Feeds:
Posts
Comments

Pirmida Berimbang

Rabu, 24 Agustus 2011
Piramida Berimbang
H. SHOFWAN KARIM

IBARAT samudera luas tak bertepi, begitu pula dalam memahami Alquran. Tak salah kalau ada yang berpendapat, makna sentral Ramadhan sebenarnya terletak pada turunnya wahyu pertama, Alquran.

Memahami Quran, lebih indah dan nyaman dimulai dari hal yang kelihatan kecil dan sederhana, seterusnya menuju ke kehidupan seluruh makhluk dan manusia yang luas serta jagat raya sistem universal dan semesta alam.

Pada QS 2: 3-5 ada 5 ajaran pokok Islam. Tiga pertama ajaran bersifat teori motivasi, yaitu (1) beriman kepada Allah, (2) beriman kepada kitab wahyu-Nya, (3) beriman kepada hari akhirat. Dua yang lain adalah ajaran aplikasi-praktik, amal-aktual, yaitu (1) mendirikan shalat, dan (2) membelanjakan sebagian dari apa yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Beberapa pendapat mengemukakan, ajaran teori-motivasi yang tiga awal tidak fungsional dalam kehidupan, kalau dua ajaran praktikum belakangan tadi tidak secara simultan dilaksanakan.
Maka secara konsisten Alquran mengulang pada banyak ayat dalam surat surat lainnya menggesa kita utuk mendirikan shalat dan bayarkan zakat.

Ada 59 ayat tentang shalat dan sebagian besar diiringi dengan menunaikan zakat. Ayat-ayat zakat pun jumlahnya cukup banyak.

Pemberian sesuatu kepada orang lain berifat materil, sejumlah uang atau dana selalu disebut (1) infak, artinya membelanjakan harta, (2) zakat, artinya pertumbuhan dan pensucian, (3) sedekah berasal dari kata sidq atau kebenaran, kita sebut sedekah, (4) ihsan, artinya berbuat baik.
Islam membuat konsepsi tentang dana secara luas. Dengan sejumlah uang dapat berbuat baik kepada sesama manusia. Di antaranya memerdekakan budak (QS,90:13, 2:177). Memberi makan kepada fakir-miskin (64:34, 90:11-16, 107:1-3). Memelihara anak yatim (17:34, 76:8, 90:15, 93:9, 107:2).

Selain itu Alquran menyatakan betapa pentingnya perbuatan bermurah hati dalam hal yang sederhana dan kecil-kecil. Itulah sebabnya orang yang enggan berbuat ma’un (107:7) yang artinya sedekah kecil, oleh Alquran disindir sebagai orang yang melalaikan ruh shalat.
Namun senada dengan itu, orang yang berkata sopan, lemah lembut dan menyenangkan dengan penuh keramahan, dinyatakan pula sebagai sedekah (2:83, 4:8). Sekaligus itulah makna ihsan atau berbuat baik, meski kecil-kecil.

Di dalam hadist diperhalus lagi. Menyingkirkan apa saja yang menggangu jalan umum atau lalu lintas, itu dianggap sedekah (Bukhari, 53:11). Bahkan ada hadist yang menyentuh bahwa setiap matahari terbit dan menyinari badan manusia, itu adalah menerima sedekah.

Begitu pula berbuat adil sesama manusia juga disebut sedekah (Bukhari, 53:11). Membantu orang naik dan menaikkan barangnya ke kuda atau unta adalah sedekah. Ucapan ramah dan sopan adalah sedekah. Tiap langkah untuk tunaikan shalat adalah sedekah. Menunjukkan arah atau jalan kepada orang lain juga sedekah (Bukhari, 56:72, 128). Oleh Imam Ahmad (II: 9), bahkan mengucapkan salam, menyuruh orang berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar juga sedekah.
Semua hadist Rasulluah yang mengisyaratkan semua perbuatan baik dan benar kepada diri, keluarga, orang lain atau masyarakat dan komunitas bangsa serta ummat secara amat luas, maka itu semua adalah sedekah. Dengan begitu, Ramadhan yang dipahami sebagai salah satu pilar pokok agama Islam, memberi peluang amat luas untuk kita layari samudera tak bertepi ini dengan nyaman, tenteram dan tawadhuk.

Akan tetapi karena Islam merupakan suatu sistem yang rapi, maka dengan rujukan Alquran dan sunnah Rasulullah, sedekah itu dibagi dua. Sedekah sunat dan sedekah wajib. Yang sunnah adalah seperti yang telah diuraikan di atas tadi.

Tetapi yang wajib, itulah yang kita sebut sebagai zakat dengan ukuran dan kurun waktu serta jumlah nominal tertentu. Yang kedua adalah fitrah (zakat-fithrah) yang dikeluarkan setiap manusia yang bernyawa sebagai kewajiban pribadi atau orang yang menjadi walinya. Itupun ada kondisinya. Ada tenggat waktu, yaitu antara awal Ramadhan sampai akhir Ramadhan sebelum shalat pagi hari raya Idul Fitri 1 Syawal tahun yang berjalan.

Bila di luar Ramadhan, maka hal itu jatuh kepada kategori sedekah biasa. Kelihatanlah, dari panorama tadi keterkaitan kompak dan padu antara shalat, zakat dan puasa Ramadhan bagaikan piramida tiga siku yang berimbang dan harmonis.
Wa Allah al-’alam bi al-shawab. (*)

[ Kembali ]

Sabtu, 27 Agustus 2011
Kesalehan Sosial dan Personal
shofwan karim

http://hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=8112

Berpuasa dari sebelum terbit fajar sampai terbenam matahari dengan segala ibadah-ritualistik mengiringinya, bolehlah disebut sebagai manifestasi kesalehan personal.

Akan tetapi melipat-gandakan sedekah, infak dan membayar zakat-fitrah sebelum menunaikan shalat sunnat muakkad Idul Fitri 1 Syawal, agaknya pantas disebut sebagai aktualisasi kesalehan sosial.

Bahkan beberapa hadist mengisyaratkan, kesalehan personal dengan puasa itu semata-mata, belum akan sampai pahalanya kepada Allah, kalau zakat-fitrah belum ditunaikan.

Sebagai diketahui zakat-fitrah (pembersih-jiwa-pribadi) hanyalah salah satu saja dari kewajiban pribadi untuk kepentingan publik. Tetapi kewajiban pribadi ini memberikan cemeti kepada rohani, jiwa dan pikiran kepada setiap orang untuk membuka tangan dan mengulurkan kepeduliannya kepada yang memerlukan
Begitu strategisnya zakat-fitrah , bahkan wajib bagi siapa saja yang memiliki kelebihan pangan pada hari raya untuk diri dan keluarganya. Termasuk orang tua dan anak-anak yang tidak punya penghasilan dibayarkan oleh orang yang bertanggung jawab dalam keluarga itu.

Di luar zakat-fitrah ada zakat mal (harta), uang, perdagangan, perusahaan, ternak, hasil tani, barang tambang, hasil bumi dan seterusnya yang merupakan hasil usaha yang baik-baik . (QS,2:267) .Potensi yang kedua ini luar biasa besarnya. Beberapa pernyataan mengatakan, potensi zakat di Indonesia sekitar 217 triliyun. Dalam lingkup kecil, Kota Padang, dari PNS saja ada potensi 5 Milyar perbulan atau 60 Milyar pertahun. Tentu saja untuk Sumbar angka itu akan lebih besar lagi, meskipun belum ada data yang akurat.

Betapa besarnya potensi, penting dan strategisnya zakat, wakaf, infak dan sadaqah untuk meningkatkan kesejahteraan, sudah menjadi pengatahuan umum. Bahkan begitu bersemangatnya, ada yang berpendapat, bahwa potensi itu dapat menjadi pilar penunjang APBN untuk tingkat nasional dan APBD untuk daerah. Lebih jauh, banyak yang berpendapat dan menggebu-gebu mengatakan bahwa potensi kekayaan publik atau baitul mal umat Islam ini, amatlah strategis untuk mengatasi kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan ummat dan bangsa.

Karena itu wajar dan amat tepat inisiatif pemerintah yang telah membuat regulasi dan aturan pokok serta undang-undang tentang sumber daya capital dan modal publik ummat ini.

Lebih satu dekade lalu, sudah lahir UU tentang Pengelolaan Zakat No. 38 tahun 1999. Keputusan Dirjen BIMAS Islam dan Urusan Haji Nomor D / 291 Tahun 2000 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Zakat.

Keputusan Menteri Agama Nomor 373 Tahun 2003 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat. Keputusan Menteri Agama Nomor 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat.

Bila zakat merupakan kewajiban umat Islam yang mampu, sesuai dengan ketentuan dasarnya menurut kaidah fikih, maka ada lagi sumber lain kekayaan publik muslim yang cukup potensial dan amat besar pula, yaitu wakaf.

Dalam makna umum, wakaf itu merupakan sedekah jariah yang dianjurkan di dalam fikih (hukumIslam) . Bahkan ulama di Indonesia, menekankan kepada model baru wakaf yang kini disebut sebagai wakaf uang tunai.

Pemerintah merespon secara apresiatif dengan membuat undang-undang dan aturan khusus untuk wakaf ini. Di antaranya Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004. Peraturan Menteri Agama Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Administrasi Pendaftaran Wakaf Uang

Soalnya sekarang, sejauhmana undang-undang, peraturan, keputusan kementerian dan aspek yuridis formal itu menjadi operasional dan optimal, menghimpun kekayaan publik ummat itu ? Inilah paradigma yang terus menerus mesti digerakkan dimonitor, dievaluasi dan disempurnakan.

Lembaga-lembaga seperti BAZNAS, BAZDA, LAZ, LAZISMUH, UZIS, Dompet Dhuafa, PKPU dan seterusnya, semuanya merupakan mesin pengerak utama. Lembaga-lembaga ini secara hakiki bersifat NGO atau LSM, tetapi bergerak berdasar hukum formal, undang-undang dan aturan baku.

Di balik itu semua, respons publik-ummat, amatlah tergantung seberapa luas, intensif sosialisasi dan dinamisasi gerakan zakat dan wakaf ini. Suatu keniscayaan yang mesti berkelanjutan. Allah al-a’lam bi al-shabwab.
(***)

[ Kembali ]

International Visitor Leadership Program of USA Goverrment
on Grassroots Democracy ,  31 April-25 Mei 2005 (3)
Mencontoh ke Masa Lalu, Masihkah Relevan?
Oleh Shofwan Karim
        Tiba-tiba saja seorang ibu di sebelah saya buka pembicaraan.  Memang menegangkan, tetapi menyenangkan, katanya.  Tampaknya ia mau mengatakan sesuatu lebih banyak tetapi tiba-tiba ada pengumuman dari krew pesawat yang akan menerbangkan kami dari San Francisco ke Minneapolis, kota transit sebelum meneruskan ketibaan di tujuan sebenarnya bagi saya , Washington, DC, ibukota negara yang mengambil nama bapak Amerika George Washington ini.
        Kami minta maaf , karena pesawat kelebihan berat, maka diminta dengan sukarela 12 penumpang untuk pindah ke penerbangan berikutnya. Untuk  mereka yang menerima tawaran ini, disediakan tunjangan khusus harga yang sangat murah potongan harga 80 %  terbang ke Mexiko dan Kanada. Berkali-kali uncapan maaf dan kurang menyenangkan disebut oleh NWA. Belakangan, ketika pesawat terlambat sampai di Minneapolis, kami semua juga diberikan diskon $ 35 untuk setiap pembayaran $ 200 bila terbang lagi dengan NWA kali berikutnya. Ini tampaknya sebagai konpensasi delay penerbangan kami yang hampir 1 jam itu.
        Apa maksud anda, kata saya melihat kekiri. Ya, sudahlah pemeriksaan darat sebelum terbang yang ketat, lalu pesawat di delay, namun ada penggantian yang wajar. Rupanya itu hanya sebagai pembuka kata saja bagi sang ibu umur 55 tahun Desember besok. Nenek seorang cucu yang mengaku telah 22 tahun menjadi perawat tak henti bicara. Maaf, katanya, saya kebiasaan ingin bicara karena begitu diajarkan dan saya praktikkan dalam tugas terhadap pasien-pasien, katanya. Pengakuan yang jujur ini menyentak kesadaran saya. Kalau di negeriku, perawat hanya perpanjangan tangan dokter. Karena itu bila dokter tidak meminta bicara dengan pasien, maka perawat kita irit bicara. Padahal bicara yang baik, tentu bukan dengan muka masam, adalah obat penenang sebelum obat sebenarnya diminum, ditelan atau di usapkan ke tubuh.
        Bukan diskusi itu yang menarik pikiran saya tetapi soal terbang. Rupanya di mana pun soal penundaan keberangkatan dan ketibaan pesawat terbang terjadi di mana-mana . Tahun lalu dari London ke Mesir  penerbangan kami di delay 1 jam karena hujan lebat sehingga tak bias terbang. Tetapi tidak ada penggantian atau pelipur lara. Mungkin karena itu kasusnya berbeda atau kah karena maskapai penerbangannya yang lain sama sekali.
        Penerbangan domistik di negeri kita juga sering mengalami penundaan-penundaan. Tetapi hanya diminta kepada penumpang kesabaran. Syukur kalau masih dimumumkan, kadang-kadang tidak ada sama sekali info, kecuali penumpang tanya ke sana kemari. Budaya bisnis, ataukah etika bisnis ? Ini persoalan nilai instrumental ataukah soal filosofis fundamental masyarakat yang sedang dalam kemajuan atau sedang berusaha untuk  maju?
        Banyak amat yang perlu ditelusuri, kalau kita benar-benar mau berubah ke arah yang lebih maju, modern dan setara dengan bangsa-bangsa lain yang kini sedang di puncak peradaban. Atau kita tidak usah melihat ke mereka yang di Barat ini. Baik juga kalau menolah ke masa jaya peradaban  Islam  periode tahun 800-1000 M Daulat Abbasiyah. Maambiak contoh ka nan sudah mancaliak tuah ka nan manang. (Mengambil contoh ke yang sudah dan megambil tuah kepada yang menang).   Pada lebih kurang 10-11 abad lalu  dunia Barat dalam kegelapan, dunia Islam dalam kemajuan. Zaman ilmu pengetahuan berada di tangan umat Islam. Pergulatan ilmu kalam atau sekarang disebut teologi telah meletakkan kerangka  teori akidah . Debat, diskusi, tulisan dan fatwa syari’at dalam wacana dan aksara telah meletakkan teori fikih  empat mazhab utama yang sampai hari ini terus menjadi ikutan. Ilmu yang sekarang disebut sekuler baik sains murni maupun terapan, sosial, hukum, teknologi dan filsafat sampai ke puncaknya di dunia Islam. Sekarang dunia barat telah mengambil untung sebesar-besarnya setelah kekalahan Dinasti Abbasiyah di jantung dunia waktu itu, Baghdad.
        Ah, jangan lagi kita menjadi penganut romantisisme. Merindukan masa lalu sebagai sesuatu yang hebat tetapi tidak berbuat apa-apa. Itu namanya mengkhayal ataukah takhayul modern ?. Tetapi sebagai melecut semangat dan tanda syukur bahwa di satu zaman yang panjang jauh di masa lalu, pernah kemauan Tuhan bertemu dengan kemauan manusia yang berikhtiar dan mengenjot akal pikiran dan keringat dengan amat kerasnya. Sehingga di situ telah berlaku nilai-nilai takdir yang optimal dalam hidup bukan menyerah kepada nasib tanpa otak, keringat dan usaha yang optimal. Sesuatu yang perlu menjadi pilihan di antara pilihan filosofis, idealis dan praktis- pragmatis. ***              
shofwan.
©2011 Google

Berkurban untuk Kemaslahatan Ummat
Oleh DR. H. Shofwan Karim Elha, MA
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله اكبر ولله الحمد الله اكبر
الله اكبر ، كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة واصيلا، لااله إلا الله اكبر، الله اكبر ولله الحمد. اشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له ، صدق وعده ونصرعبده ، واعزجنده وهزم الاحزاب وحده واشهد ان محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجامنيرا، واعلموا ان الله صلى على نبيه قديما ،فياايهاالذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما ،اَللًّهُمَّ صلى على محمد وعلى اله وصحبه اجمعين . اما بعد,فياعبادالله اوصيكم واياي بتقوالله وحضر الجمع والجماعة .
اعوذ باالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الر حيم،
وَمَنْ يُعَظِّم شَعَاءِرِاللهِ فَااِنّهَاَ مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah;
Allahu Akbar wa lillahi al-hamd .
A.MUKADDIMAH.
Di pagi hari tanggal 10 Zulhijaj 1432 H yang berkah ini, kita merupakan bagian dari seluruh umat Islam di permukaan bumi, merayakan Idul Adha, Idul Qurban, Yaumun Nahar.
Kemarin, 9 Zulhijah, sekitar 2 juta umat Islam yang beruntung tahun ini berhaji, menunaikan ibadah pokoknya, wukuf di Padang Arafah. Sementara kita yang tidak berhaji dalam waktu yang sama disunatkan berpuasa Arafah.
Semua mereka yang wukuf di Arafah berpakaian ihram warna seragam putih . Mnedekatkan diri dan bermunajat kepada Allah Inilah lambang keesaan Allah, ketauhidan dan aqidah yang paling sempurna, serta kesetaraan derajat manusia di sisi Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Tidak ada keistimewaan antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya. Tidak ada perbedaan antara satu golongan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang satu dengan lainnya, kecuali takwa kepada Allah.

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS Al-Hujaraat (49):13
Allahu Akbar walillahil hamd.
Marilah kita merenung sejenak di dalam waktu yang amat dimuliakan hari raya kedua tahun ini, setelah 2 bulan 10 hari yang lalu, idul fithri, kini kita merayakan Idul Adhha. Kita tundukkan kepala sejenak mengenang sejarah masa lalu; teladan kepatuhan Nabi Ibrahim dan keluarganya Siti Hajar dan Ismail AS, serta apa yang menjadi makna filofis-ideal dan empirik-pragmatis dari ibadah hajji dan qurban, pada khutbah shalat Idul Adha 2 rakaat yang sebentar tadi kita tunaikan.

B.FLASHBACK SEJARAH IBRAHIM ALAIHISSALAM (AS).
Rasullah, Nabi Ibrahim AS disebut ulul azmi atau memiliki kebesaran dan keistimewaan. Menurut beberapa sumber, ia lahir pada tahun 2160 SM. (lebih kurang 4271 th lalu) di suatu negeri bernama Ur (Oor) 230 mil di Barat Kota Baghdad di sebelah Utara kota Harran, kota yang terletak di Batas Syria, Turki dan Irak sekarang. Wilayah itu pada 4000 th lalu disebut Kaledonia atau Babylonia.
Ayah Ibrahim AS adalah Azar “Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar …” (QS. Al-An’am : 74). Oleh Ibnu Katsir mengutip Ahlul Kitab dan ahli sejarah disebut Ibrahim bin Tarikh (Tarih) bin Nahur bin Sarugh bin Ra’u bin Faligh bin Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS
Menurut al Hafidz Ibnu Asakir dalam kitabnya at-Tarikh disebutkan bahwa Ibu Ibrahim bernama Amilah. Sedang menurut al-Kalbiy nama ibu ibrahim adalah Buna binti Karbina bin Kartsi yang berasal dari bani Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS.Saudara Ibrahim AS ada 2 orang, yaitu Nahur dan Harran. Harran adalah ayah dari Nabi Luth.
Ibrahim beristeri Siti Sara yang belum punya anak. Keduanya bersafari ke Mesir menemui seorang raja yang berasal dari daerah kelahirannya. Di sana dia dihadiahi seorang putri raja tadi, yang elok bernama Siti Hajar untuk menjadi isteri pendampingnya bersama Siti Sara. Siti Hajir hamil dan menimbukan kecemburuan Siti Sara yang belum punya anak.
Alikisah, Siti Sara meminta Ibrahim mengasingkan perempuan madunya yang hamil itu ke tempat yang jauh. Dari ngeerinya Kan’an, pergilah Ibrahim mengantarkan Siti Hajar ke tempat yang jauh sekali. Mereka berdua dengan janin di kandungan isterinya, sampailah ke wilayah tandus satu titik yang kini telah ketahui adalah Mekkah.
Di situlah Siti Hajar melahirkan Ismail AS. Dengan segala suka dukanya, Siti Hajar berlari antara dua bukit kecil yang kemudian kita sebut, safa dan marwa, untuk mencari air supaya dengan minum, maka air susunya dapat mengalir memberikan minum kepada bayinya.
Dengan tidak berputus asa, penuh keuletan, Hajar tidak menyerah. Walaupun ia tahu, ini adalah gurun pasir tandus. Tiba-tiba Allah menerbitkan mata air yang kita kenal sekarang Zam-zam. Sepeti yang sudah kita ketahui itulah sejarah awal kota Mekkah yang disitu ka’bah dibangun ulang oleh Ibrahim, dan konon fondasinya masih ada setelah jauh sebelumnya dibangun oleh Nabi Adam AS. Seperti terangkan al-Quran, inilah rumah ibadah pertama dibangun untuk manusia.
I. IBRAHIM AS PELETAK FONDASI AGAMA YANG HANIF
Ibrahim AS telah meletakkan agama yang hanif, dan rumah Allah yang pertama di kota Mekkah dan kota ini diberkahi Allah, petunjuk bagi seluruh alam dan yang masuk ke dalamya akan tenteram dan aman (QS, Ali-Imran/3:95,96,97)

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;

Ibrahim peletak fondasi Tauhid. Bintang, bulan dan matahari bukanlah Tuhan. Berhala dan patung-patung bukanlkah Tuhan. Semuanya akan lenyap yang tetap abadi hanya Allah swt, yang Maha Satu, Penguasa semesta Alam.
Dimusnahkannya berhala dan patung-patung. Atas tindakan itu raja Namrud murka dan marah besar. Ia dilemparkan ke dalam api yang menyala besar. Peristiwa ini dapat kita tafsirkan sebagai Ibrahim dikorbankan oleh manusia karena tidak mengubah perinsipnya . Tiba-tiba Allah menyelamatkannya , api itu menjadi dingin dan tidak membakar.

II.KETUNDUKAN DAN KEPATUHAN KEPADA ALLAH SWT.
Ibadah kurban Inspirasi ibadah ini, merupakan repleksi peristiwa bersejarah ribuan tahun silam. Ibrahim AS, isterinya Siti Hajar, putranya Ismail AS. Ketika itu Nabi Ibrahim as, memenuhi perintah Allah untuk menyembelih anak yang dicintai dan disayanginya, Nabi Ismail as. Tanpa sanggahan dan protes, hal itu dilaksanakannya dengan suka rela, penuh ketaqwaan,

Nabi Ibrahim AS. Menghadapi ujian maha berat. Anaknya semata wayang yang amat disayangi harus disembelih dengan tanggannya sendiri. Maka dengan kekokohan iman, penuh ketulusan dan ikhlasan, taat dan patuh akan perintah Allah swt Nabi Ibrahim AS , akhirnya tanpa pikir lagi ia mengambil keputusan untuk melaksanakan perintah menyembelih putra tercintanya Ismail. Ini merupakan ketundukan dan kepatuhan seorang ayah dan anaknya kepada Allah swt tanpa “reserve” tak bersyarat.

Prosa dan prosesi sejarah panggilan Ibrahim AS kepada putranya diabadikan di dalam Al Quran Surat Ash Shaafaat (37) ayat 102,

“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim , Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirlah apa pendapatmu?” “ Ia menjawab:” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “

Ibrahim Peletak dasar musyawarah. Dia menanyakan kepada Anaknya Ismail AS sebelum melaksanakan perintah Allah untuk mengurbakannya. Kurban atau udhiyah itu hanyalah ujian Allah kepada Ibrahim As dan putranya Ismail AS. Karena keduanya ikhlas dan taat atas dasar ketaqwan kepada Allah swt, maka korban itu digantikan dengan seekor qibasy atau domba.

Jauh sebelum itu, Ibrahim mampu menanamkan nilai Tauhid itu kepada isterinya Siti Hajar. Wanita yang kokoh dan tidak pernah putus asa, tergambar dg lari2 kecil antar safa dan marwa untuk mendapatkan air. Injilah wanita yang gigih, berkorban, ulet dan sungguh tidak pernah putus asa. Akhirnya Allah menerbitkan mata air Zam-zam.
D. Ismail adalah representasi generasi muda yg ikhlas kepada Allah dan secara rasional mematuhi Allah dan percaya kepada ayahnya Ibrahim sehingga rela utuk dikorbankan memenuhi perintah Allah tadi.
III. TOTALITAS KETAQWAAN KEPADA ALLAH SWT.
Kekuasaan Allah Yang Maha Besar, tiba-tiba mengubah keadaan, penyembelihan itu diganti dengan seekor kibas atau domba. Inilah peristiwa yang kemudian menjadi simbol bagi umat Islam sebagai wujud ketaqwaan seorang manusia mentaati perintah Allah swt. Totalitas ketaqwaan Nabi Ibrahim kepada Allah swt adalah wujud pengorbanan yang sempurna kepada Yang Maha Pencipta yang diimaninya sebagai sebuah keyakinan tanpa batas dan tanpa pengecualian.
Allah swt berfirman dalam Qur’an Surat 12 ayat 111,’

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah;
Allahu Akbar wa lillahi al-hamd .
IV. BUKAN DAGING DAN DARAHNYA TETAPI KETAQWAAN
Di dalam limbo sejarah umat manusia, korban diperuntukkan untuk sang dewa. Bagi penduduk Mesir Kuno, sampai Islam masuk ke negeri itu, untuk menghindari banjir yang meluap setiap tahun tanpa ampun melenyapkan sumber kehidupan, maka mereka mengorbankan seorag gadis tercantik ke dalam sungai Nil. Tradisi itu yang diubah Umar bin Khattab melalui Gubernurnya di Mesir Amr bin Ash, sebagai ganti gadis cantik yang akan dikorbankan diganti dengan sepucuk surat yang isinya meminta kepada Allah swt supaya sungai Nil tidak murka lagi dan surat berupa doa itu dimasukkan ke dalam suangai Nil tadi.
Pada beberapa kelompok penganut kepercayaan dan agama tertentu serta pada beberapa sistem ritual animisme, dinamisme dan kalangan primitif, korban merupakan sesajian . Sebaliknya bagi kita umat Islam, daging korban secara materi bukan sesajian atau makanan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Itu semuanya hanya perlambang, seperti pernyataan Quran:

QS.22: 037. Daging-daging ternak dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
V. BERHAJI DAN BERKURBAN MENJALANKAN SYARIAT
Berhaji dan berkurban, dengan demikian merupakan realisasi kesadaran kita dari lubuk hati yang paling dalam untuk melaksanakan syariat perintah Allah swt seperti yang dinukilkan di dalam al-Quran dan sunnah Rasulllah dalam menjalankan agama. Al-Qur’an mendeklarasikan (QS, 22:27-28) :

Dan (Deklarasikan atau proklamasikanlah) berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
Melaksanakan hajji, dikatakan Rasulullah, merupakan pilar ke-4 dari 5 tiang pokok bangunan bangunan Islam:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ :
شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ
.[رواه الترمذي ومسلم ]

Islam itu dibangun di atas 5 hal: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah, menunaikan shalat, membayarkan zakat, naik hajji ke baitul haram, dan puasa di bulan Ramadhan . ( HR. Al-Tarmizi dan Muslim)

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS, Ali-Imran/3:97).
VI.KORBAN: IMBALAN TERHADAP RAHMAT ALLAH YANG BANYAK
Al-quran dengan trang-terangan menyebutkan bahwa alangkah banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita manusia. Oleh karena itu kita harus memperbanyak shalat dan senantiasa berkorban.

001. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak.
002. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.
003. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Berkorban dengan seekor unta atau sapi untuk 7 orang, dengan kambing dan qibasy atau domba, untuk 1 orang.

QS.22:036. Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.
Sejalan dengan itu, maka korban sebagai lambang berbentuk ibadah, adalah amat dalam hikmah dan makna filosofisnya.
VII. KURBAN UNTUK KEMASLAHATAN UMMAT.
Kurban (Qurban)? Diambil dari kata qaruba, yaqrabu, qurbanan. Artinya dekat, hampir, karib-kerabat, tak ada jarak dalam kecintaan yang dalam. Di dalam syariat, yang kita maksud qurban adalah menyembelih ternak dengan niat khusus pada hari raya ini dan hari tasyrik sebagai lambang ketaqwaan kita Allah swt. Namun sejalan dengan itu, kurban mempunyai makna filosofis bagi kepedulian kepada sesama. Kecintaan kita kepada kaum yang tidak berpunya, kepada golongan yang lemah ekonominya, kemampuan sosial, budaya dan politiknya. Mereka serba berkekurangan.
Korban, dengan begitu berarti memupuk jiwa kedermawanan. Suka memberi tanpa pamrih dan balas jasa. Di dalam masyarakat Barat disebut Philanthropy. Kata ini berasal dari Philos dan Antropos. Artinya cinta kepada kemanusiaan. Kata lain disebut Charity atau kemurahan dan kedermawanan.
Hal ini merupakan kontinuitas atau tindak lanjut dari apa yang sudah kita tunaikan pada Idul Fitri yang lalu yaitu zakat fithrah. Artinya Korban merupakan bentuk solidaritas sosial untukj kebaikan ummat atau kemaslahatan ummat.
Lebih jauh, jiwa suka berkorban, suka memberi, atau budaya philantrhropy dan charity itu, sekarang menjadi trend setter atau model bagi para pemilik kekayaan dunia. Mereka memberikan sebagian besar dari kekayaannya. Hal itu bukan basa basi, tetapi merupakan panggilan terdalam dari jiwanya untuk memberikan sesuatu untuk kemanusiaan, untuk lingkungan hidup, untuk pengembangan riset ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendidik anak-anak muda berbakat mendalami bidang ilmu tertentu. Untuk membiayai riset-riset tentang penyakit tertentu dan mencari obatnya.
Budaya korban inilah agaknya yang sudah menjadi basis pada lembaga commercial dunia, multi national cooperatian dan company internatioanl, menyisihkan keuntungannya untuk berkorban bagi kepontingan umum, kemaslahatan ummat yang disebut Corporate Social Responsibility (CSR, tanggungjawab sosial perusahan). Di tingkat internasinal dikenal misalnya Qatar Charity Foundation, berpusat di Qatar negeri Teluk Persia, yang bergerak di bidang kemanusiaan dan upaya mengatasi kemiskinan. Ada Asian Muslim Charity Foundatioan, yang berpusat di Dhubai, Emirate Arab bergerak di bidang pendidikan dan upaya mencerdaskan dan dakwah. Di Amerika ada Bill & Melinda Gates Foundation yang punya semboyan All lives have equal values yang bergerak di berbagai bidang, sejak dari memberantas penyakit menular, memberdayakan orang miskin sampai ke penelitian ilmu dan teknologi.
Di tingkat nasional, semua BUMN diwajibkan untuk menyalurkan philantropy dan charitynya dalam wujud CSR tadi. Salah satu di antaran PT Semen Padang . Bahkan PT SP di samping CSR dalam bentuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) berasal dari dana perusahaan yang setiap tahun memberikan bantuan pendidikanm, sosial dan bina lingkungan serta upaya mengentaskan kemiskinan. Fokusnya dalah ring 1, 2 dan 3 di sekitar pabrik baru ke pada yang lain. Selain itu ada lagi dana yang dikumpulkan dari semua charity dan philantropy karyawannya yang kita sebut sebagai BAZIS Semen Padang yang digunakan untuk dakwah, pembinaan muballigh daerah terisolir, dan bantuan kesejahteran dan permberdayaan masyarakat dan ummat.

Itu semua dimulai dari budaya korban. Menjadi darah daging bagi orang yang melakukannya. Pada mulanya mungkin terasa sebagai kewajiban dan imbalan atas keberhasilan tetapi setelah dia menjadi prilaku jiwa dan proses internalisasi dalam setiap diri, maka jiwa suka berkorban menjadi tuntutan hati nurani dan kesenangan hidup. Maka dengan begitu pengrobanan diri, keluarga dan kelompok kita untuk kepentingan yang lebih besar kemaslahatan ummat dan bangsa menjadi kebutuhan dan kesenangan kita, baik secara perorangan maupun bersama-sama.
C. KHULASHAH WA KHATIMAH.
1.Ibrahim peletak fondasi Tauhid. Bintang, bulan dan matahari yg semula dianggap penguasa Alam sebagai Tuhan kemudian lenyap, maka Allah yang wujud, senantiasa ada dan tidak pernah lenyap, itulah Allah, Tuhan Rabbul alamin, seru sekalian alam.
2. Ibrahim memusnahkan berhala dan patung-patung. Atas tindakan itu raja Namrud murka dan marah besar. Ia dilemparkan ke dalam api yang menyala besar. Peristiwa ini dapat kita tafsirkan sebagai Ibrahim dikorbankan oleh manusia karena tidak mengubah perinsipnya yang bertentangan dengan kemauan penguasa yang zalim. Ibrahim berjihad menegakkan aqidah yang benar. Tiba-tiba Allah menyelamatkannya, api itu menjadi dingin dan tidak membakar.
3. Ibrahim Peletak dasar musyawarah. Dia menanyakan kepada Anaknya Ismail AS sebelum melaksanakan perintah Allah untuk mengurbakannya.
4. Kurban atau udhiyah itu hanyalah ujian Allah kepada Ibrahim As dan putranya Ismail AS. Karena keduanya ikhlas dan taat atas dasar ketaqwan kepada Allah swt, maka korban itu digantikan dengan seekor qibasy atau domba.
5. Siti Hijir, wanita yg kokoh dan tidak pernah putus asa, tergambar dg lari2 kecil antar safa dan marwa untuk mendapatkan air. Inilah wanita yang gigih, berkorban, ulet dan sungguh tidak pernah putus asa. Akhirnya Allah menerbitkan mata air Zam-zam.
6. Ismail adalah representasi generasi muda yg ikhlas kepada Allah dan secara rasional mematuhi Allah dan percaya kepada ayahnya Ibrahim sehingga rela utuk dikorbankan memenuhi perintah Allah tadi.
7. Ibrahim AS adalah sumber tiga agama Yahudi melalui Musa AS, Nashrani melalui Isa AS dan Islam melalui Muhammad saw yang merupakan keturunan Ismail AS.
8. Berkorban di zaman modern sekarang ini, kiranya dapat disegarkan ulang filosofinya menjadi upaya terus menerus dan kesadaran internal umat Islam, baik sebagai pribadi perorangan, keluarga, komunitas, masyarakat. Pada semua starata kehidupan dan kelembagaan. Maka itu, CSR, lembaga Philanthropy, Charity, kedermawanan dan jiwa kepemurahan harus dipupuk dan dikembangkjan terus menerus.
9. Untuk menunjukkan penghormatan dan keistimewaan paling tinggi oleh umat Islam kepada Ibrahim AS, maka atas petunjuk Rasulullah Muhammad saw., setiap bershalawat kepada Nabi selalu diiringi dengan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim AS dan keluarganya.

“Allahumma shalli ala Muhammad wa ala alihi Muhammad, kama shallaita ala Ibrahim wa ala ali ibrahim; wa barik ala Muhammad wa ala ali Muhammad, kama barakta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.”

Akhirnya, berhajji dan berkurban, serta semua ibadah kita kepada Allah swt merupakan wujud keimanan kita yang kokoh menghunjam ke dasar kehidupan kita. Bila keimanan dan kataqwaan yang hakiki dapat kita binna terus menerus, maka insya Allah kita semua akan merasa tenteram , aman dan sentosa pintu kebeerkahan akan dibukakan Allah dari langit dan dari bumi . Allah berfirman , QS. Al-A’raf, 96 :

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Camkanlah, fa’tabiru ya ulil abshar, la’allakum turhammun.
Akhirnya marilah kita tutup khutbah ini dengan berdo’a :
Alhaamdulillahirabbil alamin, hamdan yuwafi nia^mahu wa yuka^fi mazidah, rabbana walakal hamdu kama yanbaghi li jalali wajhikal kari^mi wa azhi^mi sultha^nik;
“Wahai Allah, kami bermohon kepadamu, hidup yang sebaik-baiknya, dan kematian yang sebaik2nya, serta segala yang baik yang berada diantara hidup dan mati. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam kehidupan orang-orang yang bahagia, kehidupan orang-orang yang Engkau senangi agar dia tetap hidup, dan wafatkanlah dalam wafat orang-orang yang syahid (orang-orang yang Engkau sukai untuk bertemu dengannya).
Ya Allah, ampunilah orang-orang yang meninggal dan yang masih hidup, anak-anak kecil, orang-orang dewasa, baik yang perempuan maupun yang laki-laki”.
 

Rabbanagh fir lana zunubana waliwa^di^na warhamhum kama rabbauna shigha^ra; Allhumma nasaluka ridh^ka wal jannah, wa na’uzubika minsakha^tika wanna^r; allhumma nasaluka ‘ilman nafi’an, warizqan wasi’an, wasyifaan min kullli da^in wasaqa^min birahmatika ya arhamarra^himi^n. Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqna ittiba^ah, wa arinal ba^thilan ba^thila warzuqna ijtina^bah.

رَبَّنَاتَقَبَّلْ مِنَّا دُعَأنَا وَ صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيْعَ عِبَادَاتِنَا اِنَّكَ اَنْتَ الّسمِيْعُ الّعَلِيِمُ . رَبَّنَا اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًايُّنَادِى لِللإيْمَانِ اَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنوْ بَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّأتِنَاوَتَوَفَّنَا مَعََ الآبْرَارِ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلأحْيَاء مِنْهُمْ وَللأمْواَتِ اِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُّجِيْبُ دَعْواَتِ وَ ياقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِىالدُّنْيَا حَسَنَةً وّفِى اْلآخِرَة حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ الّنَارِ. وْالحَمْدُ لله ِ رَب الْعَا لَميْنَْ .
والسّلامُ عَلْيْكُمْ وَرَحْمَةُ الَّلهِ وبَرَنَاتُهْ

Padang, 10 Zulhijah 1432 H -6 November 2011 M

Rujukan:

1. Al-Quran dan Al-Hadist.
2. Abu Ridha, republika.online
3. Quraish Shihab, teks Metro TV .online
4. Ha

Berkurban untuk Kemaslahatan Ummat
Oleh DR. H. Shofwan Karim Elha, MA
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

الله اكبر ولله الحمد الله اكبر
الله اكبر ، كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة واصيلا، لااله إلا الله اكبر، الله اكبر ولله الحمد. اشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له ، صدق وعده ونصرعبده ، واعزجنده وهزم الاحزاب وحده واشهد ان محمدا عبده ورسوله المبعوث رحمة للعالمين بشيرا ونذيرا وداعيا الى الله باذنه وسراجامنيرا، واعلموا ان الله صلى على نبيه قديما ،فياايهاالذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما ،اَللًّهُمَّ صلى على محمد وعلى اله وصحبه اجمعين . اما بعد,فياعبادالله اوصيكم واياي بتقوالله وحضر الجمع والجماعة .
اعوذ باالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الر حيم،
وَمَنْ يُعَظِّم شَعَاءِرِاللهِ فَااِنّهَاَ مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah;
Allahu Akbar wa lillahi al-hamd .
A.MUKADDIMAH.
Di pagi hari tanggal 10 Zulhijaj 1432 H yang berkah ini, kita merupakan bagian dari seluruh umat Islam di permukaan bumi, merayakan Idul Adha, Idul Qurban, Yaumun Nahar.
Kemarin, 9 Zulhijah, sekitar 2 juta umat Islam yang beruntung tahun ini berhaji, menunaikan ibadah pokoknya, wukuf di Padang Arafah. Sementara kita yang tidak berhaji dalam waktu yang sama disunatkan berpuasa Arafah.
Semua mereka yang wukuf di Arafah berpakaian ihram warna seragam putih . Mnedekatkan diri dan bermunajat kepada Allah Inilah lambang keesaan Allah, ketauhidan dan aqidah yang paling sempurna, serta kesetaraan derajat manusia di sisi Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Tidak ada keistimewaan antar satu bangsa dengan bangsa yang lainnya. Tidak ada perbedaan antara satu golongan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang satu dengan lainnya, kecuali takwa kepada Allah.

“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS Al-Hujaraat (49):13
Allahu Akbar walillahil hamd.
Marilah kita merenung sejenak di dalam waktu yang amat dimuliakan hari raya kedua tahun ini, setelah 2 bulan 10 hari yang lalu, idul fithri, kini kita merayakan Idul Adhha. Kita tundukkan kepala sejenak mengenang sejarah masa lalu; teladan kepatuhan Nabi Ibrahim dan keluarganya Siti Hajar dan Ismail AS, serta apa yang menjadi makna filofis-ideal dan empirik-pragmatis dari ibadah hajji dan qurban, pada khutbah shalat Idul Adha 2 rakaat yang sebentar tadi kita tunaikan.

B.FLASHBACK SEJARAH IBRAHIM ALAIHISSALAM (AS).
Rasullah, Nabi Ibrahim AS disebut ulul azmi atau memiliki kebesaran dan keistimewaan. Menurut beberapa sumber, ia lahir pada tahun 2160 SM. (lebih kurang 4271 th lalu) di suatu negeri bernama Ur (Oor) 230 mil di Barat Kota Baghdad di sebelah Utara kota Harran, kota yang terletak di Batas Syria, Turki dan Irak sekarang. Wilayah itu pada 4000 th lalu disebut Kaledonia atau Babylonia.
Ayah Ibrahim AS adalah Azar “Dan ingatlah di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar …” (QS. Al-An’am : 74). Oleh Ibnu Katsir mengutip Ahlul Kitab dan ahli sejarah disebut Ibrahim bin Tarikh (Tarih) bin Nahur bin Sarugh bin Ra’u bin Faligh bin Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS
Menurut al Hafidz Ibnu Asakir dalam kitabnya at-Tarikh disebutkan bahwa Ibu Ibrahim bernama Amilah. Sedang menurut al-Kalbiy nama ibu ibrahim adalah Buna binti Karbina bin Kartsi yang berasal dari bani Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh AS.Saudara Ibrahim AS ada 2 orang, yaitu Nahur dan Harran. Harran adalah ayah dari Nabi Luth.
Ibrahim beristeri Siti Sara yang belum punya anak. Keduanya bersafari ke Mesir menemui seorang raja yang berasal dari daerah kelahirannya. Di sana dia dihadiahi seorang putri raja tadi, yang elok bernama Siti Hajar untuk menjadi isteri pendampingnya bersama Siti Sara. Siti Hajir hamil dan menimbukan kecemburuan Siti Sara yang belum punya anak.
Alikisah, Siti Sara meminta Ibrahim mengasingkan perempuan madunya yang hamil itu ke tempat yang jauh. Dari ngeerinya Kan’an, pergilah Ibrahim mengantarkan Siti Hajar ke tempat yang jauh sekali. Mereka berdua dengan janin di kandungan isterinya, sampailah ke wilayah tandus satu titik yang kini telah ketahui adalah Mekkah.
Di situlah Siti Hajar melahirkan Ismail AS. Dengan segala suka dukanya, Siti Hajar berlari antara dua bukit kecil yang kemudian kita sebut, safa dan marwa, untuk mencari air supaya dengan minum, maka air susunya dapat mengalir memberikan minum kepada bayinya.
Dengan tidak berputus asa, penuh keuletan, Hajar tidak menyerah. Walaupun ia tahu, ini adalah gurun pasir tandus. Tiba-tiba Allah menerbitkan mata air yang kita kenal sekarang Zam-zam. Sepeti yang sudah kita ketahui itulah sejarah awal kota Mekkah yang disitu ka’bah dibangun ulang oleh Ibrahim, dan konon fondasinya masih ada setelah jauh sebelumnya dibangun oleh Nabi Adam AS. Seperti terangkan al-Quran, inilah rumah ibadah pertama dibangun untuk manusia.
I. IBRAHIM AS PELETAK FONDASI AGAMA YANG HANIF
Ibrahim AS telah meletakkan agama yang hanif, dan rumah Allah yang pertama di kota Mekkah dan kota ini diberkahi Allah, petunjuk bagi seluruh alam dan yang masuk ke dalamya akan tenteram dan aman (QS, Ali-Imran/3:95,96,97)

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;

Ibrahim peletak fondasi Tauhid. Bintang, bulan dan matahari bukanlah Tuhan. Berhala dan patung-patung bukanlkah Tuhan. Semuanya akan lenyap yang tetap abadi hanya Allah swt, yang Maha Satu, Penguasa semesta Alam.
Dimusnahkannya berhala dan patung-patung. Atas tindakan itu raja Namrud murka dan marah besar. Ia dilemparkan ke dalam api yang menyala besar. Peristiwa ini dapat kita tafsirkan sebagai Ibrahim dikorbankan oleh manusia karena tidak mengubah perinsipnya . Tiba-tiba Allah menyelamatkannya , api itu menjadi dingin dan tidak membakar.

II.KETUNDUKAN DAN KEPATUHAN KEPADA ALLAH SWT.
Ibadah kurban Inspirasi ibadah ini, merupakan repleksi peristiwa bersejarah ribuan tahun silam. Ibrahim AS, isterinya Siti Hajar, putranya Ismail AS. Ketika itu Nabi Ibrahim as, memenuhi perintah Allah untuk menyembelih anak yang dicintai dan disayanginya, Nabi Ismail as. Tanpa sanggahan dan protes, hal itu dilaksanakannya dengan suka rela, penuh ketaqwaan,

Nabi Ibrahim AS. Menghadapi ujian maha berat. Anaknya semata wayang yang amat disayangi harus disembelih dengan tanggannya sendiri. Maka dengan kekokohan iman, penuh ketulusan dan ikhlasan, taat dan patuh akan perintah Allah swt Nabi Ibrahim AS , akhirnya tanpa pikir lagi ia mengambil keputusan untuk melaksanakan perintah menyembelih putra tercintanya Ismail. Ini merupakan ketundukan dan kepatuhan seorang ayah dan anaknya kepada Allah swt tanpa “reserve” tak bersyarat.

Prosa dan prosesi sejarah panggilan Ibrahim AS kepada putranya diabadikan di dalam Al Quran Surat Ash Shaafaat (37) ayat 102,

“ Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim , Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirlah apa pendapatmu?” “ Ia menjawab:” Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar “

Ibrahim Peletak dasar musyawarah. Dia menanyakan kepada Anaknya Ismail AS sebelum melaksanakan perintah Allah untuk mengurbakannya. Kurban atau udhiyah itu hanyalah ujian Allah kepada Ibrahim As dan putranya Ismail AS. Karena keduanya ikhlas dan taat atas dasar ketaqwan kepada Allah swt, maka korban itu digantikan dengan seekor qibasy atau domba.

Jauh sebelum itu, Ibrahim mampu menanamkan nilai Tauhid itu kepada isterinya Siti Hajar. Wanita yang kokoh dan tidak pernah putus asa, tergambar dg lari2 kecil antar safa dan marwa untuk mendapatkan air. Injilah wanita yang gigih, berkorban, ulet dan sungguh tidak pernah putus asa. Akhirnya Allah menerbitkan mata air Zam-zam.
D. Ismail adalah representasi generasi muda yg ikhlas kepada Allah dan secara rasional mematuhi Allah dan percaya kepada ayahnya Ibrahim sehingga rela utuk dikorbankan memenuhi perintah Allah tadi.
III. TOTALITAS KETAQWAAN KEPADA ALLAH SWT.
Kekuasaan Allah Yang Maha Besar, tiba-tiba mengubah keadaan, penyembelihan itu diganti dengan seekor kibas atau domba. Inilah peristiwa yang kemudian menjadi simbol bagi umat Islam sebagai wujud ketaqwaan seorang manusia mentaati perintah Allah swt. Totalitas ketaqwaan Nabi Ibrahim kepada Allah swt adalah wujud pengorbanan yang sempurna kepada Yang Maha Pencipta yang diimaninya sebagai sebuah keyakinan tanpa batas dan tanpa pengecualian.
Allah swt berfirman dalam Qur’an Surat 12 ayat 111,’

Artinya: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah;
Allahu Akbar wa lillahi al-hamd .
IV. BUKAN DAGING DAN DARAHNYA TETAPI KETAQWAAN
Di dalam limbo sejarah umat manusia, korban diperuntukkan untuk sang dewa. Bagi penduduk Mesir Kuno, sampai Islam masuk ke negeri itu, untuk menghindari banjir yang meluap setiap tahun tanpa ampun melenyapkan sumber kehidupan, maka mereka mengorbankan seorag gadis tercantik ke dalam sungai Nil. Tradisi itu yang diubah Umar bin Khattab melalui Gubernurnya di Mesir Amr bin Ash, sebagai ganti gadis cantik yang akan dikorbankan diganti dengan sepucuk surat yang isinya meminta kepada Allah swt supaya sungai Nil tidak murka lagi dan surat berupa doa itu dimasukkan ke dalam suangai Nil tadi.
Pada beberapa kelompok penganut kepercayaan dan agama tertentu serta pada beberapa sistem ritual animisme, dinamisme dan kalangan primitif, korban merupakan sesajian . Sebaliknya bagi kita umat Islam, daging korban secara materi bukan sesajian atau makanan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Itu semuanya hanya perlambang, seperti pernyataan Quran:

QS.22: 037. Daging-daging ternak dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
V. BERHAJI DAN BERKURBAN MENJALANKAN SYARIAT
Berhaji dan berkurban, dengan demikian merupakan realisasi kesadaran kita dari lubuk hati yang paling dalam untuk melaksanakan syariat perintah Allah swt seperti yang dinukilkan di dalam al-Quran dan sunnah Rasulllah dalam menjalankan agama. Al-Qur’an mendeklarasikan (QS, 22:27-28) :

Dan (Deklarasikan atau proklamasikanlah) berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
Melaksanakan hajji, dikatakan Rasulullah, merupakan pilar ke-4 dari 5 tiang pokok bangunan bangunan Islam:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ :
شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ
وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ
.[رواه الترمذي ومسلم ]

Islam itu dibangun di atas 5 hal: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah, menunaikan shalat, membayarkan zakat, naik hajji ke baitul haram, dan puasa di bulan Ramadhan . ( HR. Al-Tarmizi dan Muslim)

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS, Ali-Imran/3:97).
VI.KORBAN: IMBALAN TERHADAP RAHMAT ALLAH YANG BANYAK
Al-quran dengan trang-terangan menyebutkan bahwa alangkah banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita manusia. Oleh karena itu kita harus memperbanyak shalat dan senantiasa berkorban.

001. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni`mat yang banyak.
002. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.
003. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Berkorban dengan seekor unta atau sapi untuk 7 orang, dengan kambing dan qibasy atau domba, untuk 1 orang.

QS.22:036. Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.
Sejalan dengan itu, maka korban sebagai lambang berbentuk ibadah, adalah amat dalam hikmah dan makna filosofisnya.
VII. KURBAN UNTUK KEMASLAHATAN UMMAT.
Kurban (Qurban)? Diambil dari kata qaruba, yaqrabu, qurbanan. Artinya dekat, hampir, karib-kerabat, tak ada jarak dalam kecintaan yang dalam. Di dalam syariat, yang kita maksud qurban adalah menyembelih ternak dengan niat khusus pada hari raya ini dan hari tasyrik sebagai lambang ketaqwaan kita Allah swt. Namun sejalan dengan itu, kurban mempunyai makna filosofis bagi kepedulian kepada sesama. Kecintaan kita kepada kaum yang tidak berpunya, kepada golongan yang lemah ekonominya, kemampuan sosial, budaya dan politiknya. Mereka serba berkekurangan.
Korban, dengan begitu berarti memupuk jiwa kedermawanan. Suka memberi tanpa pamrih dan balas jasa. Di dalam masyarakat Barat disebut Philanthropy. Kata ini berasal dari Philos dan Antropos. Artinya cinta kepada kemanusiaan. Kata lain disebut Charity atau kemurahan dan kedermawanan.
Hal ini merupakan kontinuitas atau tindak lanjut dari apa yang sudah kita tunaikan pada Idul Fitri yang lalu yaitu zakat fithrah. Artinya Korban merupakan bentuk solidaritas sosial untukj kebaikan ummat atau kemaslahatan ummat.
Lebih jauh, jiwa suka berkorban, suka memberi, atau budaya philantrhropy dan charity itu, sekarang menjadi trend setter atau model bagi para pemilik kekayaan dunia. Mereka memberikan sebagian besar dari kekayaannya. Hal itu bukan basa basi, tetapi merupakan panggilan terdalam dari jiwanya untuk memberikan sesuatu untuk kemanusiaan, untuk lingkungan hidup, untuk pengembangan riset ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendidik anak-anak muda berbakat mendalami bidang ilmu tertentu. Untuk membiayai riset-riset tentang penyakit tertentu dan mencari obatnya.
Budaya korban inilah agaknya yang sudah menjadi basis pada lembaga commercial dunia, multi national cooperatian dan company internatioanl, menyisihkan keuntungannya untuk berkorban bagi kepontingan umum, kemaslahatan ummat yang disebut Corporate Social Responsibility (CSR, tanggungjawab sosial perusahan). Di tingkat internasinal dikenal misalnya Qatar Charity Foundation, berpusat di Qatar negeri Teluk Persia, yang bergerak di bidang kemanusiaan dan upaya mengatasi kemiskinan. Ada Asian Muslim Charity Foundatioan, yang berpusat di Dhubai, Emirate Arab bergerak di bidang pendidikan dan upaya mencerdaskan dan dakwah. Di Amerika ada Bill & Melinda Gates Foundation yang punya semboyan All lives have equal values yang bergerak di berbagai bidang, sejak dari memberantas penyakit menular, memberdayakan orang miskin sampai ke penelitian ilmu dan teknologi.
Di tingkat nasional, semua BUMN diwajibkan untuk menyalurkan philantropy dan charitynya dalam wujud CSR tadi. Salah satu di antaran PT Semen Padang . Bahkan PT SP di samping CSR dalam bentuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) berasal dari dana perusahaan yang setiap tahun memberikan bantuan pendidikanm, sosial dan bina lingkungan serta upaya mengentaskan kemiskinan. Fokusnya dalah ring 1, 2 dan 3 di sekitar pabrik baru ke pada yang lain. Selain itu ada lagi dana yang dikumpulkan dari semua charity dan philantropy karyawannya yang kita sebut sebagai BAZIS Semen Padang yang digunakan untuk dakwah, pembinaan muballigh daerah terisolir, dan bantuan kesejahteran dan permberdayaan masyarakat dan ummat.

Itu semua dimulai dari budaya korban. Menjadi darah daging bagi orang yang melakukannya. Pada mulanya mungkin terasa sebagai kewajiban dan imbalan atas keberhasilan tetapi setelah dia menjadi prilaku jiwa dan proses internalisasi dalam setiap diri, maka jiwa suka berkorban menjadi tuntutan hati nurani dan kesenangan hidup. Maka dengan begitu pengrobanan diri, keluarga dan kelompok kita untuk kepentingan yang lebih besar kemaslahatan ummat dan bangsa menjadi kebutuhan dan kesenangan kita, baik secara perorangan maupun bersama-sama.
C. KHULASHAH WA KHATIMAH.
1.Ibrahim peletak fondasi Tauhid. Bintang, bulan dan matahari yg semula dianggap penguasa Alam sebagai Tuhan kemudian lenyap, maka Allah yang wujud, senantiasa ada dan tidak pernah lenyap, itulah Allah, Tuhan Rabbul alamin, seru sekalian alam.
2. Ibrahim memusnahkan berhala dan patung-patung. Atas tindakan itu raja Namrud murka dan marah besar. Ia dilemparkan ke dalam api yang menyala besar. Peristiwa ini dapat kita tafsirkan sebagai Ibrahim dikorbankan oleh manusia karena tidak mengubah perinsipnya yang bertentangan dengan kemauan penguasa yang zalim. Ibrahim berjihad menegakkan aqidah yang benar. Tiba-tiba Allah menyelamatkannya, api itu menjadi dingin dan tidak membakar.
3. Ibrahim Peletak dasar musyawarah. Dia menanyakan kepada Anaknya Ismail AS sebelum melaksanakan perintah Allah untuk mengurbakannya.
4. Kurban atau udhiyah itu hanyalah ujian Allah kepada Ibrahim As dan putranya Ismail AS. Karena keduanya ikhlas dan taat atas dasar ketaqwan kepada Allah swt, maka korban itu digantikan dengan seekor qibasy atau domba.
5. Siti Hijir, wanita yg kokoh dan tidak pernah putus asa, tergambar dg lari2 kecil antar safa dan marwa untuk mendapatkan air. Inilah wanita yang gigih, berkorban, ulet dan sungguh tidak pernah putus asa. Akhirnya Allah menerbitkan mata air Zam-zam.
6. Ismail adalah representasi generasi muda yg ikhlas kepada Allah dan secara rasional mematuhi Allah dan percaya kepada ayahnya Ibrahim sehingga rela utuk dikorbankan memenuhi perintah Allah tadi.
7. Ibrahim AS adalah sumber tiga agama Yahudi melalui Musa AS, Nashrani melalui Isa AS dan Islam melalui Muhammad saw yang merupakan keturunan Ismail AS.
8. Berkorban di zaman modern sekarang ini, kiranya dapat disegarkan ulang filosofinya menjadi upaya terus menerus dan kesadaran internal umat Islam, baik sebagai pribadi perorangan, keluarga, komunitas, masyarakat. Pada semua starata kehidupan dan kelembagaan. Maka itu, CSR, lembaga Philanthropy, Charity, kedermawanan dan jiwa kepemurahan harus dipupuk dan dikembangkjan terus menerus.
9. Untuk menunjukkan penghormatan dan keistimewaan paling tinggi oleh umat Islam kepada Ibrahim AS, maka atas petunjuk Rasulullah Muhammad saw., setiap bershalawat kepada Nabi selalu diiringi dengan shalawat dan keberkahan kepada Ibrahim AS dan keluarganya.

“Allahumma shalli ala Muhammad wa ala alihi Muhammad, kama shallaita ala Ibrahim wa ala ali ibrahim; wa barik ala Muhammad wa ala ali Muhammad, kama barakta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.”

Akhirnya, berhajji dan berkurban, serta semua ibadah kita kepada Allah swt merupakan wujud keimanan kita yang kokoh menghunjam ke dasar kehidupan kita. Bila keimanan dan kataqwaan yang hakiki dapat kita binna terus menerus, maka insya Allah kita semua akan merasa tenteram , aman dan sentosa pintu kebeerkahan akan dibukakan Allah dari langit dan dari bumi . Allah berfirman , QS. Al-A’raf, 96 :

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Camkanlah, fa’tabiru ya ulil abshar, la’allakum turhammun.
Akhirnya marilah kita tutup khutbah ini dengan berdo’a :
Alhaamdulillahirabbil alamin, hamdan yuwafi nia^mahu wa yuka^fi mazidah, rabbana walakal hamdu kama yanbaghi li jalali wajhikal kari^mi wa azhi^mi sultha^nik;
“Wahai Allah, kami bermohon kepadamu, hidup yang sebaik-baiknya, dan kematian yang sebaik2nya, serta segala yang baik yang berada diantara hidup dan mati. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam kehidupan orang-orang yang bahagia, kehidupan orang-orang yang Engkau senangi agar dia tetap hidup, dan wafatkanlah dalam wafat orang-orang yang syahid (orang-orang yang Engkau sukai untuk bertemu dengannya).
Ya Allah, ampunilah orang-orang yang meninggal dan yang masih hidup, anak-anak kecil, orang-orang dewasa, baik yang perempuan maupun yang laki-laki”.
 

Rabbanagh fir lana zunubana waliwa^di^na warhamhum kama rabbauna shigha^ra; Allhumma nasaluka ridh^ka wal jannah, wa na’uzubika minsakha^tika wanna^r; allhumma nasaluka ‘ilman nafi’an, warizqan wasi’an, wasyifaan min kullli da^in wasaqa^min birahmatika ya arhamarra^himi^n. Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqna ittiba^ah, wa arinal ba^thilan ba^thila warzuqna ijtina^bah.

رَبَّنَاتَقَبَّلْ مِنَّا دُعَأنَا وَ صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيْعَ عِبَادَاتِنَا اِنَّكَ اَنْتَ الّسمِيْعُ الّعَلِيِمُ . رَبَّنَا اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًايُّنَادِى لِللإيْمَانِ اَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْلَنَا ذُنوْ بَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّأتِنَاوَتَوَفَّنَا مَعََ الآبْرَارِ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلأحْيَاء مِنْهُمْ وَللأمْواَتِ اِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُّجِيْبُ دَعْواَتِ وَ ياقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِىالدُّنْيَا حَسَنَةً وّفِى اْلآخِرَة حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ الّنَارِ. وْالحَمْدُ لله ِ رَب الْعَا لَميْنَْ .
والسّلامُ عَلْيْكُمْ وَرَحْمَةُ الَّلهِ وبَرَنَاتُهْ

Padang, 10 Zulhijah 1432 H -6 November 2011 M

Rujukan:

1. Al-Quran dan Al-Hadist.
2. Abu Ridha, republika.online
3. Quraish Shihab, teks Metro TV .online
4. Habib Siddiqui, article : IC0401-2197. islamicity.com
5. Shofwan Karim, Naskah Khurbah Idul Addha, Sawahlunto, 1424 H
6. Shofwan Karim, Naskah Khutbah Idul Adha Padang, 1425 H.
7.. Shofwan Karim, Naskah Khutbah Idul Adhha, Lubuk Sikaping, 2009
8. Shofwan Karim, Nashkah Khutbah Idul Adhha, Payakumbuh, 2010
9. http://www.qcharityid.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=29
10. http://www.gatesfoundation.org/Pages/home.aspx

 
bib Siddiqui, article : IC0401-2197. islamicity.com
5. Shofwan Karim, Naskah Khurbah Idul Addha, Sawahlunto, 1424 H
6. Shofwan Karim, Naskah Khutbah Idul Adha Padang, 1425 H.
7.. Shofwan Karim, Naskah Khutbah Idul Adhha, Lubuk Sikaping, 2009
8. Shofwan Karim, Nashkah Khutbah Idul Adhha, Payakumbuh, 2010
9. http://www.qcharityid.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=29
10. http://www.gatesfoundation.org/Pages/home.aspx

 

Shofwan Karim: Masuklah dari berbagai pintu utk mencapai kebaikan dan ridha Nya.  Original Facebook Status: http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=811708432&v=wall&story_fbid=10150204457868433  Sent via TweetDeck (www.tweetdeck.com)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1794

Kamis, 11 November 2010
 
Kehadiran Obama Memang ‘Menyihir’
Shofwan Karim

JAKARTA – Barack Hussein Obama disambut tepuk tangan gemuruh oleh sekitar 2.000 undangan di auditorium utama Universitas Indonesia (ui) Depok, Rabu (10/11) sekitar pukul 09.30 WIB.
Saya begitu dekat dengannya, namun tak bisa disentuh. Pengawalan begitu ketat dan Obama berjalan ringan. Para tokoh yang memenuhi auditorium UI, terkesima.
Dan, mana pula ada presiden asing mau berbahasa Indonesia. Yang satu ini beda. Ia seolah menyeret sejarah ke pentas yang gilang gemilang di Rabu kemarin. Kata-kata selamat pagi, assalamualaikum, bakso, sate, miso, Hotel Indonesia, Sarinah, pulang kampung nih, fasih diucapkan Obama.
Ia mengenang masa kecilnya, tapi ia — itulah sayangnya—tak datang ke SDnya dulu. Namun di UI kemarin, Obama telah menjawab banyak hal.
Muncul dari back-drop berjejer bendera Amerika-Indonesia di tiang-tiang pendek, diapit Merah Putih lebar di kiri-kanan pentas utama, dengan cerianya Barack “Berry” Obama senyum lebar sambil melambaikan tangan dan langsung ke podium tempat ia menyampaikan pidato sekitar 40 menit yang ‘menyihir’ para hadirin.
Di lantai dasar di hadapan pentas podium Obama seluas sekitar 20 kali 30 meter, dibatasi dua ruangan sebatas bahu duduk di kursi.
Bagian paling depan pada ruangan itu, duduk para alumni Amerika. Mereka yang baru pulang sekolah dari Amerika dan bebera alumni senior serta sahabat-sabahabat masyarakat Amerika di Indonesia.
Ruangan kedua, tempat saya duduk sederet dengan mantan Presiden Habibie, Mendiknas M. Nuh, di hadapan deretan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, bersama berbagai kalangan dan unsur masyarakat Indonesia, merupakan tokoh masyarakat Indonesia di situ saya duduk bersebelahan dengan pendiri Pusat Kajian Amerika, Pia Alisyahbana, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar,mantan Menteri Ekonomi beberapa kabinet Suharto, Emil Salim, Menteri Peranan Wanita Linda Gumelar, sosiolog UI Imam Prasojo dan budayawan Jaya Suprana.
Tepat di belakang saya duduk Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mantan Gubernur Bank Indonesia, Anwar Syamsudin, mantan Mendiknas Yahya Muhaimin dan puluhan guru besar berbagai perguruan tinggi Indonesia.
Deretan berikutnya pada bagian ini tampaknya para sahabat Obama, terutama alumni SD Menteng tempat Obama sekolah di era 1967-1971.
Di sudut kiri dan kanan lantai dasar ini ratusan aktivis LSM, ormas, pemuda, pejabat negara, menteri dan 20 relawan Peace Corp Amerika yang akan melakukan pengabdiannya di Jawa Timur.
Di balkon atas belakang, kiri dan kanan ratusan dosen perguruan tinggi di Jakarta dan sekitarnya, aktivis mahasiswa dan pemuda.
Biasanya untuk sampai dan masuk ke ruangan ini amatlah mudahnya, tetapi untuk hajatan mengikuti pidato Obama tidaklah mudah.

Tiba tengah malam
Kemarin semua undangan dari luar Jakarta sudah masuk kota sampai tengah malam. Para undangan pagi-pagi Rabu kemarin sudah berkumpul di Parkir Timur Senayan Jakarta, di belakang Hotel Sultan. Ada yang sudah datang pukul 05.00 WIB, tetapi kebanyakan pukul 06.00 WIB. Di tempat ini sudah menunggu 20 yang akan membawa undangan.
Saya sengaja menginap di Hotel Century. Dari sini hanya lima menit dengan mobil. Beberapa petugas menyambut dan meminta diperlihatkan ticket. Bus yang akan dimasuki disesuaikan dengan warna dan status tamu. Saya tamu VIP warna hijau, naik bus warna hijau nomor 21. Tepat pukul 06.45 bus pun bergerak.
Dalam jarak beberapa ratus meter di kiri dan kanan jalan arah kampus UI sudah ada penjaga berpakaian dinas polisi dan lainnya.
Semakin dekat ke Kampus UI Depok, semakin dekat jarak antara kelompok penjaga satu dan lainnya. Sesampai di kawasan kampus, bus kami tidak langsung ke lokasi acara tetapi berkeliling dulu ke jalan lain, baru sampai ke depan salah satu gerbang auditorium. Kemudian bus beranjak ke tempat parkir yang jauh dan kami masuk pintu pemeriksaan detektor.
Mungkin karena sudah diseleksi sedemikian rupa waktu listing undangan, dan sudah diberi tahu apa yang boleh dibawa, semua undangan lancar-lancar saja melewati screen pemeriksaan.
Setiap rombongan penumpang bus yang sudah lewat pintu screening disambut dua anak muda bertanda petugas mendampingi langkah kami arah ruangan dan sekitar 20 sampai 30 meter disambut beranting petugas berikutnya.
Untuk VVIP dan VIP masuk satu track dan undangan lain menurut tracknya pula ke bagian mana mereka disediakan tempat duduk.
Kiri- kanan track tadi dibatasi jaringan fiber berselimut kain hitam jarang setinggi pinggang.
Di deretan bagian VIP kursi kami sudah disediakan. Kami sampai di sini sekitar pukul 08.30 WIB. Biasalah, tegur sapa sesama undangan seperti reuni, layaknya. Orang yang sudah lama tak bertemu, berjumpa lagi disini.
Seperti kemarin malam, di Istana Negara, Megawati yang lama tak bersua duduk satu deretan. Kami berguyon dan ngomong ngalor ngidul sekitar satu jam.
Tepat pukul 09.30 WIB, setelah gemuruh tepuk tangan dan lambaian rindu, bagaikan anak muda pulang dari perantauan, penuh sumringah, Obama mengucapkan assalamualaikum dan salam sejahtera.
Obama memulai dengan nostalgia masa lalu. Mulai dari masa kecilnya di SD Menteng, tempat tinggalnya dengan ibu dan ayah tiri serta adik tiri di Menteng Dalam. Inilah kisah nostalgia yang memukau sekaligus memesona. Muncul keakraban tanpa dibuat-buat.
“Inilah negeri yang sangat berkesan bagi saya,” kata Presiden negara adidaya yang pagi kemarin tidak didampingi Ibu Negara Michelle Obama.
Sebagian joke-joke pada acara sebelumnya masih diulanbgi Obama pagi itu. Kemudian dia mengatakan ingin menyatakan tiga hal di depan publik Indonesia yang sangat terhormat.
Berry…Berry… Obama melambaikan tangannya dengan sumringah.
Setelah menutup dengan assalamualaikum, dia bergegas melangkah turun dari pentas dan menyalami hadirin sepanjang deretan pertama kursi paling depan di sela-sela kucindan manih dan ucapan keramahtamahan ikhlas dan prima. Obama, memang sosok yang amat mengesankan. (*)

Kamis, 11 November 2010

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1800

OBAMA DI UNIVERSITAS INDONESIA
Indonesia Bagian dari Saya
JAKARTA – Singgalang Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendapat sambutan meriah dalam pidato di Universitas Indonesia (UI). Obama tak lupa memulai pidato dengan mengucapkan selamat dalam Bahasa Indonesia.
Dalam pidatonya, antara lain disebut, AS sedang tidak berperang dengan Islam. “Indonesia bagian dari saya,” katanya.
Dari pidatonya, dapat ditarik kesimpulan, antara lain, Amerika hendak membangun jembatan hati dengan dunia Islam, terutama Indonesia.
“Selamat pagi, Assalamualaikum,” kata Obama. Tepuk tangan langsung membahana di Balairung UI dalam acara yang dimulai pukul 09.20 WIB Rabu (10/11).
“Pulang kampung nih,” kata Obama. Dan kali ini aplaus lebih dahsyat diterimanya. Hampir satu menit tepuk tangan membahana.
Obama kemudian melanjutkan dengan Bahasa Inggris. “Saya sangat senang bisa ke sini bersama Michelle. Saya senang bisa ke negeri yang berarti banyak pada saya,” katanya.
Obama lalu mengucapkan duka cita pada korban bencana-bencana alam di Indonesia. Obama menyatakan, negerinya siap membantu Indonesia. “Saya tahu kekuatan dan ketahanan rakyat Indonesia diuji sekali lagi,” katanya.
Setelah itu barulah Obama menyatakan dalam Bahasa Indonesia, “Saya bagian dari Indonesia.” Obama menyatakan, saat datang di Indonesia pada 1967, sebagai seorang anak kecil, Jakarta dilihatnya sangat berbeda dengan yang hari ini.
“Hotel Indonesia hanya satu dari sedikit gedung tinggi (saat itu),” katanya. “Pusat perbelanjaan hanya satu, Sarinah, becak dan bemo di mana-mana,” kata Obama.
Menggenapi kunjungannya ke Masjid Istiqlal, dalam pidatonya, Barack Obama menekankan usahanya untuk memperbaiki hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam.
Tak hanya dengan ucapan ‘Assalamualaikum” dan “Salam Sejahtera’ di awal pidatonya, tapi juga dengan sebuah komitmen. “Sebagai presiden, saya memulai perbaikan hubungan antara AS dan dunia muslim,” kata Obama.
Kata Obama, era ini adalah lembaran baru. “Saya yakin kita bisa mengenyampingkan rasa curiga dan ketidakpercayaan,” katanya seperti disiarkan vivanews.
Obama lantas memuji “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda tapi tetap satu – konsep toleransi yang dianut Indonesia.
Meski berpredikat sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia, kata Obama, pemeluk agama lain bisa melaksanakan ibadahnya dengan baik.
Soal kebijakan Amerika Serikat memerangi organisasi teroris, Al Qaeda dan segala turunannya, Obama mengatakan itu terus dilakukan. Kata dia, tak boleh ada tempat aman bagi para teroris.
Namun ditekankan oleh Obama, “Amerika tidak sedang berperang dengan Islam.”
Obama juga mengatakan, komitmen Amerika menciptakan perdamaian dunia di Timur Tengah bisa dilihat di Irak.
“Dalam masa kepemimpinan saya, 100.000 tentara meninggalkan Irak,” kata dia diikuti tepukan riuh.
Sebelumnya, Obama mengaku mengenal Indonesia dan Islam di masa kecilnya. Dan jangan lupa, dua ayah Obama – ayah kandung, Barack Hussein Obama dan ayah tirinya, Lolo Soetoro adalah muslim.
Dalam pidatonya, Obama sempat mengatakan, sosok Lolo Soetoro yang warga negara Indonesia, mengajarkan padanya soal toleransi.

Pidato
Shofwan Karim Elha, kolumnis Singgalang, dari UI, melaporkan, di tengah siutan, tepukan dan panggilan Berry…Berry…, suasana kemudian tenang dan Obama menguraikan tentang titik perhatiannya dalam persahabatan yang komprehensif sebagai tema utama relasi Amerika-Indonesia dalam tangan kepemimpinannya sekarang.
Ketiganya adalah soal pembangunan; demokrasi; dan hubungan manusia dan masyarakat lintas iman.
Menurut Obama, pembangunan Indonesia berjalan begitu cepat. Dia mengulang pernyataan sebelumnya soal satu-satunya di zaman kecilnya hanya ada satu mall bertingkat tinggi hanya Sarinah. Sekarang sudah tidak terbilang jumlahnya.
Banyak hal-hal berhubungan dengan pembangunan ekonomi terutama disinggung. Selain itu, sangat tepat pula dia menyatakan tekadnya dalam pembangunan SDM dan Pendidikan, dia akan melipatduakan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Amerika dan begitu pula sebaliknya, disambut tepuk tangan gemuruh audiens.
Kedua, Obama bicara soal demokrasi. Dia menghormati dan amat menghargai proses dan hasil demokrasi yang transparan dan berkeadilan di Indonesia yang terus menerus ditingkatkan. Indonesia, kata Obama sekarang sudah berada pada dereten di muka dalam praktik demokrasi di dunia.
Hal ketiga yg menjadi konten pidato Obama kemarin adalah relasi antar iman. Indonesia yang berfilsafat negara dan berdasarkan Pancasila meletakkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa pada urutan pertama.
Sebagaimana juga Amerika, kedua bangsa ini memiliki masyarakat majemuk dan pluralistis. Memiliki puluhan etnis, suku, ratusan bahasa lokal dan berbilang agama yang dianut.
Islam, sebagaimana dia singgung, dianut oleh ayah kandung dan ayah tirinya mencintai dan mempraktikkan dalam setiap tarikan nafas kehidupannya dalam kedamaian. Bukan saja hal itu berlaku dalam internal sesama muslim tetapi sejalan dengan praktik kedamaian itu kepada penganut agama agama lain.
Apa yang dilihatnya di Indonesia, harmonisasi lintas iman di Indonesia amatlah mengagumkan. Dia menyinggung soal Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara.
Pemerintahan Amerika berusaha memutus mata rantai pemahaman, Islam ada hubungannya dengan perilaku para ekstrimis di berbagai tempat dan terutama oleh tokoh utamanya Osama Bin Laden.
Obama merasa salut dan amat menghargai relasi umat Islam Indonesia yang lembut dan damai.
Jakarta adalah negara kedua dalam perjalanan 10 hari Obama keempat negara Asia. Obama telah berkunjung ke India selama tiga hari. Lalu ia akan mengunjungi Korea Selatan untuk menghadiri KTT G20 dan ke Yokohama, Jepang, dalam rangka menghadiri KTT APEC. Kemarin, Obama telah meninggalkan Indonesia. (*)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1802

Kamis, 11 November 2010
 
Menghadiri Undangan Dubes AS untuk Pidato Obama di UI Depok
Jakarta, Singgalang
Setelah direpotkan oleh urusan dalam negeri, sehingga menggagalkan 2 kali rencana kunjungan sebelumnya ke beberapa negara di Asia termasuk Indonesia, maka mulai sore kemarin sekitar pk 16.25 Presiden Barack Obama dan Ibu Negara Amerika Michelle Obama mendarat di Halim Perdana Kusuma menebus janjinya, datang kembali ke negeri masa kecilnya tepatnya menarik nafas kehidupan menghirup udara Jakarta sekitar 4 tahun pada lebih 40 tahun lalu.
Selanjutnya berturut-turut agenda upacara penerimaan resmi di Istana Negara, pembicaraan Bilateral dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, konferensi pers, dan jamauan negara makan malam. Setelah itu President Obama dan Mishelle istirahat di Hotel Shangri-la Jakarta.
Pagi ini, Rabu, 10 November setelah Peringatan hari Pahlawan 10 November, President Obama menyampaikan pidato di hadapan sekitar 500 orang undangan di Kampus Universitas Indonesia Depok, Jawa Barat.
Diperkirakan pidato yang akan mengokohkan program kemitraan komprehensif antara Amerika dan Indonesia itu seperti yang pernah diutarakan oleh Menlu Hillary Clinton awal tahun 2009 lalu di Jakarta, akan memberikan gambaran baru secara lebih konkret apa yang selama ini menjadi isu pokok hubungan kedua negara.
Lebih dari itu, mengapa universitas? Mungkin, seperti yang disinggung tadi malam oleh Presiden SBY dalam pidato dinnernya, bahwa ibu tercinta Stanley Ann Dunham, ibunya Presiden Barack Obama seorang peneliti yang memusatkan aktifitasnya di Univeristas Gajah Mada tenag pemberdayan perempuan dalam peningkatan eknomi keluarga.
Hal itu singgung ulang dalam sambutan Obama sebelum bersulang bahwa memang ibuya gidih dala upaya pendidikan anak dan pemberdayaan wanita. Bahkan dia menyebutkan bahwa ibunnya amat gigih soal yang satu ini kiankemari dengan sepeda motosnya masuk kampung ke luar kampung.
Pada bagian lain, Presiden Obama dengan rendah hati sambil mengenang ibunya, tak pernah membayangkan sewaktu masa kecilnya akan menginjakkan kakinya di istana negara ini. Selanjutnya Obama menyinggung tentang banyaknya persamaan antara Amerika dan Indonesia dalam hal kemajemukan masyarakatnya, serta kedua negara sama-sama negara demokrasi. Oleh karena tak lupa Obama mengutip pepatah bahwa untuk kebersamaan Amerika dan Indonesia itu, layaknya seperti bambu dengan tebing (aua jo tabiang).
Setelah acara di UI hari ini, sebelum meninggalkan Indonesia, Obama akan mengunjungi Masjid Istiqlal Jakarta . Kusus untuk acara di UI, Kolumnis Harian Singgalang Shofwan Karim, memberikan laporanya bahwa tak terbayangkan kalau Rektor Univiersitas Muhammadiyah Sumbar ini diundang oleh Duta Besar Amerika Scot A. Marciel untuk menjadi tamu undangan yang terhormat.
Pada bagian lain dari undangan Dubes Amerika itu dikatakan, amat berterimakasih atas kesudian undangan menhadiri pidato Obama di depan public Indonesia. Marciel mengatakan kita percaya, hal ini merupakan iven bersejarah untuk dua negara dan kedua warga dan rakyatnya. Tentu saja Karena acaranya di univertas menjadi pilihan Obama sendiri sebagaimana juga sebelumnya dilakukannya di India pada 2 hari sebelumnya ke Indonesia.
Hanya menjadi pertanyaan kepada Shofwan Karim bagaimana dirinya terpilih bersama Dr. Romeo Risal Pimpinan Bank Indonesia Padang bersama 3 orang tokoh pendidikan dan masyakat di Sumut dan Nangru Aceh Darussalam. Sekitar sepekan lalu, staf Konsul Jenderal Amerika di Medan meminta data singkat pribadi. Tentu saja semua data orang yang diperlukan Amerika di Indonesia sudah ada di kementerian luar negerinya.
Akan tetapi konformasi dan pemutakhiran perlu dilakukan. Pada waktu itu tidak disebut untuk apa data itu. Shofwan memperkirakan mungkin ada hal yang akan dikerjasamakan sebagaimana dulu pada tahun 2003 ketika menjadi Ketua Wilayah Muhammadiyah Sumatra Barat pernah diadakan kerjasama seminar internasional perbandingan kemajemukan masyarkat Indonesia dan multikural masyarakat Amerika.
Akan tetapi ketika sedang mengikuti Annual Meeting Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia di Denpasar 3 hari lalu, masuk email dari Kedutaan Besar Amerika Shofwan diundang untuk mengikuti pidato di Kampus UI ini. Akan tetapi undangasn via email itu tidak berlaku untuk tiket masuk.
Baru dapat dipastikan setelah Shofwan menerima surat tertulis dalam amplop rapih dengan lampiran tiket masuk mencantumkan kata Nama dan di bawahnya ada Bar Code yang akan di-screen seperti label harga yang dilakukan petugas toko swalayan di depan komputernya.
Pada bagian lain dari lampiran surat undangan tadi disebutkan acara diadakan 10 November, tempat UI Kampus Depok, transportasi Bus Charteran berangkat dari Parkir Timur Senayan Jakarta pukul 07.00 pagi dan sudah di lapangan parkir itu pukul 06.00 pagi untuk pemeriksaan.
Semua undangan diangkut dengan Bus tadi dan tidak diizinkan membawa kenderaan sendiri ke UI dan kembalinya nanti juga dengan Bus yang sama ke Parkir Timur Senayan.
Lalu apa saja yang boleh dibawa ? Kecuali hand phone (HP) dan kamera yang lain tidak dibolehkan. Ini karena banyaknya undangan dan pemeriksaan keamanan, maka semua pragat seperti payung, banner, tas tangan, napsack, backpack, tanda-tanda dan assessories tidak benarkan .
Pada akhir suratnya Dubes Amerika mengajak kesediaan undangan untuk dapat berbartisipasi dalam kunjungan kembalinya Obama ke Indonesia. Di sini tersirat, Obama bukanlah pengunjung baru bagi Indonesia karena masa kecilnya di Indonesia seperti disiunggung terdahulu.
Tak lupa ditambahkannya belum pernah ada Presiden Amerika Serikat terdahulu yang memiliki begitu kuat ikatan batinnya dengan Indonesia selain Barack Obama. Dengan keyakinan, Dubes ini dengan penuh kepercayaan menulis, kunjungan orang nomor satu di AS itu akan memberikan dorongan sepenuhnya untuk hubungan persahabatan kedua negara yang begitu kuat, sekarang dan masa datang. ***
Sabtu, 13 November 2010
 
Bupati Alis yang Gigih dan Idealis
SHOFWAN KARIM

Kenangan masa lalu dalam kepala dan dada saya berbinar. Kamis pagi di lounge Garuda Jakarta saya bicara dengan Fahmi Idris mantan Menaker dan Menprin kabinet lalu.
Bang Fahmi —demikian saya menyapa- mengatakan dia akan terbang ke pelantikan Bupati Alis Marajo Dt. Sori Marajo. Tokoh kita yang sempat istirahat lima tahun lalu dilantik lagi untuk jabatan yang sama. Alis Marajo come back.
Bupati Limapuluh Kota ini di kalangan aktivis kampus pertengahan dan akhir 1970-an bahkan sampai sekarang, dipanggil Bang Alis. Sebutan abang melekat pada kami aktivis kampus 1970-an untuk menyebut para aktivis 1966, penumbang Orde Lama pada masa itu.
Di Sumbar ada Bang Zaidal untuk menyebut almarhum dokter Zaidal Bahauddin. Bang Pohan untuk menyebut Arif Pohan, Bang Makmur untuk menyebut Makmur Hendrik, Bang Cai, almarhum Marizal Umar, Bang Syahrul untuk menyebut Syahrul Ujud, dan Bang Masfar utuk menyebut Masfar Rasyid.
Di tingkat nasional ada Bang Fahmi Idris, Bang Gafur untuk menyebut mantan Menmuda Dr. Abdul Ghafur, Bang Akbar untuk menyebut mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, Bang Buyung untuk menyebut Buyung Nasution, pengacara terkenal dan seterusnya.
Tetapi istilah abang tidak berlaku untuk uda H. Basril Djabar dan uda Syarif Ali atau uda Muslim Ilyas (alm) dan tokoh lainnya yang memimpin mahasiswa dan pemuda di Sumbar di zamannya.
Kamis pagi itu saya hendak ke Konvensi Dunia Melayu Dunia Islam di Batam. Karena itu, entah diundang atau tidak, seyogyanya saya hadir utk bersimpati dan empati. Saya sempat telepon Bang Alis dua kali, tetapi isterinya menjawab, Bang Alis sedang mandi, sementara saya harus boarding.
Setelah bicara singkat dengan Bang Fahmi, saya juga melihat dari kejauhan Bang Gafur, Bang Mahdi dan sempat bicara dg Bang Rusydi yang hendak ke Payakumbuh. Di harian Singgalang online saya juga tahu bahwa Bang Syahrul juga hadir.
Semua abang-abang tadi, sekarang sudah kembali sepenuhnya ke masyarakat, setelah mereka melanglang buana dalam karir dan profesinya masing-masing di masa Orde Baru, Orde Reformasi dan Orde Pencerahan sekarang ini.
Istilah Orde Pencerahan, ini hanya ada dalam fikiran saya. Untuk menyatakan bahwa reformasi sudah selesai karena demokrasi, keadilan, anti korupsi, kesejahteraan, politik, ekonomi dan sosial budaya sekarang sudah relatif tersusun polanya (paling tidak dalam pikiran) sejak 10-11 tahun terakhir.
Dan lebih dari itu, sudah jarang istilah reformasi, ini keluar mulut orator dalam orasinya di depan publik dan opini media sejak 1-2 tahun terakhir. Maka kalau benar orde reformasi selesai, kini saya gunakan Orde Pencerahan.
Kembali ke Bang Alis. Pada ujung 1977/1978, sampai awal 1980-an muncul terma Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiwaan (BKK) di era Menteri P dan K, Daud Yusuf. Oleh Daud Yusuf rekonstruk student goverment ini dianggap revitalisasi kampus sebagai institusi ilmiah dan mahasiswa sebagai warga ilmiah. Bagi kalangan aktivis kritis waktu itu, NKK BKK dianggap delegitimisasi kekuatan kritis mahasiswa, karena waktu itu sering terjadi demo anti kebijakan pemerintah.
Bang Alis adalah korban dari kebijakan NKK BKK itu. Karena itu Bang Alis hampir tidak lagi berkutik. Padahal sebelumnya Bang Alis adalah bintang cemerlang aktivis kampus.
Lebih banyak saya berinteraksi dengan Bang Alis dalam kegiatan kemahasiswa dan kepemudaan dalam dan luar kampus yang lain.
Saya terlibat intensif menggeluti pers mahasiswa koran Suara Kampus. Di Unand ada latihan dasar jurnalistik, begitu pula di IAIN dan IKIP waktu itu. Mungkin karena perguruan tinggi belum sebanyak sekarang di Sumbar, masih dihitung dengan jari maka keakraban antar kampus waktu itu sangat terasa.
Di luar tiga PT tadi hanya ada ASKI (sekarang ISI) di Padang Panjang dan APDN di Bukittinggi. Namun setelah 30-40 tahun terakhir di Sumbar sudah 116 PTS dan PTN. Jadi wajar kalau kedekatan aktivis lintas kampus agak kurang. Bahkan sesama mereka sekampus pun belum tentu akrab. Menurut catatan Kopertis mahasiswa PTS dan PTN di seluruh Sumbar sekarang sekitar 110 ribu orang.
Bang Alis adalah tokoh idola kampus masa itu. Dalam aktivitas saya di Resimen Mahasiswa, Senat dan kemudian Dewan Mahasiswa, Lembaga Bahasa dan Sasta, Lembaga Teater, Hikmat Studi Klub, Bang Alis selalu menjadi narasumber.
Paling tidak, ada tiga konten substantif pembicaraan yang terus meluncur di bibir Bang Alis: Islamisme, Nasionalisme dan Sosialisme. Sepertinya Bang Alis ingin mewariskan kepada kami para aktivis pikirannya yang mungkin waktu itu sangat menggandrungi pemikiran M Natsir, Soekarno, Hatta dan Syahrir.
Ciri khas Bang Alis adalah suara lembut, bahkan nyaris kurang terdengar seperti orang mau berbisik, tetapi tajam dan menukik. Lebih filosifikal dan kadang-kadang sangat Minangkabauis.
Belakangan baru saya tahu, setelah saya tamat IAIN dan Bang Alis jauh di atas saya tamat di kedokteran, ternyata beliau juga penghulu kaumnya. Hemat saya, Bang Alis intensif berinteraksi sesama generasinya Bang Syahrul Udjud, Hasan Basri Nasution dan Taufik Thaib yang berpacu di dalam institusi politik Orba.
Sementara para aktivis lainnya minggir dari arena politik praktis, Bang Alis terus berpacu di jalur ini. Tentu saja sebagai orang kampus, dosen yang pegawai negeri Banh Alis dapat menjalankannya secara simultan.(*).

KUTBAH IDUL ADHA

Selasa, 16 November 2010

KUTBAH IDUL ADHA

Pemimpin Mesti Berkorban

SHOFWAN KARIM ELHA
Dan maklumkanlah kepada manusia supaya mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepada engkau dengan berjalan kaki dan mengenderai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah dalam beberapa hari yang ditentukan, atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian dari padanya dan sebahagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. (al-Haj, 22:27-28)
Idul Adha atau Idul Qurban intinya melaksanakan perintah Allah. Kita meneladani watak dan perilaku kehidupan nabi dan rasulullah ulul azhmi Ibrahim, as., puteranya Ismail, as, dan isterinya Siti Hajar. Inilah teladan kita dalam keserasian, harmoni hidup ayah, anak, dan ibu.
Nabi Ibrahim as, adalah bapak dan pahlawan penegak tauhid. Di dalam panorama kehidupan ummat manusia, Ibrahim as, adalah tokoh pencari Tuhan dengan menggunakan akalnya. Berjuang dengan seluruh raga dan jiwa melawan kemusyrikan. Ia mengembara dalam alam pikiran dan hati nuraninya, menemukan hakikat al-ilah, al-khaliq, al-Rab. Hakikat Tuhan, pencipta dan pemelihara alam semesta. Untuk itu tokoh sentral peradaban manusia ini berdebat atau bermujadalah dengan ayah kandungnya sendiri. Ini dilukiskan al-Quran (al-Anam, 6:74):
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.
Gambaran umum bagaimana Ibrahim as, menegakkan akidah secara menyeluruh selanjutnya terdapat dalam QS.Al-An’am, 74-83 dan As-Shafat 83-99. Ujungnya, Ibrahim as, mengumumkan, seperti dilukiskan al-Shaffat, 79:
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Keimanan dan tauhid tidak akan kokoh kalau tidak diuji. Maka Ibrahim as, diuji atas keyakinan tauhidnya itu.
Mengkritisi ayah kandungnya; menghancurkan berhala-hala; dilemparkan ke api menyala besar dan dibakar hidup-hidup oleh raja Zalim Namrud; dan seterusnya. Ujung-ujungnya yang paling berat adalah mengorbankan putranya sendiri. Ini dilukiskan Alquran dalam surat ashhafaat (37) : 100-111. Khusus untuk mengorbankan anaknya dilukiskan pada ayat 102:
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”.
Ia menjawab:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash-Shaaffaat, 37: 102).
Di dalam hal ini bukan hanya Nabi Ibrahim yang diuji, tetapi juga putranya sendiri Ismail as, seorang anak yang beranjak menjadi remaja dan pemuda. Nabi Ismail as, yang begitu yakin kepada ketokohan ayahnya Ibrahim, mematuhi perintah Allah, melalui sang ayah tersebut dengan tawakkal dan ikhlas sepenuhnya.
Dari sikap tawakkal Ismailas, tadi, kita bisa mengambil mauizhah (pelajaran), bahwa generasi muda kita akan senantiasa rela mengorbankan kepentingannya, bahkan dirinya bila mereka benar-benar yakin akan perintah dan orang yang membawa perintah tersebut untuk kebaikan dan kebenaran .
Apa yang dapat kita petik dari peristiwa ini. Rasa percaya kepada figur atau sosok yang menentukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti seorang ayah adalah sesuatu yang asasi, sesuatu yang mendasar dan amatlah prinsipil. Akan tetapi dewasa ini, rasa percaya itu pula yang amat tipis. Kita sedang krisis dan mengalami pendangkalan kejujuran, keikhlasan dan tokoh teladan. Kepercayaan antar sesama kita dalam makna amanah, jujur, dan memberi rasa aman, nampaknya kian langka.
Tugas kita sekarang tentulah bagaimana menciptakan generasi berikutnya yang memiliki karakter Nabi Ibrahim as. Maka kalau kita kaitkan dengan pembicaraan hangat tiga tahun terakhir ini, soal pembinaan karakter bangsa, tentulah hal ini amat tepat. Nabi Muhammad SAW menyebutnya akhlaqul karimah. Innama buisttu li utam mimma makarimal aklaq.
Presiden Soekarno dulu menyebutnya nation and character building. Kita baru sadar bahwa selama ini kita sudah membangun fisik bang sa, fisik keluarga, fisik anak cucu kita, demikiran dahsyatnya. Tetapi sekarang terasa kita tertinggal dalam hal pem binaan akhlak dan karakter. Kita lalai membina keimanan yang membumi. Iman bukan hanya percaya dengan Rukun Iman, tetapi sejalan dengan praktiknya dalam kehidupan nyata sehari-hari yang intinya adalah sifat amanah dan rasa aman. Yaitu watak jujur dan watak memberi rasa aman kepada lingkungan.
Belajar kepada Nabi Ibrahim as, sebagai pemimpin dalam keluarga dan masyarakatnya, kita mendapatkan, paling tidak tiga hal. Pertama, Nabi Ibrahim as, memiliki karakter atau watak kepemimpinan yang tangguh dan dipercaya. Pakar ilmuwan kepemimpinan menyebutnya dalam Bahasa Inggris dengan sitilah credibility and trustworthy atau dalam Bahasa Arabnya amanah wa istiqamah.
Kedua, Ibrahim as, tokoh yang memberi inspirasi, ilham, dan mendorong keinginan kepada kebaikan berdasarkan nilai-nilai ilhiyat atau ketuhanan. Hidup dan mati serta apa saja yang dipikirkan dan dikerjakan hanya untuk pengabdian kepada Allah swt
Ketiga, Ibrahim as, mempunyai kerangka dan konsep pikiran ke masa depan. Orang sekarang menyebutnya visi, suatu gugusan kerangka pikir apa yang hendak diciptakan di masa depan.
Ketiga hal itu diterapkan oleh Nabi Ibrahim as, dimulai dari dalam keluarga sendiri. Kita perhatikan sejarahnya, isterinya yang hamil berat rela diasingkan jauh di ujung belantara sahara. Ibrahim rela mengorbankan putra kandungnya sendiri atas perintah Allah. Nabi Islamil as, anak kandungnya itu sendiri menjadi patuh dengan apa yang diperintahkan Allah kepada ayahnya. Atas semua kerelaan, tawakal dan keikhlasan itu, Allah mengganti kurban yang seyogya dilakukan terhadap anaknya kepada seekor binatang ternak.
Menyembelih hewan kurban. Kata kurban itu sendiri berasal dari kata qaraba-yaqrabu-qurbanan (mendekatkan diri). Artinya pernyataan simbolik bahwa kita dekat kepada Allah. Ini adalah pula menjadi simbol atau lambang ketaqwaan dan kedekatan kepada Allah sebagai disinggung oleh Alquran (al-Haj, 22: 37):
Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah kurban itu, melainkan yang sampai kepada-Nya ialah taqwa (kepatuhan) kamu. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagung kan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Selanjutnya berkurban merupakan rasa syukur atas rahmat yang banyak telah diberikan Allah. Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.
Pada sisi lain pelaksanaan kurban yang kemudian diganti dengan penyembelihan bintang ternak seperti kambing, kibas atau biri-biri, atau sapi oleh para ahli hikmah, filsafat dan tasyri’, dikatakan sebagai lambang penyembelihan sifat-sifat hewaniah dalam diri manusia.
Penyembeliahan korban adalah lambang melenyapkan sifat-sifat rakus, tamak, beringas, yang kuat yang berkuasa, hukum rimba, dan sifat-sifat jalang lainnya.
Sifat-sifat bahimiyah binatang buas yang beringas, rakus, suka memakan apa saja tanpa memilih halal dan haram harus diganti dengan sifat nasut atau insaniyah berwujud tasammuh, toleransi atau tenggang rasa; mau berkorban untuk kebenaran dan kebersamaan, lapang dada, sabar dan tawaddhuk sehingga menjadi manusia yang saleh.
Sifat kemanusiaan atau disebut nasut akan lebih afdhal lagi kalau disirami oleh sifat Tuhan atau lahut yang suka memberi ampun, pemaaf, penuh kasih sayang sebagai bagian dari rahman dan rahimnya Allah.
Figur Siti Hajar. Ibu Ismail as, isteri Ibrahim as. Ini adalah sosok perempuan yang amat tabah. Menurut sejarah, ibu yang saleh ini rela bermukim di tempat yang jauh dari negerinya untuk melahirkan si buah hati. Ketika bayi Ismail lahir, beliau berlari mencari air untuk minum dan kemudian diharapkan dengan lepas dahaganya itu akan ada produk air susunya untuk kehidupan anaknya.
Sejarah mengisahkan, itulah sebabnya Siti Hajar berlari-lari kecil antara dua bukit yang belakangan disimbolkan dalam ibadah haji sebagai sa’i antara shafa dan marwa, dan tak jauh dari situ muncullah sumber air zam-zam yang sampai sekarang tak pernah kering.
Oleh para hukuma’ peristiwa ini dipahami sebagai manifestasi atau pelahiran semangat, keuletan dan kesungguhan untuk kehidupan. Orang sekarang menyebutnya ujud etos kerja. Seorang wanita, seorang ibu yang tidak pernah hanya pasrah kepada nasib, tetapi berusaha kian kemari. Tidak putus asa dan tidak kehilangan akal. Ia keluar dari tempatnya mencari sesuatu untuk kehidupan anaknya. Dia tidak sekedar menunggu hujan dari langit tetapi berlari mencari rezeki.
Puncak dari semua ujian itu, Ibrahim dinyatakan Allah sebagai pemimpin atau imam bagi seluruh manusia. Setelah pernyataan Allah diterima, Ibrahim berharap martabat imam itu juga hendaknya dianugrahkan kepada anak cucunya. Tetapi anak cucu Ibrahim, yaitu ummat manusia dan kita seluruhnya ini tidak akan menjadi imam atau pemimpin di hadapan Allah kalau kita berbuat zalim atau suka membuat aniaya.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.
Apabila kita cermati kehidupan umat dan bangsa kita akhir-akhir ini, maka mau tidak mau kita harus kembali meneladani sejarah ketiga tokoh tadi : Ibrahim as, Ismail as, dan Siti Hajar.
Semangat tauhid, kesadaran diri, kepatuhan kita dalam semua aspek kehidupan, dan ibadah tidak ada kepada yang lain, kecuali kepada Allah, dalam garis dan bimbingan Alquran dan sunnah shahihah rasulullah.
Di samping memantapkan tauhid uluhiyah dan ububiyah, seyogyanya kita senantiasa menyerap sifat-sifat yang senantiasa mendidik jiwa dalam perilaku sejalan dengan sifat-sifat rahman dan rahim Allah. Di dalam kehidupan ini, kita semua adalah pemimpin pada setiap tingkatannya. Pemimpin harus diuji dan pemimpin harus berkorban.
Untuk memajukan suatu masyarakat, baik di nagari-nagari maupun di kota-kota, maka kita senantiasa merajut dan menyulam kehidupan ini dengan mewujudkan kasih sayang di dalam masyarakat. Harus dibangun terus menerus harmonisasi sosial dan ketenangan batin. Untuk itu kita perlu melakukan qurban yang makin merapatkan kedekatan antara satu dengan yang lain.(*)

:::HARIAN SINGGALANG ONLINE :::

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.