Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Ayahanda YTC HbdlKarimBerhaji1976-1

http://hariansinggalang.co.id/memperkuat-masyarakat-madani-yang-gamang/

Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Home » Opini » Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Catatan dari Silaknas ICMI 2014 Gorontalo (5-habis) — Shofwan Karim — DI MASA awal berdirinya ICMI, 7 Desember 1990 di Kampus Universitas Brawijaya, isu sentral yang mengemuka antara lain adalah mempopulerkan dan menggairahkan elan vital Masyarakat Madani (MM).

BJ. Habibie yang pada waktu itu menjadi bintang utama ICMI bersama tokoh awal, amat ambius menjadikan MM sebagai poros segala harapan. Tokoh ini menjadi Ketua Umum ICMI 2 periode dan sampai sekarang, Habibie adalah Ketua Dewan Kehormatan ICMI Pusat. Pada sesi awal Silaknas, melalui video-teleconference langsung, hal itu tetap disinggungnya.

Meskipun bagi cendekiawan tertentu, MM dinisbahkan kepada civil-society (masyarakat kewargaan), dan itu dengan latar belakang konsep Barat, maka ICMI tidak serta merta menganut konsep itu.
ICMI lebih cendrung kepada konsep masyarakt sivil dengan yang mendapat aura dari masa awal kehadiran Islam awal periode Madinah di zaman Rasulullah.

Oleh karena itu, salah seorang di antara cendekiawan yang menonjol waktu itu, Nurcholish Madjid memahami MM itu dengan konsepsi Islami.

Di antaranya, MM yang dibangun Nabi Muhammad SAW berwatak : egalitarianisme (persamaan derajat); penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras dan sebagainya); keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat; penegakan hukum dan keadilan; toleransi dan keadilan; dan musyawarah.

Menjawab gamang
Pada masa awal Orde Baru, dianggap oleh sebagian para ahli dan pengamat, jagad kehidupan berbangsa-bernegara Indonesia terkooptasi oleh triumpirat Soeharto, TNI (ABRI waktu itu dengan kredo dwi-fungsi) dan kaum birokrat dan teknokrat.

Walaupun begitu, sayap masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, meski di periperal, mulai mendapat tempat. Akan tetapi tentu saja tidak sejajar dengan tiga kekuatan tadi. Di dalam porsinya yang sangat kecil, pada waktu itu digalakkan suatu terma yang popular disebut partisipasi masyarakat.

Pemerintah sebagai pelaku utama pembangunan, dan masyarakat ikut serta. Kesannya ada nuansa, bahwa masyarakat menjadi faktor sekunder.

Pada era reformasi, pada awalnya, pendulum itu berbalik. Masyarakat dengan inti kaum muda, politisi progresif, sebagian TNI muda sahabat aktivis, ormas, wartawan, budayawan dan intelektual-cendekiawan, Ornop (organisasi non pemerintah) yang pada sebutan lain NGO, semuanya ‘menyerbu’ ke arena perjuangan membalikkan situasi.

Amin Rais, Nurcholish Madjid, Gus Dur, Yusril Ihza dan seterusnya, belumlah tokoh di pusat kekuasaan. Mereka adalah butiran pasir di tengah MM yang fokal dan dikagumi kalangan masyarakat sipil. Membaca kembali proyek kemajuan yang mereka perjuangkan waktu itu, pasti semuanya berdecak kagum kepada mereka. Artinya, MM menjadi lebih bergigi.

Akan tetapi sekarang, terjadi sebuah kontradiksi baru. Jagad persilatan ke-Indonesiaan sekarang, dipegang oleh partai politik, segelintir cendekiawan yang berkolaborasi dengan kelompok pers yang kuat. Sehingga menciptakan keterbelahan yang hampir optimal.

MM dalam pengertian yang murni, kelihatannya mayoritas tutup mulut dan tetapi pasang telinga dan buka mata. Organisasi besar seperti MUI, Muhammadiyah, NU, termasuk ICMI sendiri dan puluhan ormas Islam serta ormas Kristiani, Hindu dan Budha serta lain-lain, seakan tiarap.

Mereka bukan tiarap karena takut, tetapi lebih kepada mentiarapkan diri sendiri. Mungkin inilah masa yang dapat disebut era masyarakat madani yang gamang.

Kecendekiawanan, ke-Islaman dan ke-Indonesian ICMI terus menerus merevitalisasi kredo awalnya tentang tiga fundamen kehidupan MM yang menjadi obsesi idealnya. Tiga fundamen yang diharapkan terus menerus tempatnya berpijak adalah kekuatan nalar kecendekiawanan, nilai-nilai Islami, dan pondasi ke-Indonesiaan.

Ketua Dewan Penasehat, Jimly Asshiddiqie pada penutupan Silaknas, meminta ICMI untuk melakukan terus menerus revitalisasi internal. Antara lain melakukan hijrah moral, melakukan revolusi mental dengan meningkatkan peranan di dalam pembangunan. Terutama di dalam pemberdayaan ekonomi umat, tanggungjawab ICMI yang sudah menjadi sejarah kini mesti diperkuat kembali.

Sementara itu, Ketua Presidium Sugiharto di dalam sambutan penutupan meminta segenap anggota, pimpinan dan aktifis serta badan-badan otonomi, yang dulu sangat bergairah, kembali memperkuat gairah dan semangat. ***

1518762_10152853018943433_7990527101768230375_o

Komentar Singgalang:

Esa Hilang Dua Terbilang

Oleh Shofwan Karim

Tentu saja lelaki 60-an tahun itu senyum dan bersyukur membaca induk berita halaman pertama Harian Singgalang, Selasa, 11 April 2017 kemarin.

Teman yang terpaut usia hampir dua dasawarsa di bawahnya menghiasi halaman koran ini. Prof. Dr. Saldi Isra, SH., MPA dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Hakim Mahakamah Konstitusi (MK).

Bagi lelaki ini bukan Saldi yang menjadi titik pikirannya. Tetapi kondisi kejiwaan masyarakat dan warga Minang yang di kampung dan di rantau, itulah yang membuat dia tersenyum dan sekaligus bersyukur.

Di tengah badai kejiwaan kolektif etnis Minang yang terjepit dan meleleh akhir-akhir ini, Saldi menjadi setitik lubang yang ditimpa cahaya dalam sebuah kamar yang gulita.

Ini bukan berarti menapikan nama-nama lain yang mungkin masih ada di belantara jagad republik ini mempunyai prestasi dan prestise seperti Saldi. Tetapi keadaan jiwa masyarakat dan warga ranah Minang sejak hampir 2 tahun ini galau tak alang kepalang telah mendapat siraman sedikit air yang menyejukkan.

Di lepau, di café, dan di sudut-sudut palanta, bagai bunyi nyamuk menderu suara bising menyesali diri karena satu persatu tokoh Minang yang selama ini dianggap menjadi ikon bahkan mascot, dicokok berbagai persoalan.

Tidak usahlah menyesali diri berkepanjangan. Tegakkan kepala dan atur siasat dan strategi lagi.

Saldi, dia anggap unggul dalam hal siasat dan strategi ini. Tak lama setelah Saldi diangkat menjadi Komisaris Utama (Komut) PT SP, dia diberi tahu tidak sengaja oleh Saldi, bahwa dirinya mungkin tidak akan lama menjadi Komut PTSP.

Mendengar kata-kata itu, dia seakan sudah mendapat angin bahwa Komut hanyalah langkah pertama Saldi memasuki wilayah beban tanggungjawab kenegaraan di luar tugas pokoknya sebagai Guru Besar di Unand.

Sejak masa awal reformasi, Saldi adalah anak muda yang vokal. Dia masih ingat di Masjid Tqwa Muhammadiyah, bersama pemuda Muhammadiyah pada pasca awal reformasi, pada tahun 1999 dan 2000, Saldi keras berkata kritis soal korupsi.

Apalagi waktu itu, ada kasus yang dikenal dengan korupsi berjamaah. Saldi mendapat tekanan. Bahkan singkat cerita, Saldi hampir tidak mau lagi dekat dengan komunitas yang semula menjadi tikar awal namanya dikenal. Bukan karena apa-apa tetapi komunitas itu sudah mengucilkannya karena ada pihak tertentu yang amat tersinggung oleh vokalnya suara Saldi waktu itu.

Dan Saldi memang ibarat pepatah esa hilang dua terbilang. Dia tekun berkonsentrasi bukan lagi dengan cara lama tetapi dengan pedang ilmu dan analisisnya Saldi menjadi penulis “kondang” di media nasional.

Tulisannya ditunggu untuk dibaca di koran lokal dan nasional. Suaranya dinanti di forum-forum nasional. Bahkan selama hampir dua minggu beberapa tahun lalu Saldi berkeliling Amerika atas undangan ngeri itu menjajakan betapa korupsi harus diberantas di negerinya.

Dan jangan lupa, meski tidak ada yang menghujatnya, di Sumbar Saldi dianggap oleh pihak pemenang Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai pihaknya pada Pilpres 2014. Dan tentu turut merasakan betapa Jokowi-JK kalah di Sumbar. Markas Besar Tuah Sakato Pemenang Pilpres Jokowi-JK yang berkantor di pertigaan Sudirman-A Yani Padang merasakan waktu itu.

Esa hilang dua terbilang, boleh juga dianggap sebagai obat demam pelerai sansai bagi orang Minang. Saldi adalah generasi penyambung yang diharapkan dapat mengemban tugasnya selamat sampai masa yang wajar. Sehingga tanggung jawab saldi boleh jadi berlipatganda. Bukan hanya untuk diri dan keluarga serta kampungnya, lebih-lebih lagi untuk pelanjut wibawa dan marwah serta martabat Minang. Semoga Allah memberi enerji dan kekuatan kepadanya. Akhirnya tulisan ini selesai juga dibuat oleh penulisnya. ***

Published by Harian Singgalang, Wednesday, 12 April 2017. 

Copas

*Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah*
Oleh: _Dr. Adian Husaini_*

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS -Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh.

VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti *Dewi Sartika* di Bandung dan *Rohana Kudus* di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

*Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang* sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah *Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah* dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda.

Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa _Kartini_? Mengapa bukan *Rohana Kudus*? Mengapa bukan *Cut Nyak Dien*? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam.

Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

*_Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel._*

*Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.*

Home of my Thought and Expression