| Idul Fitri, Syariat dan Syiar |
| Minggu, 28 September 2008 | |
|
Oleh : DR H. Shofwan Karim Elha, MA, (Rektor UMSB)
Pagi 1 Syawal 1429 H semua ummat Islam akan bergembira merayakan Idul Fitri. Di lapangan terbuka sesuai anjuran Rasulullah SAW yang amat dipentingkan (muakkad) bagi ummat Islam adalah melaksanakan shalat sunnat 2 rakaat dengan iringan khutbah memberikan pesan ketaqwaan. Sejak senja ditutupnya Ramadhan dikumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, di masjid, mushalla dan di lapangan terbuka dan berbagai tempat. Demikianlah (perintah Allah) dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari hati yang taqwa. (Q.S.22:32). Zakat-fitrah sebagai kewajiban setiap diri umat muslim mukmin ditunaikan untuk memberi makan dan kegembiraan bagi fakir miskin (Q.S. 9:60). Sebelum atau selesai shalat Id di lapangan semua saling bersilaturrahim, bersalaman dan saling meminta maaf. Lebih dari itu, hendaknya semua kaum muslimin tidak kering lidahnya memohon ampun kepada Allah dan semoga shaum dan qiyamu Ramadhan yang telah dilaksanakan mencapai sasaran dan mereka benar-benar dan sungguh menjadi orang yang bertaqwa. Itulah antara lain, secara syariat yang paling utama dilakukan oleh setiap kaum muslimin dan muslimin berdasarkan pedoman Alqur’an dan sunnah shahihah. Di luar syariat itu, secara budaya ternyata dengan alasan tradisi dan kultur maka terasa ada sesuatu yang amat berubah. Semua konsentrasi kehidupan kaum muslimin di seluruh dunia mengalami modifikasi. Terutama di negeri kita Indonesia, hal itu wajar terjadi karena mayoritas penduduknya beragama Islam, terbawa oleh arus perubahan irama kehidupan itu. Sebenarnya, perubahan itu termasuk perubahan yang bersifat mondial atau mendunia terjadi pada pemeluk agama-agama samawi dan non samawi lainnya. Misalnya kaum Nashrani, bila menyambut hari natal, mereka “heboh” pulang kampung sehingga tiket antar negara dan interkontinental pasti mahal. Kita ummat Islam di Indonesia mengalami hal yang sama. Harga tiket antar kota antar provinsi, antar pulau baik darat, laut dan udara naik rata-rata dua kali lipat. Itu terjadi karena arus mudik lebaran amat spektakuler dan menjadi ritual lebaran yang non-syar’i dan membudaya. Harga-harga semua jenis barang terutama yang berkaitan dengan lebaran biasanya menjadi naik. Artinya angka inflasi juga turut terdongkrak melonjak karena masyarakat lebih konsumtif membeli berbagai jenis makanan, minuman, pakaian, bahkan ada yang memaksa diri untuk membeli kenderaan baru atau disewa dan juga ada yang memerlukan kalau tidak rumah baru, perabotnya yang baru, handphone baru dan seterusnya. Sebagian di antara umat kita merasa hari raya Idul Fitri yang biasa disebut lebaran itu, memang kesempatan untuk berbelanja besar-besaran melebihi bulan-bulan lain dalam tahun yang berlangsung. Keadaan budaya demikian bolehlah kita sebut sebagai dalam—tanda petik—konsumerisasi lebaran. Lebih-lebih untuk kalangan selebritis, lebaran menjadi amat bergengsi. Di situlah ajang kesempatan mereka untuk memperlihatkan segala yang baru tadi. Dan jangan lupa ada muatan poliltik lebaran yang juga ikur membonceng. Di saat akan ada Pemilu 2009, kebetulan sekarang adalah masa kampanye tanpa daftar yang resmi sudah dimulai, maka kesempatanlah untuk memikat calon pemilih melalui selebrisasi lebaran. Jangan heran kalau media massa juga ikut menikmati budaya lebaran ini. Setiap hari bahkan, ada gambar calon terpajang dengan embel-embel prihatin terhadap kaum dhuafa, fakir, miskin dan seterusnya yang membagi paket cuma-cuma bak orang dermawan yang amat mumpuni. Tentu saja tidak semua perilaku tokoh, perorangan atau para selebritis populis dan politis itu dapat kita anggap sebagai konsumtif atau mencari populeritas di balik budaya Lebaran ini. Mereka yang benar-benar dari hatinya ingin berbagi haruslah dihargai tinggi karena itu sebenarnya merupakan amanah Allah kepada mereka yang memiliki harta dan uang untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Apalagi memang angka orang yang fakir dan miskin tidak terlalu banyak perubahan penurunannya. Bahkan ketika Lebaran ini, angka kemiskinan mungkin naik karena banyaknya orang yang kelihatan memang membutuhkan baik secara langsung meminta-minta atau tidak langsung karena memang berketiadaan tetapi mereka malu mengatakannya. Artinya, di satu sisi bolehlah dianggap bahwa mereka punya kepedulian yang tinggi meskipun belum duduk di kursi kekuasaan. Mafhum mutatis mutandis-nya, mereka akan lebih peduli lagi kalau sudah duduk di kursi kekuasaan baik legislatif maupun eksekutif. Untuk mereka yang memiliki niat ikhlas dan motivasi murni ini, tentulah menjadi dambaan kita semua. Walaupun demikian, marilah kita renungkan, bahwa syariat dan syiar atau perayaan memang ada kaitannya terutama bila nikmat Allah itu untuk memperlihatkan kesyukuran kepada Allah. Tetapi bila sebaliknya yang terjadi, kalau ria, pamer dan maksud lain, maka pahala puasa kita dan niat kembali kepada kesucian yang fitri akan berubah menjadi kesombongan dan kekufuran. Yang kita dambakan adalah yang sebaliknya, yaitu menjadi orang yang selalu syukur dan menebarkan nikmat untuk sesama. Semoga. Wa Allah a’lam bi al-Shawab. (*) |
| Selanjutnya > |
|---|
Khutbah ‘Idul Fitri 1429 H PHBI Padang di Halaman Kantor Gubernur Sumba
Revitalisasi Kesalehan Individu dan Sosial
Oleh DR. H. Shofwan Karim Elha, M.A.[2]
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونكبره ونقول الله أكبر الله أكبر و لله الحمد الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. الحمد لله الذي شرع للناس عيدا مباركا ونعيما مشكورا ويوما مسرورا .أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده. والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين بشيرا ونذيرا وعلى آله وصحبه ومن تبعهم باءحسان الى يوم الدين مؤمنا ومخلصا . . أما بعد فيا عباد الله أوصيكم واياي بتقوي الله فقد فاز المتقون يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Maasyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah;
Marilah kita terus menerus memanjatkan puji dan syukur ke hadhirat Allah SWT yang telah memberi kesehatan dan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan ibadah ‘Idul Fitri 1429 H pada pagi yang amat berbahagia ini. Kita menggantung harapan dan do’a, kiranya semua amal ibadah kita dapat diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa dan dibalasi-Nya dengan pahala yang berlipat ganda.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah berjuang menyampaikan risalah Islamiyah sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Begitu juga untuk keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dengan penuh keimanan, ketaatan dan keikhlasan sampai Hari Berbangkit, yaumil akhir nanti.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
Pagi ini kita sama-sama bergembira menyambut kedatangan ‘Idul Fitri 1429H. Dengan suara yang lantang dan bersemangat kita mengumandangkan kalimat-kalimat suci mengagungkan asma Allah SWT. Di rumah, di mushalla, di masjid, dan di lapangan ini, kita kumandangkan gema takbir dan tahmid dengan suara lantang memenuhi angksa alam ini.
Allahu Akbar, Allah Maha Besar, besar dari segala-galanya. Semua kekuatan, semua kekuasaan jadi kecil tak berarti dibandingkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Agung. Islam telah mengajarkan takbir kepada kita. Saat adzan kita mengucapkan takbir, membesarkan nama Allah. Saat iqamah kita mengucapkan takbir. Saat hendak memulai shalat kita mengucapkan takbir. Saat bayi dilahirkan kita mengucapkan takbir di telinganya. Saat menyembelih hewan kita mengucapkan takbir. Saat terjun di medan laga kita mengucapkan takbir. Pada hari ‘Id seperti saat ini kita mengucapkan takbir dengan suara yang lantang, membesarkan asma Allah.
وَمَنْ يُعَظِّم شَعَاءِرِاللهِ فَااِنّهَاَ مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah , Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
La Ilaha Illallah, tiada Tuhan Yang disembah melainkan Engkau ya Allah, seluruh hidup kami, lahir batin, hanyalah dalam rangka beribadah kepada-Mu semata. Seluruh yang kami rasakan, yang kami pikirkan, yang kami ucapkan dan yang kami lakukan, hanyalah semata-mata untuk mencari ridha-Mu ya Allah.
Alhamdulillah, segala puja puji hanya dipersembahkan kepada-Mu ya Allah. Tidak ada yang berhak dipuji selain Engkau, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sepanjang masa kepada hamba-hamba-Nya.
Jamaah Idul Fitri yang berbahagia!
PESAN PERTAMA, KITA BERGEMBIRA BERTEMU ALLAH DENGAN PAHALA PUASA, KEMBALI SUCI DAN FITRI
Pada hari ‘Idul Fitri ini kita bersuka cita dan bergembira ria, seperti gembiranya orang yang sedang berbuka puasa, dan kita sedang menunggu kegembiraan yang lebih besar lagi, yaitu saat bersua dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
َلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan puasanya” (H.R. Bukhari Muslim)
Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami, karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang pada siang harinya, meskipun di luar puasa hal itu halal dilakukan. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang relijius, karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.
Sebulan lamanya kita berjuang melawan hawa nafsu kita sendiri. Sekarang apakah kita termasuk orang-orang yang kembali dari medan juang dengan kemenangan, sehingga pantas menerima ucapan “minal ‘aidin wal faizin”? Tentu tidak mudah menjawabnya. Kita perlu meninjau dan mengoreksi diri kita masing-masing, apakah ibadah puasa sudah betul-betul kita kerjakan dengan iman dan ihtisaban atau kita hanya termasuk orang-orang yang hanya berpayah-payah menahan lapar dan haus tanpa arti yang bermakna. Kammin shaimin laisa lahu min shiyamihi illa alju’ wal athasy. Kita berharap puasa kita adalah yang diistilahkan oleh Hujjatul Islam Imam Al-Gazali sebagai puasa orang yang khawas dan khawashil khawash yang pahalanya berlipat ganda karena kita mampu memelihara pancaindra kita, hati kita dan pikiran kita dari segala yang merusak nilai-nilai puasa itu.
Rasulullah SAW sudah menjanjikan, siapa yang puasa bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisaban akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Dalam hadits lain dikatakan oleh beliau, siapa yang mendirikan malam Ramadhan dengan iman dan ihtisaban diampuni dosa-dosanya yang terdahulu. Dengan arti kata, kalau kita berhasil mencapai seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW tersebut, tentu pada hari ini kita bebas dari segala macam dosa. Kembali seperti seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia. Kullu mauludin yuladu alal fithrah. Sejalan dengan itu kita menjadi bersih, suci sesuai dengan fithrah. Itulah sebabnya Hari Raya ini dinamai ‘Idul Fithri, artinya kembali ke fitrah. (QS, Al-Rum, 30:30)
30- Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
Maasyiral Muslimin wal muslimat rahimakumullah;
PESAN KEDUA, TAHZIBUN NAFSI DAN SUMBER KABAHAGIAAN
Kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai.
133- Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134- (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.
Patut kita renungkan apa yang dutlis oleh Majalah Businessweek Oktober ini. Dilaporkan oleh World Values Survey, bahwa dari 99 negara di dunia yang disurvey maka disimpulkan warga negara yang paling bahagia No. 1 di dunia adalah Denmark. Negara yang berpenduduk 5,5 juta orang itu terletak di Eropa Utara. Usia harapan hidup 78 tahun; PDB Perkapira $ 37.400. No. 2 Puerto Rico; 4 Juta orang ; usia harapan hidup 79; PDB Per Kapita $ 19.600; dan No. 3 Kolombia 45 juta orang ; usia harapan hidup 73; PDB Perkapira $ 6.700; Dua negara terkahir tadi berada di Amerika Tengah dan, kita Indonesia berada pada No. 40. Anehnya Jepang yang ekonominya kuat dan menguasai teknologi maju, tetapi tingkat kebahagiaan warganya di bawah Indonesia No. urut 43. Ini kentara sekali karena cukup tingginya angka bunuh diri di negeri matahari terbit ini.
Apa rahasianya negara-negara yang warganya cukup bahagia tadi. Disimpulkan bahwa mereka ramah, ikatan keluarga yang kuat, program ekonomi dan sosial yang seimbang. Pada dasarnya dapat kita tarik pelajaran bahwa apa yang dilukiskan al-Alqur’an tentang manusia yang selalu berbuat baik akan disejahterakan hidup dan dianugerahkan kebahagiaan oleh Allah swt. (Q.S. An-Nahl, 96):
97- Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Berikutnya Firman Allah, QS. Al-A’raf, 7: 96
96- Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KETIGA, TANGGUNG JAWAB SEBAGAI KHALIFAH DI MUKA BUMI;
Dengan menyadari esensi atau hakikat Idul Fitri, tiap individu yang merayakannya diharapkan mampu memahami jati diri dan mengenal status serta fungsinya di alam raya ini. Dengan demikian disadari bahwa kehadiran manusia di muka bumi bukan tanpa tujuan. Tujuannya adalah untuk mengabdi kepada Allah (Q.S.Al-Zariyat).
56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Di samping itu manusia harus sadar bahwa ia merupakan unsur dari cahaya ruh ilahi, sebagai makhluk yang memiliki dua dimensi, spiritual, dan material, rohani dan jasmani. Jiwa dan raga. Kedua dimensi ini membutuhkan pengasahan, dan pengasuhan. Keseimbangan di antara keduanya akan mengantarkan manusia kepada pencapaian posisi yang unggul dalam kehidupannya. Manusia harus sadar bahwa ia adalah khalifah, representasi dan wakil Tuhan di bumi ini. (QS, Al-Baqarah, 2:30) :
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Sebagai pemegang amanah Allah untuk menjadi pemimpin di bumi manusia adalah makhluk merdeka dan sebaik-baik ciptaan Allah (laqad khalqnal insana fi ahsani taqwim) dan sebaik-baik ciptaan Allah yang mampu menghidupi diri dan bertanggung jawab pada sesama manusia, kepada lingkungannya, serta pada kemakmuran dan perbaikan dunia ini seusai dengan tuntunan ilahi. Manusia harus mampu menyadari bahwa sebagai khalifah Tuhan, ia tidak diperkenankan mempergunakan keunggulannya, keterampilannya, kekuasaannya secara semena tanpa perhitungan dan tanggungjawab. Manusia harus taat asas serta taat aturan. Ia harus peka akan penderitaan dan ketidakberuntungan sesamanya, serta tidak merampas segalanya untuk dirinya dan membiarkan sesamanya dalam kebodohan dan kemelaratan. Ia harus menyadari bahwa kelak ia akan kembali di hadapan Yang Maha Kuasa untuk mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepadanya dan kualitasnya ditentukan oleh amal perbuatannya (liyabluwakum ahsanu amala). Kualitas amal seseorang itu ditentukan oleh kualitas sumber daya yang dimilikinya. Islam telah mendorong peningkatan kualiatas SDM melalui pendidikan Tidak ada wahyu pada agama lain selain Islam yang menempatkan pendidikan sebagai hal yang paling utama seperti Al-quranul Karim yang surat pertamanya turun di bulan Ramadhan adalah menyatakan pentingnya membaca (QS, Al-Alaq, 96:1-5):
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Oleh karena itu kita berusaha membangun generasi muda yang cerdas, sehat dan terampil. Kita tidak rela meninggalkan generasi yang lemah seperti isyarat firman Allah (QS, Al-Nisak,4:9)
9. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Allah Akbar. Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KEEMPAT, SENANTIASA BERSYUKUR;
Berhari raya Idul Fitri di sisi lain adalah menandai perolehan dan pemantapan rasa dan sifat beryukur yang kita capai setelah sukses beribadah dan mnejalani latihan sebulan penuh. Menurut Al-Quran puasa yang produktif dan sempurna adalah puasa yang mampu membangkitkan rasa dan sifat syukur bagi pelakunya. (Walitukmilul iddata walitukabbirullaha ala ma hadaakum walaallakum tasykurun. QS, 2:185). Sifat syukur tidak hanya terbatas pada ucapan dan pujian kepada Yang Maha Pemurah, Allah, tapi harus sejalan dengan berterimakasih kepada sesama manusia. Bahkan Rasulullah mengatakan orang yang belum berterimakasih kepada sesama manusia belum tentu dapat bersyukur kepada Allah. Dengan kata lain, orang yang mampu dan mau berterimakasih sesama manusia, itulah yang yang mau dan mampu bersyukur kepada Allah. Maka kita pantas berterimakasih kepada pemimpin dan pelaksana pembangunan di daerah kita dan bersyukur kepada Allah atas beberapa prestasi dari orang-orang terkemuka kita, pemerintah kita dan tokoh serta orang yag telah membawa perubahan yang siginifikan. Mari kita sambut dengan hangat visi pembangunan Sumbar berbasis peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kita jalankan program pembangunan yang telah memberikan porsi cukup besar sesuai undang-undang 20 % dari anggaran pembangunan pendidikan. Dengan itu, alhmadulillah kini posisi capaian perolehan nilai dan mutu pendidikian Sumbar secara nasional, akhir-akhir ini telah meningkat cukup meyakinkan. Begitu pula, peningkatan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan perilaku akhlak dan iman takwa serta kelancaran beribadah dan menjaga serta mengendalikan ketertiban dan keamanan daerah kita. Secara nasional negara kita dapat bertahan dari goncangan ekonomi dunia, krisis energi dan gejolak sumber daya. Sejalan dengan itu negara kita secara perlahan dapat menaikkan prestasi pengurangan tindak kejahatan korupsi. Allah berrfirman (QS, Ibrahim, 14:7):
7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.
Berterimakasih dan bersyukur lebih jauh harus kita nyatakan dalam pengabdian dan dharma bakti serta kerja dan karya nyata dan perilaku konkret yang dimanifestasikan dalam uluran tangan kepada yang membutuhkannya. Membantu sesama warga masyarakat. Bagi yang kaya membantu yang miskin dengan hartanya. Bagi yang memiliki kecerdasan dan berilmu pengetahuan adalah membantu orang lain yang masih tertinggal dalam kegelapan dan keterbelakangan. Bagi yang telah kokoh imannya dan tinggi kualitas dan kuantitas ibadahnya mari membantu ummat yang belum kokoh akidah dan iman dan kurang ibadahnya. Bagi yang yang memiliki akhlak dan moral yang tinggi mari mengajak orang-orang yang masih bermental bersahaja dan berperilaku primitif untuk lebih bersusila, bersopan santun, tertib, dan disiplin, tidak membikin onar dan tetap menjaga ketenangan dan ketenteraman. Pokoknya tumbuhkan kemuliaan dengan agama, tegakkan kehormatan dengan ilmu pengetahuan dan kecerdasan serta bangun kharisma dan wibawa dengan akhlak tinggi dan mulia.
Dengan agama, ilmu dan akhlak itulah rangkaian nilai-nilai Idul Fitri ini, kita tingkatkan dalam kelapangan hati, toleransi, kesantunan, kepedulian dan solidaritas sosial. Sejalan dengan kewajiban tiap individu, besar-kecil, kaya dan miskin, bahkan seorang bayi pun yang lahir pada detik-detik terakhir bulan Ramadhan, kesemuanya tanpa terkecuali harus menunaikan kewajiban zakat fitrah sebagai prasyarat dan simbol penting dalam meraih kembali kesucian dasar manusia pada Hari Raya ini. Islam mengajarkan bahwa penyucian diri dan kedekatan diri kepada Allah tidak akan terlaksana, kecuali apabila dibarengi dengan semangat kasih sayang terhadap sesama manusia.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
PESAN KELIMA, KESALEHAN PRIBADI DAN SOSIAL;
Setelah kembali ke fitrah marilah kita segarkan kembali pemahaman kita tentang kesalehan, baik kesalehan pribadi, maupun kesalehan sosial atau kesalehan di ruangan publik. Sebab sering orang lupa bahwa kesalehan tidak hanya diukur dengan ketaatan menjalankan ibadah mahdhah, tetapi juga dari sikap dan prilaku seseorang di hadapan orang, di tempat umum, di kantor, di pasar, atau di dalam ruang publik. Secara teoritis, jika seseorang taat mendirikan shalat lima waktu setiap hari, ditambah dengan rawâtib dan nawâfil; kemudian puasa Ramadhan sebulan penuh ditambah puasa sunah tiga hari sebulan, Senin Kamis, atau puasa Daud sehari puasa sehari tidak; seterusnya melaksanakan ibadah haji dan umrah, bahkan tidak cukup hanya sekali; lalu zikir sebanyak-banyaknya dan tidak pernah lupa berdo’a kepada Allah SWT pagi dan petang…tentu orang seperti itu, jika pedagang, dia akan menjadi pedagang yang jujur, tidak serakah, tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Jika dia seorang praktisi politik, dia akan selalu menepati janjinya kepada publik waktu kampanye, menyesuaikan kata dan perbuatannya, tidak melakukan politik uang, tidak mengadu domba dan tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan. Tidak memfitnah apa lagi black campaign. Jika dia seorang ilmuwan, dia akan selalu bersikap objektif, mempertahankan kebenaran ilmiah yang diyakininya walaupun harus menghadap berbagai macam rintangan, tidak terbujuk untuk melakukan manipulasi ilmiah, dan tidak memperjual belikan teori dan dalil sekadar untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Jika dia seorang ulama, dia akan mewarisi sifat sifat mulia para Nabi, al-ulama warastatul anbiya’; bukan hanya sekadar menginginkan kehormatan dan penghormatan dari murid-murid dan jamaahnya, dia akan tampil di depan memimpin umat dengan jujur dan penuh semangat juang. Itulah teorinya. Tetapi bagaimana praktiknya?
Allah Akbar. Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KEENAM, SESUAIKAN IBADAH DENGAN PERILAKU;
Di dalam kehidupan sehari-hari, kita masih amat banyak merasakan bahwa apa yang menjadi teori dan ajaran normatif Islam tadi, tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Bahkan kita masih banyak menemukan hal-hal yang bertolak belakang. Kesalehan seseorang dalam ruang pribadi atau ketaatan menjalankan ibadah fardhu ‘ain tidak selamanya berjalan searah dan seimbang serta menunjukkan kesalehan dalam prilaku sosial. Rasanya masih amat sedikit kita yang mampu menyeimbangkan kesalehan pribadi dan sosial itu. Kenyataannya masih banyak orang-orang yang terhormat bahkan orang yang kita kita anggap keberagamaan atau religiusitasnya tinggi dalam kesehariannya tampak taat beribadah, suka bersedekah tetapi sering tidak taat aturan. Meskipun menurut penelitian terakhir lembaga tranparency internasional(TI) menyebutkan bahwa pringkat posisi korupsi Indonesia sudah semakin turun beberapa angka, mungkin karena kinerja KP yang dianggap cukup gencar, tetapi tetap saja masih di papan bawah diatas angka seratus atau tepatnya 126 di antara 180 negara di dunia. Ada hal yang membanggakan adalah bagi mereka yang suka kebebasan hak politik dan kebebasan sipil yang dinilai dari 193 negara di dunia pada 15 kawasan. Menurut Freedom House yang sudah berusia 60 tahun, maka tahun ini Indonesia adalah negara dengan prestasi kebebasan yang prima, dengan lambang warna hijau. Sedangkan negara lain yang setengah bebas dan belum bebas adalah berwarna kuning dan ungu.
(http://www.detiknews.com/read/2008/09/23/230524/1011317/10/horeee-korupsi-di-indonesia-turun!).
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
PESAN KETUJUH, KESEIMBANGAN HABL MIN AL-NAS WA HABL MIN ALLAH;
Lalu apa penyebab ajaran Islam dan ibadah kita belum optimal terbukti dalam alam praktis dan praksis kita ? Kita tidak melihat akar persoalannya terletak pada aspek normatif, karena dari sisi ajaran, Islam sangat tegas menghubungkan dua ruang kehidupan tersebut. Dalam Surat Ali Imran 112 Allah menegaskan bahwa orang yang tidak dapat menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia adalah orang yang hina.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…” (Q.S. Ali Imran 3:112)
Sekalipun ayat ini menyangkut orang-orang Yahudi pada zaman Rasulullah SAW, tetapi pesannya bersifat umum. Hablun minallâh dapat dikategorikan sebagai ruang pribadi, dan hablun minannâs sebagai ruang publik. Antara keduanya harus ada sinergi. Orang yang saleh secara pribadi, akan saleh juga dalam ruang publik dan kehidupan sosial. Begitu juga sebaliknya. Kalau tidak, berarti ada yang salah pada orang itu.
Allah Akbar. Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KEDELAPAN, REALISASI SHALAT DALAM PRILAKU;
Orang yang taat shalat misalnya, tidak mungkin melakukan perbuatan keji dan munkar, karena Allah menjanjikan—dan Allah tidak pernah melanggar janji-Nya—shalat berfungsi mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“…Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar…”(Q.S. Al-‘Ankabut 29:45)
Al-Fahsyâ’ (fâhisyah dan fawâhisy) secara bahasa berarti semua perbuatan dan perkataan yang sangat tercela-mâ ‘azhuma qabhuhu min al-af’âli wa al-aqwâl). Dalam bahasa Indonesia digunakan istilah keji. Perzinaan (Q.S. 17:32) dan kikir (Q.S. 2:268) adalah dua contoh perbuatan keji di dalam Al-Qur’an. Orang yang mendirikan shalat tidak akan mendekati perzinaan, apalagi melakukannya, dan juga tidak akan kikir. Begitu juga perbuatan keji yang lainnya tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang mendirikan shalat. Begitulah seharusnya.
Al-munkar secara etimologis berarti sesuatu yang tidak dikenal, lawan dari al-ma’rûf. Menurut Muhammad ‘Abduh, munkar adalah apa yang ditolak oleh akal sehat dan hati nurani (mâ ankarathu al-‘uqûl wa ath-thaba’ as-salîmah). Sedangkan menurut Muhammad ‘Ali ash-Shabûni, munkar adalah apa yang dilarang oleh syara’ dan dinilai buruk oleh akal sehat (mâ nahâ ‘anhu asy-syara’ wa ‘staqbahahu al-‘aqlu as-salîm). Terlihat dari dua definisi ini, bahwa yang menjadi ukuran munkarnya sesuatu ada dua, yaitu agama dan akal sehat atau hati nurani. Bisa kedua-duanya sekaligus atau salah satunya. Semua yang dilarang oleh agama adalah munkar. Hal-hal yang tidak ditentukan oleh agama munkarnya, ditentukan oleh akal sehat atau hati nurani. Jadi waw dalam defenisi Shabûni di atas berarti aw sebagaimana yang didefenisikan oleh al-Ashfahâni’: Ma’rûf adalah sebuah nama untuk semua perbuatan yang dikenal baiknya melalui akal atau syara’, dan munkar adalah apa yang ditolak oleh keduanya (wa al-ma’rûf ismun likulli fi’lin yu’rafu bi al’aqli aw asy-syar’i husnuhu, wal al-munkar mâ yunkaru bihimâ)
Allah Akbar. Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KESEMBILAN, HINDARI KEMUNGKARAN PUBLIK;
Dari definisi di atas terlihat bahwa pengertian munkar sangatlah luas. Sebutlah apa saja sifat, sikap, perbuatan yang tercela baik dalam waktu kita sendiri-sendiri, maupun ketika kita berada di wilayah publik adalah munkar. Berbohong, ingkar janji, khianat, menipu, mencuri, merampok, kolusi-korupsi-nepotisme dan merusak fasilitas umum adalah beberapa contoh kemunkaran dalam ruang publik. Kalau dihubungkan dengan ayat yang kita kutip di atas, maka secara teoritis orang yang mendirikan shalat tidak akan berbohong, tidak akan ingkar janji, tidak khianat dan seterusnya. Menyalahi aturan, wewenang atau beruat zhalim tentu saja juga jauh dari orang-orang yang mendirikan shalat. Tapi bagaimana kenyataannya?
Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd
Ada di antara ummat kita yang ibadah mahdhahnya seperti shalat cukup optimal. Ada orang yang kelihatanya amat taat, rajin ibadah, suka umrah dan hampir tiap tahun karena kemampuannya bisa naik haji, ketika berpuasa dia tidak pernah lalai, semua rukun Islam kelihatannya secara lahiriah dapat dipenuhinya. Tetapi dibalik itu, di dalam perilaku sosial dan di ruang publik ia tidak mampu menegakkan nilai kebaikan dan kesantunan, kejujuran dan kepedulian, bahkan kadang-kadang ucapannya tidak sesuai dengan kenyataan alias sering berdusta dan ingkar janji.
Allah Akbar. Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KESEPULUH, ISLAM MENCELA PRILAKU BURUK:
Untuk lebih menegaskan bahwa secara normatif, Islam sangat mencela perilaku buruk dan tercela dalam ruang publik kita kutip di bawah ini beberapa hadits berikut ini.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Malik Rasulullah SAW sama sekali tidak mentolerir sifat bohong pada diri seorang Mukmin. Kita kutip lengkap riwayat tersebut:
عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلًا فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا فَقَالَ لَا *
“Diriwayatkan dari Shafwan ibn Sulaim, dia berkata, ditanyakan kepada Rasulullah SAW: “Apakah ada orang mukmin yang penakut? Nabi bersabda: “Ada”. Beliau ditanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang kikir?” Beliau bersabda: “Ada”. Kemudian ditanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang pembohong?” Beliau menjawab: “Tidak ada” (H.R. Malik)
Seorang Muslim harus menjauhi segala macam bentuk kebohongan, baik dalam bentuk pengkhianatan, ingkar janji, kesaksian, palsu, fitnah, gunjing ataupun bentuk-bentuk kebohongan lainnya. Sekalipun penakut dan kikir itu dua sifat yang tercela, tetapi sepertinya Rasulullah SAW masih “mentolerirnya” dibanding dengan kebohongan. Antara kebohongan dengan iman memang tidak dapat disatukan sama sekali. Oleh sebab itu kebohongan termasuk salah satu sifat orang munafik (H. Muttafaqun ‘alaihi). Jangankan membohongi masyarakat atau bangsa, apalagi umat manusia, berbohong kepada seorang anak kecil pun tidak dibenarkan oleh Islam. Dalam sebuah riwayat Ahmad Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ تَعَالَ هَاكَ ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ *
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, mari kemari, saya beri korma ini. Kemudian dia tidak memberinya,maka dia telah membohongi anak itu” (H.R. Ahmad)
Allah Akbar. Maasyir al-muslimin wa al-muslimat rahimakumullah
PESAN KESEBELAS, MENJAGA AMANAH;
Begitu juga dengan sifat amanah, sebuah sifat yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Rasulullah SAW menegaskan tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا قَالَ لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
“Diriwayatkan dari Anas ibn Malik, dia berkata, tidaklah Nabi berkhotbah kepada kami kecuali beliau mengatakan: “Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan janji” (H.R. Ahmad)
Amanah dalam pengertian yang sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam pengertian yang luas amanah mencakup banyak hal: Menjaga rahasia, tidak menyalahgunakan jabatan, menunaikan kewajiban dengan baik dan memelihara semua nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Tentang penyalahjabatan kita kutip dua riwayat berikut ini:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ *
“Diriwayatkan dari Abdillah ibn Buraidah, dari bapaknya, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang kami angkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu, dan kami beri upah menurut semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari upah yang semestinya, maka itu namanya korupsi” (H.R. Abu Daud)
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tidak membenarkan tindakan Ibnu al-Latabiyah mengambil hadiah yang didapatnya waktu sedang menjalankan tugas mengumpulkan zakat. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي سُلَيْمٍ يُدْعَى ابْنَ الْلَّتَبِيَّةِ فَلَمَّا جَاءَ حَاسَبَهُ قَالَ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَلَّا جَلَسْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ حَتَّى تَأْتِيَكَ هَدِيَّتُكَ إِنْ كُنْتَ صَادِقًا ثُمَّ خَطَبَنَا فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَسْتَعْمِلُ الرَّجُلَ مِنْكُمْ عَلَى الْعَمَلِ مِمَّا وَلَّانِي اللَّهُ فَيَأْتِي فَيَقُولُ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ أُهْدِيَتْ لِي أَفَلَا جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ حَتَّى تَأْتِيَهُ هَدِيَّتُهُ وَاللَّهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَأَعْرِفَنَّ أَحَدًا مِنْكُمْ لَقِيَ اللَّهَ يَحْمِلُ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ ثُمَّ رَفَعَ يَدَهُ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبْطِهِ يَقُولُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ بَصْرَ عَيْنِي وَسَمْعَ أُذُنِي *
“Diriwayatkan dari Abi Humaid as-Sa’idi, dia berkata, Rasulullah SAW mempekerjakan seorang laki-laki untuk mengumpulkan zakat dari Bani Sulaim. Laki-laki itu disebut Ibnu al-Latabiyyah. Waktu datang (setelah melaksanakan tugas) menghadap Nabi dia melaporkan: “Ini zakat (aku serahkan kepada engkau) dan ini hadiah (untukku). Lalu Rasulullah SAW bersabda (kepadanya): “Apakah jika engkau duduk saja di rumah bapak dan ibumu, apakah hadiah akan datang sendiri kepadamu, jika engkau benar”. Kemudian beliau berkhutbah kepada kami. Setelah memuji Allah beliau bersabda: “Amma Ba’du, dengan kewenangan yang diberikan Allah kepadaku, aku mengangkat seseorang di antara kalian untuk melaksanakan suatu tugas, akan tetapi dia datang melapor: “Ini untuk engkau dan ini untukku sebagai hadiah. “Jika ia duduk saja di rumah bapak dan ibunya, apakah hadiah itu datang sendiri kepadanya, kalau barang itu memang sebagai hadiah? Demi Allah seseorang tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, melainkan ia menghadap Allah nanti pada hari kiamat dengan membawa beban yang berat dari benda itu….” (H.R. Bukhari)
Sidang ‘Id yang berbahagia! Allah Akbar;
PESAN KEDUABELAS, SELALU BERPRILAKU BAIK DAN JUJUR;
Cukuplah kiranya beberapa riwayat—dari khazanah yang sangat kaya– di atas untuk menegaskan bahwa secara normatif Islam sangat mendorong umatnya untuk selalu berprilaku baik dan terpuji dalam ruang publik. Kesalehan individual atau kesalehan pribadi harus diseimbangkan dan disejajarkan dengan kesalehan sosial. Tinggal persoalannya sekarang apakah ajaran-ajaran seperti itu mendapat perhatian yang selayaknya dari umat Islam, termasuk juga dari para ulama dan pemimpin mereka. Para da’i, muballigh dan pendidik lainnya harus lebih banyak lagi mengungkapkan ajaran Islam yang bersifat objektif dan universal di atas. Keimanan tidak hanya dibuktikan dengan ketaatannya mendirikan shalat, mengerjakan puasa, membayar zakat, melaksanakan ibadah haji, berzikir dan berdo’a, tetapi juga dengan kejujuran, amanah, kedisiplinan, ketertiban, kebersihan, keindahan, tepat waktu, etos kerja, memelihara ketentaraman dan keamanan, menjaga fasilitas umum dan lain sebagainya. Atau dengan ungkapan lain, yang masuk kedurhakaan, kefasikan dan kemaksiatan tidaklah hanya meninggalkan shalat, tidak berpuasa, tidak mau berzakat, tidak mau melaksanakan ibadah haji, tetapi juga kebohongan, pengkhianatan, tidak disiplin, tidak tertib, tidak bersih, sembrono, tidak tepat waktu, malas kerja, membikin onar, mencuri, merampok, korupsi, menyalahi wewenang dan tanggung jawab, melawan hukum, merusak fasilitas umum dan lain sejenisnya.
Ajaran Islam yang besifat objektif dan univesal seperti itu haruslah terus menerus dihidupkan, direvitalisasi, disosiasilaiskan dan dibudayakan serta ditanamkan sejak usia dini sampai remaja, pemuda, dewasa dan tua, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat secara lebih luas. Pelaksanaannya harus didukung secara bersama-sama, baik secara kultural maupun struktural. Disiplin dan tertib misalnya, tidak hanya dibudayakan dengan pengajaran dan himbauan semata, tapi juga dengan hukum yang tegas dan tidak pandang bulu. Marilah kita belajar kepada beberapa negara, yang sekalipun penduduknya mayoritas tidak beragama Islam, tapi mereka sangat terpuji dalam membudayakan nilai-nilai baik dan terpuji dalam perilaku sosialnya. Prilaku mereka sebagian besar ternyata bernilai Islami, sekali pun mereka bukan Muslim. Sebaliknya kita Muslim, tetapi banyak prilaku kita di depan umum yang tidak Islami. Seharusnya seorang Muslim lebih islami dari non Muslim.
PESAN KETIGA BELAS, BEKERJA KERAS MELAKSANAKAN AJARAN ISLAM;
Akhirnya marilah kita bekerja keras melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, dengan membudayakannya pertama dalam lingkungan kita yang paling dekat, untuk pada akhirnya dapat merata dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Wa Allahu al-Musta’ân. Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah , Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.
MARIAH KITA BERDOA’A MEMOHON AMPUN DAN PETUNJUK SERTA BIMBINGNGAN TERUS MENERUS KEPADA ALLAH SWT UNTUK KEBAIKAN KITA SEMUA:
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهُمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَاجْعَل فِي قُلُوْبِهِم الإِيْمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوْفُوْا بِعَهْدِكَ الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إِلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ
Ya Allah, ampunilah kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, perbaikilah di antara mereka, lembutkanlah hati mereka dan jadikanlah hati mereka keimanan dan hikmah, kokohkanlah mereka atas agama Rasul-Mu SAW, berikanlah kepada mereka kemamampuan untuk menunaikan janji yang telah Engkau buat dengan mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Allah yang maha benar, jadikanlah kami termasuk di antara mereka.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Ya Allah, perbaikilah sikap keagamaan kami sebab agama adalah benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami sebagai tempat penghidupan kami, perbaikilah akhirat kami sebagai tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan kami di dunia sebagai tambahan bagi setiap kebaikan. Jadikanlah kematian kami sebagai tempat istirahat bagi kami dari setiap keburukan.
اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai keimanan dan hiasilah keimanan tersebut dalam hati kami. Dan jadikanlah kami membenci kekufuruan, kefasikan dan kemaksiatan dan jadikanlah kami termasuk orang yang mendapat petunjuk.
اللهم عذِّبِ الكَفَرَةَ الذين يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ ويُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ ويُقاتِلُونَ أوْلِيَاءَكََّ
Ya Allah siksalah orang kafir yang menghalangi jalan-Mu, dan mendustai rasul-rasul-Mu, membunuh kekasih-kekasih-Mu..
اللّهمَّ أَعِزَّ الإسْلاَمَ وَالمسلمين وَأَذِلَّ الشِّرْكَ والمشركين وَدَمِّرْ أعْدَاءَ الدِّينِ وَاجْعَلْ دَائِرَةَ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ يا ربَّ العالمين
Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, hinakanlah syirik dan orang-orang musyrik, hancurkanlah musuh agama, jadikan keburukan melingkari mereka, wahai Rabb alam semesta. Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.
اللهم فَرِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ مُقْتَدِرٍ إنَّكَ رَبُّنَا عَلَى كلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ يَا رَبَّ العالمين
Ya Allah, cerai beraikan persatuan dan kekuatan mereka, siksalah mereka, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu, wahai Rabb alam semesta.
اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah, berilah kesabaran kepada kami atas kebenaran, keteguhan dalam menjalankan perintah, akhir kesudahan yang baik dan ‘afiyah dari setiap musibah, bebas dari segala dosa, keuntungan dari setiap kebaikan, keberhasilah dengan surga dan selamat dari api neraka, wahai dzat yang Maha Pengasih.
رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
وصَلِّ اللهمَّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سيدِنا مُحَمّدٍ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ وَسلّم والحمدُ للهِ
Wassalamulaikum warahmatullah wabarakatuh.
[1] Khutbah ‘Iedul Fitri 1 Syawal 1429 H disampaikan di halaman Kantor Gubernur Sumbar.
[2] Dosen IAIN IB Padang dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar serta Sekretaris ICMI Sumbar.