zaili Asril, dan jajarannya. Prof Abdin Chande menyatakan, penerapan demokrasi di Indonesia cenderung lebih mengutamakan keberadaan parpol.

Ini didasarkan pada kemunculan sejumlah parpol yang amat banyak, terlebih menjelang pesta demokrasi. Abdin yang juga sumando rang Sianok, Bukittinggi ini menilai, saat ini aplikasi sistem demokrasi di Indonesia bisa dikatakan berbeda bila dibandingkan beberapa dekade, atau tepatnya di era kepemimpinan Soeharto.

“Demokrasi saat itu bisa dikatakan berjalan baik. Setiap pelosok kampung yang saya datangi di Indonesia, ternyata telah ada kemajuan. Penduduk sudah mampu hidup mapan, dibuktikan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan sampai ke pelosok mereka bisa menikmati televisi yang disambungkan dengan parabola. Demikian pula dengan kondisi jalannya yang sudah banyak diaspal,” ujarnya seraya menyatakan bahwa saat ini muncul semacam harapan untuk kembali ke sistem pemerintahan di era Soeharto.

“Seperti inilah nilai harfiah dari sebuah demokrasi. Kepentingan atau kemakmuran rakyat lebih utama dibandingkan kepentingan golongan atau kelompok. Dengan makmurnya rakyat, maka negara akan kuat,” tukasnya lagi. Abdin mengakui, untuk negara asalnya di Uganda yang memegang azas demokrasi, ternyata tidak seberhasil Indonesia. Demokrasi dijalankan hanya sebatas golongan tertentu saja. “Hal inilah yang sering menjadi permasalahan bagi warga negara asalnya tersebut,” sambung Abdin lagi.

Me-resume tema diskusinya di IAIN bertajuk “Islam and Democracy

Shofwan Karim’s Family – Islam dan Demokrasi

Lecture at Universitas Muhammadiyah, West Sumatra

Main Article: Indonesia Tour, Summer 2008


July 8th, 2008

Today Bapak Waleed was invited to lecture at Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), in the heart of Padang City. The Rector of the University, Shofwan Karim, being inspired by Bapak Waleed’s vision and efforts in maintaining, revitalizing, and spreading the culture of the Minangkabau people of West Sumatra, Indonesia, invited him to the University in order to inspire the students there to reconnect with the beauties found within their own culture. After lunch in the VIP room of Sederhana Restaurant with Shofwan Karim and with members of the press, Singgalang, and Padang Expres, the next stop was the main campus of the University.

ISFA Indonesia Tour – Lecture at Universitas Muhammadiyah

Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian

Antara

Antara – Selasa, 19 Januari

 Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian

Padang (ANTARA) – Cendekiawan muslim Sumbar, Dr.Shofwan Karim, mengatakan, pemberian gelar pahlawan bagi mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) perlu pengkajian.

"Butuh proses, dan mari dipelajari lagi. Harus dilihat dulu aturan, sebelum menetapkannya," kata Shofwan di Padang, Senin.

Mantan Ketua PW Muhammadiyah Sumbar itu mengatakan, banyak sekali orang yang sudah berjasa di negeri ini yang belum dianugerahi gelar. Di Sumbar, ada Tan Malaka, M Asa`ad, dan tokoh-tokoh lainnya.

Karena itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar itu mengingatkan, pemberian gelar pahlawan memerlukan kajian akademik, sosial budaya, sejarah dan peraturan.

Secara akademik, kata dia, yang dikatakan pahlawan itu adalah orang berjasa dalam suatu bangsa, dalam masa perjuangan kemerdekaan.

"Belum ada gelar pahlawan diberikan pada orang yang berjasa setelah kemerdekaan," kata dia.

Sekarang, kata dia, Gus Dur dianggap berjasa besar dalam memberikan porsi yang berimbang kepada seluruh elemen bangsa baik mayoritas maupun minoritas.

Gelar Pahlawan Bagi Gus Dur Perlu Pengkajian – Yahoo! Indonesia News

 

Wednesday, June 28, 2006

Mohammad Natsir (1908-1993)

 Mohammad Natsir (1908-1993)
Oleh Shofwan Karim

Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang kebablasan. Berkali-kali dia menyelamatkan Republik dari ancaman perpecahan. Ia lah yang pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogya dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Sukarno Hatta. Dia jugalah kemudian yang berhasil melunakkan tokoh Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950, terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya. Natsir juga seorang tokoh pendidik, pembela rakyat kecil dan negarawan terkemuka di Indonesia pada abad kedua puluh. Kemudian ketika kegiatan politiknya dihambat oleh penguasa, dia berjuang melalui dakwah dengan membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dimana dia berkiprah sampai akhir hayatnya membangun masyarakat di kota-kota dan pedalaman terpencil.
Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Solok pada tanggal 17 Juli 1908. Kedua orang tuanya berasal dari Maninjau. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah pegawai pemerintah dan pernah menjadi Asisten Demang di Bonjol. Natsir adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Dia kemudian diangkat menjadi penghulu atau kepala suku Piliang dengan gelar Datuk Sinaro Panjang di Pasar Maninjau.
Natsir pada mulanya sekolah di Sekolah Dasar pemerintah di Maninjau, kemudian HIS pemerintah di Solok, HIS Adabiyah di Padang, HIS Solok dan kembali HIS pemerintah di Padang. Natsir kemudian meneruskan studinya di Mulo Padang, seterusnya AMS A 2 (SMA jurusan Sastra Barat) di Bandung. Walaupun akan mendapatkan beasiswa seperti di Mulo dan AMS untuk belajar di Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam, dia tidak melanjutkan studinya dan lebih tertarik pada perjuangan Islam.
Pendidikan agama mulanya diperoleh dari orang tuanya, kemudian ia masuk Madrasah Diniyah di Solok pada sore hari dan belajar mengaji Al Qur’an pada malam hari di surau. Pengetahuan agamanya bertambah dalam di Bandung ketika dia berguru kepada ustaz Abbas Hasan, tokoh Persatuan Islam di Bandung. Kepribadian A Hasan dan tokoh-tokoh lainnya yang hidup sederhana, rapi dalam bekerja, alim dan tajam argumentasinya dan berani mengemukakan pendapat tampaknya cukup berpengaruh pada kepribadian Natsir kemudian. Natsir mendalami Islam, bukan hanya mengenai teologi (tauhid), ilmu fiqih (syari’ah), tafsir dan hadis semata, tetapi juga filsafat, sejarah, kebudayaan dan politik Islam. Di samping itu ia juga belajar dari H. Agus Salim, Syekh Ahmad Soorkati, HOS Cokroaminoto dan A.M. Sangaji, tokoh-tokoh Islam terkemuka pada waktu itu, beberapa di antaranya adalah tokoh pembaharu Islam yang mengikuti pemikiran Mohammad Abduh di Mesir. Pengalaman ini semua memperkokoh keyakinan Natsir untuk berjuang dalam menegakkan agama Islam.
Pengalaman organisasinya mulai ketika dia masuk Jong Islamieten Bond (JIB) di Padang. Di Bandung dia menjadi wakil ketua JIB pada 1929-1932, menjadi ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung, dan pada tahun empat puluhan menjadi anggota Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI), cikal bakal partai Islam Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia) yang kemudian dipimpinnya. Ia menjalin hubungan dengan tokoh politik seperti Wiwoho yang terkenal dengan mosinya “Indonesia Berparlemen” kepada pemerintah Belanda, dengan Sukarno, dan tokoh politik Islam lainnya yang kemudian menjadi tokoh Masyumi, seperti Kasman Singodimejo, Yusuf Wibisono dan Mohammad Roem.
Berbeda dengan tokoh pergerakan lainnya, sejak semula Natsir juga bergerak di bidang dakwah untuk membina kader. Pada mulanya ia aktif dalam pendidikan agama di Bandung, kemudian mendirikan lembaga Pendidikan Islam (Pendis) yang mengasuh sekolah dari TK, HIS, Mulo dan Kweekschool yang dipimpinnya 1932-1942. Di samping itu ia rajin menulis artikel di majalah terkemuka, seperti Panji Islam, Al Manar, Pembela Islam dan Pedoman Masyarakat. Dalam tulisannya dia membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.
Kegiatan politik Natsir menonjol sesudah dibukanya kesempatan mendirikan partai politik pada bulan November 1945. Bersama tokoh-tokoh Islam lainnya seperti Sukiman dan Roem, dia mendirikan partai Islam Masyumi, menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Badan Pekerja KNIP. Dalam kabinet Syahrir I dan II (1946-1947) dan dalam kabinet Hatta 1948 Natsir ditujuk sebagai Menteri Penerangan. Sebagai menteri, tanpa rasa rendah diri dia menerima tamunya di kantor menteri dengan pakaian amat sederhana, ditambal, sebagaimana ditulis kemudian oleh Prof. George Kahin, seorang ahli sejarah Indonesia berkebangsaan Amerika yang waktu itu mengunjunginya di Yogya.
Ketika terbentuknya negara RIS sebagai hasil perjanjian KMB pada akhir Desember 1949, Natsir memelopori kembali ke negara kesatuan RI dengan mengajukan Mosi Integral kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950. Bersama dengan Hatta yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri RIS, ide ini tercapai dengan dibentuknya negara kesatuan RI pada 17 Agustus 1950. Mungkin atas jasanya itu, Natsir ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Sukarno, atau juga karena pengaruhnya yang besar, sebagaimana kemudian terlihat dari hasil Pemilu 1955..
Tidaklah mudah menjadi Perdana Menteri dalam keadaan sulit ketika itu. Hampir di semua daerah terdapat perasaan bergalau akibat perang yang menimbulkan rasa ketidak-puasan di mana-mana. Beberapa tokoh yang selama ini berjuang untuk Republik berontak, seperti Kartosuwiryo dan kemudian Kahar Muzakkar. Pengikut RMS dan Andi Azis yang berontak ke pada Hatta masih belum tertangani. MMC (Merapi Merbabu Complex) yang beraliran komunis berontak di Jawa Tengah. Daud Beureuh menolak menggabungkan Aceh ke dalam propinsi Sumatera Utara. Walaupun kemudian Natsir pada bulan Januari 1951 berhasil membujuk Daud Beureuh yang sengaja berkunjung ke Aceh sesudah Assaat dan Syafruddin gagal meyakinkannya, namun Daud Beureuh meninggalkan pemerintahan dan pulang kekampungnya di Pidie. Dengan berat hati Natsir terpaksa membekukan DPR Sumatera Tengah dan mengangkat gubernur Ruslan Mulyoharjo sebagai gubernur. Dalam waktunya yang pendek (September 1950-April 51) Natsir membawa RI dari suasana revolusi ke suasana tertib sipil dan meletakkan dasar politik demokrasi dengan menghadapi bermacam kendala, termasuk perbedaan pendapat dengan Sukarno dan partainya PNI.
Sesudah meletakkan jabatannya di pemerintahan, Natsir aktif dalam perjuangan membangun bangsa melalui partai dan menjadi anggota parlemen. Pada pemilihan umum 1955 Partai Islam Masyumi yang dipimpinnya mendapat suara kedua terbanyak sesudah PNI walaupun memperoleh kursi yang sama dengan PNI. Pada sidang-sidang konstituante antara 1956-1957 dengan gigih dia mempertahankan pendiriannya untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sebelum sidang konstituante ini berhasil menetapkan Anggaran Dasar Negara, Sukarno memaklumkan kembali ke UUD 1945 dan membubarkan parlemen serta konstituante hasil pemilu. Natsir menjadi penantang ide dan politik Sukarno yang gigih dan teguh.
Penantangannya kepada Sukarno terutama karena Sukarno kemudian berubah menjadi pemimpin yang otoriter dan menggenggam kekuasaan di tangannya sendiri dengan bekerjasama dengan Partai Komunis Indonesia dan partai lain yang mau menuruti kemauan Sukarno. Bukan saja Natsir, Hatta pun malah juga terdesak. Hatta meletakkan jabatannya sebagai usaha mengembalikan presiden Sukarno ke jalur yang benar, tapi hal itu malah makin membuat Sukarno leluasa. Natsir makin terjepit karena pengaruh PKI yang anti Islam.
Pergolakan politik akibat perebutan hegemoni Islam dan non Islam yang mencuat secara demokratis di parlemen diikuti pula oleh kekisruhan ekonomi dan politik secara tidak terkontrol di luar parlemen. Hal ini berujung dengan munculnya kegiatan kedaerahan yang berpuncak pada pemberontakan daerah dan PRRI pada tahun 1958. Natsir yang dimusuhi Sukarno bersama Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap melarikan diri dari Jakarta dan ikut terlibat dalam gerakan itu. Karena itu partai Masyumi dan PSI Syahrir dipaksa membubarkan diri oleh Sukarno.
Ketika PRRI berakhir dengan pemberian amnesti, Natsir bersama tokoh lainnya kembali, namun kemudian ia dikarantina di Batu, Jawa Timur (1960-62), kemudian di Rumah Tahanan Militer Jakarta sampai dibebaskan oleh pemerintahan Suharto tahun 1966. Ia dibebaskan tanpa pengadilan dan satu tuduhanpun kepadanya.
Walaupun tidak lagi dipakai secara formal, Natsir tetap mempunyai pengaruh dan menyumbang bagi kepentingan bangsa, misalnya ikut membantu pemulihan hubungan Indonesia dengan Malaysia. Melalui hubungan baiknya, Natsir menulis surat pribadi kepada Perdana Menteri Malaysia Tungku Abdul Rahman guna mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia yang kemudian segera terwujud.
Karena tidak mungkin lagi terjun ke politik, Natsir mengalihkan kegiatannya, berdakwah melalui perbuatan nyata dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Pada tahun 1967 dia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal. Lembaga ini dengan Natsir sebagai tokoh sentral, aktif berdakwah bukan saja kepada masyarakat dan para mahasiswa di Jakarta dan kota lainnya, tapi juga di daerah terasing, membantu pendirian rumah sakit Islam dan pembangunan mesjid, dan mengirim mahasiswa tugas belajar mendalami Islam di Timur Tengah. Bahkan di antara mahasiswa ini kemudian menjadi tokoh nasional yang religius seperti Amien Rais Yusril Ihza Mahendra, dan Nurchalis Majid, di antara beberapa tokoh penggerak orde reformasi yang mengganti orde Suharto. Kegiatan dakwahnya ini telah menyebabkan hubungannya dengan masyarakat luas tetap terpelihara, hidup terus sebagai pemimpin informal. Kegiatan ini juga membawa Natsir menjadi tokoh Islam terkenal di dunia internasional dengan menjadi Wakil Presiden Kongres Islam se dunia (Muktamar Alam Islami) yang berkedudukan di Karachi (1967)dan anggota Rabithah Alam Islami (1969) dan anggota pendiri Dewan Masjid se Dunia (1976) yang berkedudukan di Mekkah. Di samping bantuan para simpatisannya di dalam negeri, badan-badan dunia ini kemudian banyak membantu gerakan amal DDII, termasuk pembangunan Rumah Sakit Islam di beberapa tempat di Indonesia. Pada tahun 1987 Natsir menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Center for Islamic Studies, London.
. Namun kebebasannya hilang kembali karena ia ikut terlibat dalam kelompok petisi 50 yang mengeritik Suharto pada tahun 1980. Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir aktif mengendalikan kegiatan dakwah di kantor Dewan Dakwah Salemba Jakarta yang sekalian berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta terus menerus menerima tamu mengenai kegiatan Islam.
Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam.
Pada tanggal 7 Februari 1993 Natsir meninggal dunia di Jakarta dan dikuburkan di TPU Karet, Tanah Abang. Ucapan belasungkawa datang tidak saja dari simpatisannya di dalam negeri yang sebagian ikut mengantar jenazahnya ke pembaringan terakhir, tapi juga dari luar negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Jepang, Takeo Fukuda yang mengirim surat duka kepada keluarga almarhum dan bangsa Indonesia
Walaupun telah tiada, buah karya dan pemikirannya dapat dibaca dari puluhan tulisannya yang sudah beredar, mulai dari bidang politik, agama dan sosial, di samping lembaga-lembaga amal yang didirikannya. Perkawinannya dengan Nur Nahar, aktifis JIB pada tahun 1934 di Bandung telah memberinya enam orang anak.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ahmad Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, (Bandung : Mizan, 1993)
Ajib Rosidi, M. Natsir, Sebuah Biografi, (Jakarta : Girimukti Pasaka, 1990)
Anwar Harjono, et-al., Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1996)
Lukman Harun, "Hari-Hari Terakhir PDRI" dalam Endang Saifuddin Anshari dan Amin Rais, Pak Natsir 80 Tahun, Pandangan dan Penilaian Generasi Muda, (Jakarta : Media Dakwah, 1988)
Mohammad Natsir, “Politik Melalui Jalur Dakwah” dalam Memoar Senarai Kiprah Sejarah,(Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1993)
Mohammad Natsir, Pendidikan, Pengorbanan, Kepemimpinan, Primordialisme dan Nostalgia, (Jakarta : Media Dakwah, 1987)
Tohir Luth, M.Natsir, Dakwah dan pemikirannya, (Jakarta: Gema Insani, 1999)
Yusril Ihza Mahendra, Modernisme Islam dan Demokrasi, Pandangan Politik M.Natsir dalam Islamika No.3, 1994
Yusuf Abdullah Puar, Mohammad Natsir 70 tahun, (Jakarta: Pustaka Antara, 1978)

Posted by Shofwan Karim at 10:22 AM

2 comments:

Fami Fachrudin said…

Bang Shofwan, mohon ijin tulisan tentang Natsir saya posting di blog saya. Sbg pengagum pak Natsir, saya perlu mengkoleksi artikel tentang beliau. Terimakasih sebelumnya.

10:05 AM

Shofwan Karim said…

Alhamdulillah dan saya bersyukur kalau dipajangkan di Blognya tentang Moh Natsir. Memang itu antara lain tujuan saya untuk terus memberikan info tentang tokoh Ummat, salah satu di antaranya Bapak Moh. Matsir. Salam, Shofwan Karin

2:26 PM

Post a Comment

Links to this post
Mohammad Natsir (1908-1993)
Oleh: Shofwan Karim Mohammad Natsir adalah seorang tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI, yang sekarang menjadi pembicaraan hangat karena melemahnya rasa kesatuan bangsa sebagai akibat reformasi yang
Posted byFami Fachrudin at10:03 AM

Peace: Mohammad Natsir (1908-1993)

Surat Shofwan Karim dari London (1):
Menjadi Mahasiswa Terjun Bebas
Bak Sepasang Merpati
Sahabatku H. Darlis, Zaili, Hasril dan Eko. Hari Senin 26/7 kami berangkat dari
Bandara Lama Internasional Kairo. Bandara ini khusus basis penerbangan Egypt Air.
Penerbangan lain dari berbagai perusahan seluruh dunia terletak pada Bandara Baru.
Kami berangkat ke London dengan MS 777 pukul 14.05 waktu Kairo. Kami sampai di
Terminal Heathrow London seyogyanya menurut tulisan di tiket adalah pk. 17.05 waktu
setempat.
Penerbangan ditempuh 4 jam 55 menit. Akan tetapi, menurut Eddy Pratomo, SH,
MA, Deputy Chief of Mission, atau wakil Duta Besar RI di London, kami terlambat. Ia
telah berada di airport menjemput kami sesuai jadwal. Tetapi pesawat kami terlambat 45
menit.
Meskipun kami sudah di London, tetapi pikiran saya masih di Kairo. Ada tiga hal
lain tentang Kairo yang akan saya ceritakan. Pertama soal suka-duka mahasiswa
Indonesia umumnya dan khususnya Minang di Mesir. Kedua tentang Pimpinan Cabang
Istimewa Muhammadiyah, Kairo, Mesir.
Dan ketiga apa yang saya lihat dan pikirkan ketika kami diajak oleh Pengurus
KMM mengunjungi kota Wisata Alexandria atau Iskandariyah, pantai Utara Mesir pada
Ahad, 25/7 sehari sebelum ke London. Dengan demikian, apa yang menjadi agenda,
kami lakukan serta kami pikirkan di London, khususnya dan Inggris umumnya, akan saya
tunda pada surat berikutnya.
Seorang Mahasiswa menceritakan kepada saya. Dan ini dibenarkan oleh salah
seorang staf di KBRI, ketika saya pamitan dan diterima oleh Kuasa Usaha At Interim S.
Permadi. Seperti telah disebutkan Dubes Prof Dr. Bachtiar Aly sedang ke Indonesia.
Sekarang cerita yang pertama dulu.
Kedatangan mahsiswa Indonesia belajar di Kairo melalui tiga cara. Pertama
melalui testing Departemen agama RI. Dulu itu dilakukan di pusat. Sejak dua tahun
terakhir sudah di IAIN yang ditunjuk di beberapa daerah, termasuk di IAIN Imam
Banojol Padang.
Ini biasanya, kalau lulus tahun ini, maka tahun depan sudah berangkat di Kairo
dan langsung dapat bea-siswa dan jelas universitas yang dituju, misalnya al-Azhar. Tetapi
jangan lupa pula, Universitas Al-Azhar tidak hanya ada di Kairo tetapi juga di bebrapa
provinsi Mesir di luar ibukota ini.
Mahasiswa Indonesia, bahkan dari KMM pun ada yang kuliah di luar Kairo itu.
Oh, ya perlu saya jelaskan agak detil. Bea siswa dari al-Azhar atau dari lembaga atau
perorangan manapun hanya untuk kuliah agama di beberapa universitas dan institut di
Mesir. Di luar bidang studi agama, kecil sekali kemungkinannya mendapat beasiswa
tersebut.
Model kedua adalah dengan terjun pakai “parasut”. Ini istilah itu mereka yang
tidak melalui testing Depag RI, tetapi melalui upaya perorangan. Di antraranya berkat
jasa alumni dari berbagai pesantren dan Madarasah Aliyah di Indonesia.
Para senior ini menelusuri kemampuan dan minat dari adik-adik mereka. Lalu
mereka yang mampu dan berminat sangat tinggi diminta mengirimkan copy ijazah, akta
kelahiran dan passport yang sudah dilegalisir. Semua copyian yang telah dilegalisir ini
sampai di Kairo diurus oleh senior untuk mendapatkan pengantar khusus dari KBRI di
sini. Kemudian barulah dinegosiasi ke jurusan, fakultas dan Universitas yang dituju.
Biasanya kalau berjalan lancara, maka masing-masing calon sudah kmendapat
surat penermaan langsung. Dengan begitu maka calon mahasiswa segera mengurus visa
mahasiswa di Kedutaan Mesir di Jakarta. Hanya, mereka harus membiayai sendiri
kedatangannya ke Mesir dengan tikt pulang-pergi yang open.
Di antara mereka ada yang langsung kuliah pada tahun itu juga. Jadi tidak perlu
menunggu tahun depan. Tergantung kecepatan pengurusan dan kalender tahun akademik
baru yang bakal diikuti. Bagi mereka yang beruntung, langsung bahkan dapat beasiswa.
Bagi yang tidak harus rela menanggung dulu bea hidup sendiri. Biasanya keadaan itu
hanya berlangsung satu semster atau paling lama satu tahun. Berikutnya beasiswa sudah
tersedia.
Ketiga ada istilah terjun “bebas”. Ini berlaku untuk anak-anak muda yang nekat,
berani dan siap tanggung resiko. Saya tidak akan sebutkan sumbernya. Tetapi si Fulan,
misalnya, sukses melakukan itu. Sekarang dia kuliah dengan baik dan berprestasi baik
dan mendapat beasiswa sama dengan yang proses normal lainnya.
Si Fulan sebut saja begitu datang ke Mesir dengan visa turis. Tinggal di hotel 2
sampai 3 hari, kemudian menghilang dan mencari tempat himpunan kekeluargaan
mahasiswa yang ada di sini. Seperti telah disinggung pada surat sebelumnya, ada 16
kekeluargaan di sini. Kemudian ada lagi 4 organisasi lintas ethnis dan daerah di
Indonesia. Misalnya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, Pimpinan Cabang
Istimewa Nahdhatul Ulama, Keluarga Persatuan Islam (Persis), dan PPMI sendiri.
Semua kekeluargaan mahasiswa dan organisasi itu mempunyai sekretariat dan
tempat berkumpul resmi. Sekitar seribuan orang warga Inndonesia non-mahasiswa yang
sudah bermukim lama dengan berbagai profesi di sini, juga tempat berlindung sementara
mereka. Belakangan setelah diproses, seperti yang terjun “parasut” tadi, mereka akan
menjadi mahasiswa legal.
Bea-siswa yang mereka adalah sama akhirnya. Baik yang resmi, baik yang
“parasut” maupun terjun bebas tanpa parasut. Jumlahnya untuk yang tinggal di asrama
adalah 90 (sembilan puluh) pounds Mesir. Untuk yang non-asrama162(seratus enam
puluh dua) pounds Mesir. Kira-kira setara dengan 27 dan 15 dollar AS . Atau kalau
dirupiahkan langsung dari pounds Mesir setara 1500 rupiah, jadinya antara 243 ribu dan
135 ribu rupiah.
Untuk yang tinggal di asrama, mereka semua difasilitasi gratis termasuk makan
siang. Untuk mereka yang tinggal di luar, tentu saja bersama-sama kos dengan beberapa
teman di satu kamar tentu agak mengencangkan ikat pinggang. Tetapi, sekedar bertahan
untuk hidup, masih bisa. Karena beras satu kilo hanya 1 pound atau seribu lima ratus
rupiah. Bandingkan lain, satu jam pakai internet 1 pound atau juga 1500 rupiah.
Bagi yang campin dan cekatan, dan ini umumnya mereka yang terjun bebas,
banyak hal bisa dilakukan untuk tambah belanja. Suka duka mereka bervariasi. Ada yang
menjadi pembantu di toko. Ada yang jadi sopir dan ada yang menjadi penjaga dan
pelayan warung internet. Apalagi sejak akhir Juni sampai September nanti mereka libur
panjang musim panas. Yang paling enteng kerjanya adalah menjadi perantara untuk
bermacam keperluan orang . Sejak dari tiket pesawat sampai ke alat alat elektonik hingga
keperluan rumah tangga . Modalnya hanysa satu : telepon genggam atau HP.
Kalau ingin lebih hemat dan banyak suka rianya, adalagi. Dan ini juga berlaku
bagi mereka yang suka suka nekat dalam bentuk lain. Mulai kuliah, langsung cari
pasangan dan menikah. Tinggal bersama dan biya digabung berdua dan masak sendiri
pula lagi. Bahkan tak jarang, yang nekat begini lebih tinggi prestasinya . Mungkin karena
lebih konsentarasi dan bahagia. Kami bertemu dengan satu pasangan mahasiswamahasiswi
seperti ini. Mereka tampak cerah. Bak sepasang merpati yang terbang dan
pulang ke rumahnya yang damai dan belajar berdua-dua.***.

Surat Shofwan Karim dari London1

Older Posts »