Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Ayahanda YTC HbdlKarimBerhaji1976-1

http://hariansinggalang.co.id/memperkuat-masyarakat-madani-yang-gamang/

Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Home » Opini » Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Catatan dari Silaknas ICMI 2014 Gorontalo (5-habis) — Shofwan Karim — DI MASA awal berdirinya ICMI, 7 Desember 1990 di Kampus Universitas Brawijaya, isu sentral yang mengemuka antara lain adalah mempopulerkan dan menggairahkan elan vital Masyarakat Madani (MM).

BJ. Habibie yang pada waktu itu menjadi bintang utama ICMI bersama tokoh awal, amat ambius menjadikan MM sebagai poros segala harapan. Tokoh ini menjadi Ketua Umum ICMI 2 periode dan sampai sekarang, Habibie adalah Ketua Dewan Kehormatan ICMI Pusat. Pada sesi awal Silaknas, melalui video-teleconference langsung, hal itu tetap disinggungnya.

Meskipun bagi cendekiawan tertentu, MM dinisbahkan kepada civil-society (masyarakat kewargaan), dan itu dengan latar belakang konsep Barat, maka ICMI tidak serta merta menganut konsep itu.
ICMI lebih cendrung kepada konsep masyarakt sivil dengan yang mendapat aura dari masa awal kehadiran Islam awal periode Madinah di zaman Rasulullah.

Oleh karena itu, salah seorang di antara cendekiawan yang menonjol waktu itu, Nurcholish Madjid memahami MM itu dengan konsepsi Islami.

Di antaranya, MM yang dibangun Nabi Muhammad SAW berwatak : egalitarianisme (persamaan derajat); penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras dan sebagainya); keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat; penegakan hukum dan keadilan; toleransi dan keadilan; dan musyawarah.

Menjawab gamang
Pada masa awal Orde Baru, dianggap oleh sebagian para ahli dan pengamat, jagad kehidupan berbangsa-bernegara Indonesia terkooptasi oleh triumpirat Soeharto, TNI (ABRI waktu itu dengan kredo dwi-fungsi) dan kaum birokrat dan teknokrat.

Walaupun begitu, sayap masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, meski di periperal, mulai mendapat tempat. Akan tetapi tentu saja tidak sejajar dengan tiga kekuatan tadi. Di dalam porsinya yang sangat kecil, pada waktu itu digalakkan suatu terma yang popular disebut partisipasi masyarakat.

Pemerintah sebagai pelaku utama pembangunan, dan masyarakat ikut serta. Kesannya ada nuansa, bahwa masyarakat menjadi faktor sekunder.

Pada era reformasi, pada awalnya, pendulum itu berbalik. Masyarakat dengan inti kaum muda, politisi progresif, sebagian TNI muda sahabat aktivis, ormas, wartawan, budayawan dan intelektual-cendekiawan, Ornop (organisasi non pemerintah) yang pada sebutan lain NGO, semuanya ‘menyerbu’ ke arena perjuangan membalikkan situasi.

Amin Rais, Nurcholish Madjid, Gus Dur, Yusril Ihza dan seterusnya, belumlah tokoh di pusat kekuasaan. Mereka adalah butiran pasir di tengah MM yang fokal dan dikagumi kalangan masyarakat sipil. Membaca kembali proyek kemajuan yang mereka perjuangkan waktu itu, pasti semuanya berdecak kagum kepada mereka. Artinya, MM menjadi lebih bergigi.

Akan tetapi sekarang, terjadi sebuah kontradiksi baru. Jagad persilatan ke-Indonesiaan sekarang, dipegang oleh partai politik, segelintir cendekiawan yang berkolaborasi dengan kelompok pers yang kuat. Sehingga menciptakan keterbelahan yang hampir optimal.

MM dalam pengertian yang murni, kelihatannya mayoritas tutup mulut dan tetapi pasang telinga dan buka mata. Organisasi besar seperti MUI, Muhammadiyah, NU, termasuk ICMI sendiri dan puluhan ormas Islam serta ormas Kristiani, Hindu dan Budha serta lain-lain, seakan tiarap.

Mereka bukan tiarap karena takut, tetapi lebih kepada mentiarapkan diri sendiri. Mungkin inilah masa yang dapat disebut era masyarakat madani yang gamang.

Kecendekiawanan, ke-Islaman dan ke-Indonesian ICMI terus menerus merevitalisasi kredo awalnya tentang tiga fundamen kehidupan MM yang menjadi obsesi idealnya. Tiga fundamen yang diharapkan terus menerus tempatnya berpijak adalah kekuatan nalar kecendekiawanan, nilai-nilai Islami, dan pondasi ke-Indonesiaan.

Ketua Dewan Penasehat, Jimly Asshiddiqie pada penutupan Silaknas, meminta ICMI untuk melakukan terus menerus revitalisasi internal. Antara lain melakukan hijrah moral, melakukan revolusi mental dengan meningkatkan peranan di dalam pembangunan. Terutama di dalam pemberdayaan ekonomi umat, tanggungjawab ICMI yang sudah menjadi sejarah kini mesti diperkuat kembali.

Sementara itu, Ketua Presidium Sugiharto di dalam sambutan penutupan meminta segenap anggota, pimpinan dan aktifis serta badan-badan otonomi, yang dulu sangat bergairah, kembali memperkuat gairah dan semangat. ***

1518762_10152853018943433_7990527101768230375_o

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Zulkifli Hasan Berbagi Kisah Hidup Semasa Kecil

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menghadiri silaturahim bersama pimpinan daerah Muhammadiyah Padang Panjang, Sumatera Barat, Jumat (16/9). Kepada siswa-siswi pondok pesantren, Zulkifli yang didampingi Ketua Fraksi PAN DPR RI Mulfachri Harahap membagi pengalaman masa kecilnya.

Zulkifli bercerita, saat usianya baru 4 tahun, ia sudah sering diminta orang tuanya ke masjid untuk memukul bedug saat masuk waktu subuh, dan sejak kecil juga dirinya sudah diajarkan mengaji.

“Belum sampai 6 tahun, saya sudah khatam. Di kampung saya kalau khatam potong ayam. Saya senang sekali,” ujar Zulkifli.

Bagi Zulkifli, dengan memiliki pengetahuan agama yang baik, maka bisa menyeimbangkan ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah. Sebab menurutnya, ilmu pengetahuan umum saja tidak cukup untuk menuju kesuksesan.

“Dapat pengetahuan umum dan juga ilmu agama karena cerdas saja tidak cukup. Melalui penelitian, ilmu dan teknologi saja tidak cukup. Tapi lebih penting lagi perilaku. Sehingga dapat lebih tahan terhadap tantangan,” kata dia.

Zulkifli juga menceritakan bagaimana perjuangan ibunya untuk menyekolahkannya semasa kecil dulu. Sebab, pendidikan menjadi fondasi utama untuk masa depan.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan dan landasan ekonomi yang kuat untuk menjadi bekal generasi muda dalam menghadapi tantangan masa kini.

“Sekolah itu penting. Jadi bagi Ibu-ibu sesulit apapun kondisinya tolong sekolahkan anaknya. Ilmu pengetahuan dan ilmu ekonomi itu penting. Anak-anak sekarang bisa jadi apa saja tergantung daya juang masing-masing,” kata dia.

http://m.republika.co.id/berita/mpr-ri/berita-mpr/16/09/16/odlqda368-zulkifli-hasan-berbagi-kisah-hidup-semasa-kecil

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Road Show Acting US Ambassador, AAAWS, Environmental Protection and Meet and Greet Prominent Figur of WS

Road Show Acting US Ambassador, AAAWS, Environmental Protection and Meet and Greet Prominent Figur of WS Oleh Shofwan Karim Pada Senin 22, Selasa 23 Agusutus 2016 saya diminta oleh US Consulate Sumatera di medan untuk membantu menyukseskan beberapa agenda tidak … Continue reading

Gallery | Leave a comment

One day at the to top of Rocher de Naye, Switzerland – with Shofwim, Shofwan, putri, Mella, and Tria Yola

View on Path

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Imnati one day – with Shofwan, Ita, Riana, Tria Yola, Iashika, putri, Shofwim, and Mella at Four Seasons Hotel Hangzhou at West Lake

View on Path

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Gubernur Dukung Masjid Taqwa jadi Ikon Kebanggaan Kota Padang – Suara Muhammadiyah

http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/06/24/gubernur-dan-walikota-padang-siap-support-pengembangan-masjid-taqwa-muhammadiyah-padang/

Gubernur Dukung Masjid Taqwa jadi Ikon Kebanggaan Kota Padang

PADANG, suaramuhammadiyah.id — Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyatakan dukungannya untuk memfasilitasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat dalam menarik investor dalam mewujudkan mimpi mengembangkan Masjid Taqwa yang memiliki plaza dan hotel syariah.

“Semua diawali mimpi dan cita-cita. Ini rencana besar yang bisa saja diwujudkan jika ada investor. Untuk itu kita akan berupaya memfasilitasinya,” ungkapnya usai memberikan ceramah agama di Masjid Taqwa Muhammadiyah di kawasan Pasar Raya Padang, Minggu (19/06).

Menurut Irwan Prayitno, pengembangan Masjid Taqwa merupakan ide yang luar biasa. Mengingat, masjid dimaksudkan berdiri di Pasar Raya Padang sebagai pusat keramaian dan jantung kota. Dengan lokasi yang strategis, terdapat potensi keuntungan yang besar mengiringi pengembangan Masjid Taqwa.

“Ini lokasi mahal. Pasti investor tertarik,” tuturnya.

Sebelumnya, Walikota Padang, H Mahyeldi menyatakan dukungannya terhadap upaya pengembangan Masjid Taqwa Muhammadiyah untuk menjadi ikon kebanggaan Kota Padang. “Kami siap menfasilitasi pengembangan masjid Taqwa ini karena letaknya yang strategis dan titik central Kota padang,” ujarnya.

Mahyeldi juga memberikan bantuan Rp10 juta kepada pembangunan masjid Taqwa Muhammadiyah Padang.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, Dr Drs Shofwan Karim Elha, MA mengatakan, rencana pengembangan Masjid Taqwa sebenarnya bukan hal baru, karena cetak biru tentang rancangan bangunan Masjid Taqwa telah digambar sejak lama.

“Sejak zaman Walikota Padang masih Hasan Basri Durin, blue print Masjid Taqwa sudah ada. Bangunan ini terhubung dengan Balaikota dan Pasar Raya, serta memiliki parkir bawah tanah. Kita sampaikan ini ke Walikota sekarang. Beliau mendorong untuk diwujudkan,” terangnya.

Menurut Shofwan Karim jika pengembangan Masjid Taqwa terwujud, maka salah satu masjid terbesar di Indonesia selain Masjid Raya Sumatera Barat saat ini, layak dijadikan ikon. Untuk pengembangan, dibutuhkan penambahan lahan serta dana pembangunan yang cukup besar. Saat ini pengurus masih melakukan perhitungan serta mematangkan rencana. Terkait target merealisasikan Masjid Taqwa yang lebih modern dan terintegrasi, menurut Shofwan Karim belum bisa ditentukan.

“Bisa jadi cepat terwujud, kalau secepatnya ada investor. Kita tidak bisa targetkan, tapi optimis dulu dan ikhtiar,” pungkasnya (RI).

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Just recognized I am getting older, may Allah bless me and my family and get more virtually on the rest of life. Amen . – with adri, lenggogeni, Cynara, ababil, Muchtar, Dhanny, Dian Azhari, Akbar, Jafra , Yuliandre, Owwy, Arif, H. Arif, Musfi, Lisa, Yusuf, Arif, Aslim Nurhasan ST SATI, putri, lusiana, Mak Nuala, Siska, Syahril, Meldy, Yana, Boby, Andri, Tanta, Tria Yola, Muchdian, Sena, Miya, an99ia 👸, Asmul, fachry, Agung, Mai, FM, abdullah, Iashika, Indah, sariani, Teddy, CINDY, Herlin, Yong, Johny, crom, Andi, Allevia, Ita, Dior, Andri, Rahmi, RAFI, Taufiq, Shofwim, Mella, Suci, Irma, muchtar, Dini, dewie, Andree Algamar, Gustira, Shofwan, Dessy, RAFI, Musfi, Mila, Salam, Fineke, Hendra, Hendri, Wedy, Tan, Adam, PakDe-MakDy, and Irman at Istano Silinduang Bulan

View on Path

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Komisaris dan Direksi Semen Padang Dirombak

Arsip 2011

Shofwan Karim.Waja1

DR. Drs. H. Shofwan Karim Elha, M.A.

 

Komisaris dan Direksi Semen Padang Dirombak

Widodo Dicopot Dari Kursi Dirut
JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Semen Padang (PTSP) yang dipimpin oleh Dirut PT Semen Gresik (PTSG), akhirnya menetapkan Munadi Arifin sebagai Direktur Utama (Dirut) PTSP menggantikan Widodo. RUPSLB berlangsung di kantor PT SG, kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/6).

Selain Munadi Arifin, wajah baru dalam jajaran direksi juga terdapat nama Benny Wendri. Mantan Sekretaris Perusahaan PTSP itu dipercaya untuk menempati posisi Direktur Pemasaran. Pejabat karir PTSP lainnya yang juga menempati posisi direksi adalah Agus BN (Direktur Litbang dan Toto Sudibyo (Direktur Produksi). Sedangkan Eprilyono yang sudah menjabat lebih dari lima tahun berturut-turut sebagai Direktur Keuangan masih tetap dipertahankan.

Pada jajaran komisaris, tokoh masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) Basril Djabar dan pakar hukum Elwi Danil harus meninggalkan jabatannya karena diganti oleh Basril Basyar dan Syafrinawati Akbar. Sedangkan Muzani Syukur masih tetap sebagai komisaris utama. Demikian pula dengan Syofwan Karim dan Hidayat yang masih tetap di posisi komisaris.

Ada pun nama Ketua Umum Gebu Minang Asril Hamzah Tanjung dan mantan Kapolda Sumbar Dasrul Lamsudin yang sempat disebut-sebut bakal duduk di jajaran komisaris, akhirnya kandas. Begitu juga dengan nama Zulhefi Sikumbang (Ketua Umum Bakor IKK Padang), juga tidak dilirik pemegang saham.

Secara lengkap, susunan Dewan Komisaris PT SP hasil RUPSLB adalah Muzani Syukur (Komisaris Utama), didampingi oleh empat komisaris yakni Imam Hidayat, Syofwan Karim, Basril Basyar, dan Syafrinawati Akbar.

Sedangkan untuk posisi direksi adalah Munadi Arifin (Direktur Utama), Benny Wendri (Direktur Pemasaran), Agus BN (Direktur Litbang), Eprilyono (Direktur Keuangan) dan Toto Sudibyo (Direktur Produksi).

RUPSLB yang dipimpin Dwi Soetjipto itu berlangsung tertutup bagi wartawan. Bahkan usai RUPSLB PTSP juga tidak digelar konferensi pers sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perseroan lainnya.

Usai RUPSLB, Munadi Arifin melalui telepon genggamnya menyampaikan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diberikan PTSG selaku pemegang saham untuk memimpin PTSP lima tahun ke depan. Dia juga mengungkap langkah awal yang akan ia lakukan bersama jajaran direksi antara konsolidasi internal lalu berusaha meningkatkan produksi dari 6,1 juta ton pertahun menjadi 6,5 juta ton pada tahun 2012.

“Kami akan berusaha meningkatkan produksi menjadi 6,5 juta ton tahun depan dan menargetkan dimulainya pembangunan Indarung VI serta kosentrasi mengisi pemasaran tetap wilayah Sumatera, Jakarta, Jawa Barat dan Banten,” ujar Munadi.

Menyinggung keluarnya izin pemanfaatan hutan lindung seluas 412 hektar di Bukit Karang Putih untuk cadangan bahan baku PTSP, Munadi merasa sangat lega. “Keputusan pemerintah itu memudahkan pihaknya untuk meminta pemegang saham segera mewujudkan pembangunan Indarung VI yang sudah lama tertunda.”

Optimisme yang sama juga diungkap Direktur Pemasaran PTSP Benny Wenri. “Saya akan berusaha sekuat tenaga menjalankan amanah ini, khususnya di bidang pemasaran,” ujar Benny yang selama ini terbilang efektif dalam berkomunikasi dengan pihak eksternal perusahaan.(fas/jpnn)

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Hasil Kongres Kalender Islam di Turki

Hasil Kongres Kalender Islam di Turki (Wawancara Eksklusif dengan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid)

Hasil Kongres Kalender Islam di Turki (Wawancara Eksklusif dengan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid)

Screen Shot 2016-06-07 at 7.33.45 PM.png

Hasil Kongres Kalender Islam di Turki (Wawancara Eksklusif dengan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid)

Kongres Penyatuan Kalender Hijriah yang diselenggarakan di Turki 28-30 Mei 2016 telah usai. Melalui disksusi panjang nan alot, akhirnya sistem voting dipilih untuk menetapkan keputusan terkait kalender mana yang akan disepakati, apakah zonal atau unifikatif? Dengan memanjatkan syukur, akhirnya konsep kalender unifikatiflah yang disepakati sebagai kalender Islam dunia. Kalender ini diyakini mampu menjadi solusi kongkrit atas persoalan terkait pelaksanaan momen ibadah umat Islam  yang terjadi selama ini. Meski demikian ada hal-hal yang perlu digarisbawahi terkait penyelenggaraan kongres tersebut. Mulai dari pemberitaan hasil kongres yang sempat simpang siur, sampai konsep kalender terpilih yang perlu mendapat catatan. Kesimpangsiuran berita terjadi pada hari-hari diselenggarakannya kongres. Ada sebagian situs Arab yang memberitakan tentang terpilihnya konsep kalender unifikatif milik Jamaluddin Abdurraziq sebagai kalender Islam dunia. Namun di sisi lain, terdapat pemberitaan yang berbeda, semisal tetap menjadikan rukyat sebagai landasan utama. Selain itu, terpilihnya konsep kalender unifikatif yang diusulkan tim panitia ilmiah juga konon tidak praktis. Ini seperti yang diungkapkan ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar, sepulangnya dari kongres tersebut.

Untuk mendapatkan berita yang valid sekaligus klarifikasi atas kesimpangsiuran yang terjadi, beberapa hari lalu dua alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM): Niki Alma Febriana Fauzi dan Qaem Aulasyahied berkesempatan mewawancarai Prof. Syamsul Anwar di kediamannya. Berikut petikan wawancara tersebut yang dilakukan pada sore hari tanggal 3 Juni 2016.

Di bagian akhir wawancara, redaksi web tarjih juga mencantumkan naskah asli konsep kalender zonal dan unifikatif yang mengemuka pada saat kongres. Selain itu, redaksi juga mencatumkan tanggapan Prof. Syamsul Anwar dalam bahasa Arab yang beliau tulis di tengah-tengah kongres (sampai pukul dua malam) atas dua konsep yang mengemuka tersebut. Para pembaca dapat mendownloadnya di akhir wawancara.

Ustadz Syamsul, bisa diceritakan bagaimana kongres di Turki kemarin, Ustadz?

Baik. Jadi, tanggal 28 sampai 30 Mei diadakan kongres internasional penyatuan kalender hijriah yang diselenggarakan oleh Badan Urusan Keagamaan Turki (Presidency of Religious Affairs), di Istanbul, Turki. Kemudian perlu dijelaskan sebelumnya bahwa sistem kongresnya bukan simposium. Tapi para peserta mengajukan makalah, lengkap dengan konsep kalender. Paper-paper yang masuk dan diterima diolah oleh panitia ilmiah dari kongres itu yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kongres tersebut dari segi akademis. Mereka kemudian meramu paper yang masuk, termasuk punya saya, dan kemudian mereka menyimpulkan ada dua konsep: kalender bizonal dan kalender tunggal. Kalender bizonal ini kriterianya saya agak lupa persisnya, tapi ada cacatannya. Dan yang kedua kalender tunggal itu: (1) imkanu rukyat 5-8 (tinggi hilal minimal 5 derajat, elongasi 8 derajat) di suatu tempat di seluruh dunia sebelum pukul 12 malam GMT. Dalam arti, apabila sudah imkanu rukyat 5-8 di suatu tempat di muka bumi sebelum pukul 12 malam waktu GMT maka sleuruh dunia besoknya memulai tanggal 1. Dalam hal terjadi bahwa imkanu rukyat 5-8 itu tercapai tetapi sudah melewati pukul 12 malam waktu GMT, maka terhadap kasus itu diterapkan kriteria berikutnya, yaitu bahwa imkanu rukyat yang lewat pukul 12 malam GMT itu terjadi sebelum fajar di New Zealand. Dan imkanu rukyat itu sudah mencapai daratan benua Amerika.

Perdebatannya yang banyak itu adalah tentang matlak. Apakah ada perbedaan matlak (ikhtilaf al-mathali) atau hanya satu matlak (ittihad al-mathali’). Menurut yang pertama, tiap-tiap tempat harus ada matlaknya sendiri. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, seluruh dunia itu satu matlak (ittihad al-mathali’). Artinya, satu tanggal satu hari di seluruh dunia. Ini yang menjadi perdebatan sengit. Kemudian perdebatan ini tidak selesai. Dan akhrinya di voting. Yang menang adalah satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Satu hari satu tanggal itu 80 suara. Kalender bizonal 27 suara. Suara abstain, sepertinya 14. Suara tidak sah itu 6. Semuanya 127 peserta yang punya hak pilih. Mungkin pesertanya lebih, tapi yang punya hak suara hanya itu. Dari Indonesia 3 orang. Saya, Pak Muhyidin Djunaedi (MUI) dan Hendro Sentyanto (PBNU). Semua dari Indonesia memilih satu hari satu tanggal.

Kenapa pengambilan keputusan kongres itu sampai dilakukan voting?

Karena para peserta dan forum pada saat itu tidak sepakat antara ikhtilaf al-mathali atau ittihad al-mathali’, maka akhirnya dilakukan voting untuk memutuskan.

Jadi konsep satu hari satu tangal yang dipilih itu bukan konsep kalender Jamaluddin Abdurraziq?

Bukan. Itu ramuan dari tim panitia ilmiah dari semua paper yang masuk.

Apakah ada remomendasi-rekomendasi dari kongres itu?

Voting itu hanya memilih antara zonal atau tunggal, tapi tidak menjelaskan kriteria satu hari satu tanggal yang disepakati itu seperti apa. Karena kan selama kongres itu konsep yang diajukan panitia ilmiah mendapatkan masukan dan tanggapan. Setelah selesai voting pun saya tunggu-tunggu, penjelasan satu tanggal satu hari itu apakah berikut dengan kriteria seperti yang ada dalam proposal tim panitia ilmiah atau tidak? Nah, saya meninggalkan di situ beberapa halaman catatan untuk menanggapi kriteria itu. Karena kriteria itu  pertama tidak praktis, rumit dan orang tidak bisa membuat kalender di berbagai tempat dengan kriteria tersebut. Harus ada satu komite kalender internasional untuk menetapkan. Nah itu kan tidak praktis namanya. Nanti komite itu dimana? Apakah di Turki? Nanti kalau di Turki, orang Arab apa mau? Terus kalau tempatnya di Arab, apa orang-orang Afrika, Eropa, apa mau? Itu masalahnya. Beda dengan kalender masehi, itu kriterianya jelas. Siapapun orang di seluruh dunia membuat kalender berdasarkan kriteria kalender masehi, tidak harus bertanya terlebih dahulu kepada suatu komite kalender. Karena memang tidak ada komite kalender masehi. Kalau kalender hijriah dengan kriteria seperti itu tidak bisa seperti kalender masehi. Harus ada komitenya.

Apa kelemahan kriteria dari konsep kalender tunggal yang diusulkan tim pantia itu, Ustadz?

Nah, kelemahannya itu di mana? Pertama, saya memberi catatan angka 5-8 itu dasar ilmiahnya dari mana? Apakah dikumpulkan hasil rukyat di berbagai tempat, lalu dianalisis secara statistik. Atau berdasarkan verifikasi dan eliminasi, yaitu mengumpulkan kemungkinan-kemungkinan misalnya 5-7, 6-8, 5-7 ½ , 5 ½ -9. Itu semua dikumpulkan, lalu dianalisis satu persatu, sampai menemukan satu yang paling cocok. Yang kedua, saya memberi catatan terkait kriteria kedua, yaitu jika imkanu rukyat 5-8 itu tercapai tapi sudah melawati pukul 12 malam waktu GMT. Ketika sudah lewat pukul 12 malam, kita harus mencari imkanu rukyat pertama itu di mana? Itu harus di cari dan jam berapa itu terjadi. Karena kan imkanu rukyat itu lewat dari jam 12 malam, sehingga tidak memenuhi syarat pertama tadi. Maka berlaku aturan kedua: asal sebelum fajar di New Zealand.  Nah imkanu rukyat pertama itu jam berapa? Supaya bisa ditentukan, apakah berbenturan dengan fajar di New Zealand apa tidak? Apalagi kalau di New Zealand itu musim panas, bisa terjadi pukul 02.30 sudah fajar. Kemudian masalah selanjutnya, fajar di New Zealand itu ngukurnya di mana? Tidak disebutkan itu dalam proposal tim panitia ilmiah. Harus ada satu titik yang dijadikan patokan untuk mengkukur. Karena itu sangat menentukan. Ketiga, saya menanggapi terkait kriteria selanjutnya, yaitu tentang keharusan imkanu rukyat telah mencapai daratan benua Amerika. Nah, daratan Amerika itu daratan yang mana? Benua Amerika itu kan berkelok-kelok, tidak lurus. Makanya  saya menyimpulkan dalam tanggapan saya itu bahwa konsep kalender tersebut tidak praktis. Dan karenanya panitia harus mencari kriteria kalender unifikatif yang praktis. Maksud saya konsep Jamaluddin Abdurraziq itu, tapi tidak saya katakan itu secara eksplisit. Ukuran yang lebih praktis misalnya berdasarkan UTC 12 siang, nanti kalau mau diberi pengecualian-pengecualian, kita beri pengecualian seperti yang kita lakukan terhadap kalender yang diusulkan itu. Kemudian saya juga menyarankan agar kalender itu diuji seratus tahun ke depan dengan sistem perbandingan bersama kalender lain yang ada. Itu yang saya sampaikan di kongres itu, meskipun beberapa kali dipotong oleh moderator, karena yang saya sampaikan kan sekitar 4-5 halaman. Saya membuat tanggapan itu sampai jam 2 malam di sana.

Tapi yang penting kalo kalender internasional itu apapun kriterianya yang penting satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Jadi kalau diurut-urutkan dia nanti hasil akhirnya juga sama. Cuma ada dalam kasus-kasus tertentu memang berbeda. Nah, perbedaan ini yang mau kita ambil yang mana yang paling baik. Jadi tidak ada masalah. Imkanu rukyat itu bermasalah kalau dia dipakai untuk lokal. Misalnya di Indonesia imkanur rukyat menggunakan kriteria 4-6 ½ . Nanti kalau baru 4-6 kan belum masuk. Padahal apabila 4-6 di Indonesia, di Amerika bulan sudah terpampang tinggi. Itu problemnya di situ. Jadi kalau imkanu rukyat untuk lokal itu memang susah dan bermasalah, tapi kalau untuk internasional imkanu rukyat memang sudah syarat dari dulu. Di buku saya kan saya cantumkan juga bahwa imkanu rukyat itu adalah salah satu syarat kalender internasional. Cuma orang biasanya kurang cermat dalam membacanya. Kalender dengan kriteria apapun, syaratnya memang harus imkanur rukyat. Harus dibedakan antara imkanu rukyat sebagai syarat dan imkanur rukyat sebagai kriteria. Kriteria itu ya ukuran kalender itu, tapi kalau syarat mungkin ukurannya tidak imkanu rukyat, namun ia harus memenuhi syarat imkanu rukyat.

Apakah ada tindak lanjut dari kongres itu?

Pasti ada. Terutama tentang kriteria kalender itu. Karena yang diperdebatkan dalam kongres itu oleh para peserta kebanyakan adalah soal aspek fikihnya. Sampai-sampai ada seorang utusan dari Filipina, melihat para fukaha yang menurutnya berlebihan dalam memperdebatkan aspek fikih, mengatakan bahwa seharusnya para fukaha berani berijtihad agar umat Islam tidak perlu terus menghadapi masalah ini dan mengalami kesusahan setiap kali masuk puasa atau hari raya.

Apa langkah selanjutnya Muhammadiyah setelah kongres Turki ini?

Ya kita harus mengkaji kriteria konsep itu dulu, kalau perlu kita mengusulkan kepada komite kalender, karena kriteria itu hanya ada dalam proposal makalah yang diajukan panitia ilmiah. Ketika divoting tidak ada penjelasan bahwa kalender tunggal itu berikut kriterianya yang mana itu tidak ada. Kriterianya tidak disebutkan.

 

 

 

Screen Shot 2016-06-07 at 7.33.32 PM

MUHAMMADIYAH MENDAHULUI ISTANBUL

Syamsul Anwar

(Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Pada tanggal 30 Mei 2016 baru lalu, peserta Kongres Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul, Turki, mengambil keputusan penting dan bersejarah, yaitu memutuskan menerima kalender hijriah global tunggal sebagai kalender Islam. Keputusan menerima kalender unifikatif hijriah global tunggal ini diambil melalui pemungutan suara (voting) setelah perdebatan tegang tentang pilihan bentuk kalender Islam apakah tunggal atau bizonal.

Kalender tunggal adalah kalender berprinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia. Kalender bizonal adalah kalender yang membagi dunia menjadi dua zona tanggal, yaitu zona timur dan zona barat, di mana bisa terjadi bahwa antara kedua zona itu terjadi perbedaan tanggal. Hasil pemungutan suara menunjukkan kehendak mayoritas peserta untuk memilih kalender tunggal. Sejumlah 80 puluh suara mendukung kalender tunggal. Sementara kalender bizonal hanya mendapat 27 suara. Empat belas suara abstain, dan 6 suara tidak sah. Jumlah pemilih yang mempunyai hak suara adalah 127 peserta.

Presiden Diyanet Işleri Başkanligi (Badan Urusan Agama) Turki, Prof. Dr. Mehmet Gormes, menyatakan akan menyampaikan keputusan tersebut kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk dibawa ke Oraganisasi Kerjasama Islam (OKI) guna dijadikan keputusan organisasi perkumpulan negara-negara Islam itu.

Keputusan Istanbul 30 Mei 2016 ini merupakan kulminasi dari serangkaian panjang upaya dunia Islam untuk menyatukan sistem penanggalannya, yang telah berlangsung sejak setengah abad lebih yang lalu. Ini boleh dikatakan sebagai suatu peristiwa bersejarah. Dalam pidato sambutannya ketika membuka kongres terseut Deputi Perdana Menteri Turki, Prof. Dr. Numan Kurtulmus, menegaskan bahwa kongres ini bukan saja kongres penyatuan penanggalan Islam, tetapi juga sekaligus kongres penyatuan umat Islam yang telah lama terpecah belah, bahkan sebagian negeri muslim masih dalam pendudukan asing.

Tetapi yang lebih penting lagi untuk dicatat adalah bahwa Muhammadiyah telah mendahului Istanbul untuk mengambil keputusan menerima kalender hijriah global pemersatu. Dalam Keputusan Muktamar Muhammadiyah Ke-40 di Makasar tanggal 18-22 Syawal 1436 H / 3-7 Agustus 2015 M, diputuskan, “Berdasarkan kenyataan itulah maka Muhammadiyah memandang perlu untuk adanya upaya penyatuan kalender hijriah yang berlaku secara internasional.”

Screen Shot 2016-06-07 at 7.33.17 PM

Dengan keputusan Istanbul, Muhammadiyah tidak sendirian dalam memperjuangkan kalender Islam unifikatif, tetapi juga telah terdapat kepastian pemikiran dunia Islam yang telah berketetapan hati untuk mempromosikan, merealisasikan, dan mengimplementasikan kalender hijriah pemersatu. Kini terpulang kepada umat Islam di seluruh dunia untuk berkemauan menggunakannya guna mengakhiri pertikaian karena perbedaan sistem penanggalan selama ini. Kiranya tidak ada alasan lagi untuk mengingkari sistem kalender tunggal ini. Penolakan terhadapnya berarti memutar jarum jam ke belakang dan merupakan langkah mundur. Mari kita bergerak cepat ke depan dan menjadikan diri sebagai gerakan berkemajuan.****

 

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Kongres Kalender Hijri Internasional

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

ISLAM UNTUK MEWUJUDKAN DUNIA YANG DAMAI:PERANAN ORMAS MADANI DI KOTA PADANG  

ISLAM UNTUK MEWUJUDKAN DUNIA YANG DAMAI:PERANAN ORMAS MADANI DI KOTA PADANG  

Oleh Shofwan Karim 

I. MUKADIMAH

Islam, untuk mewujudkan dunia yang damai, mudah ucapan bibir, ada masalah dalam kenyataan. Maka Musda BKMT ini amat relevan menjadikannya sebagai topic diskusi panel. Lalu, ketika Prof. Dr. Ir. Hj. Nurhayati Hakim meminta kesediaan saya untuk ikut menjadi narsum, maka saya bertanya kepadanya, mulai dari mana? Jawabannya adalah peranan ormas Islam dalam mewujudkan dunia yang damai, mulai dari keluarga dst.

Tiba-tiba, narsum yang lain menyatakan kita bagi tugas. Beliau mulai dari keluarga dan saya yang di luar itu. Maka dalam wacana singkat berikut, saya ingin mendiskusikan di sini, bagaimana organisasi Islam ikut berperanan di dalam menciptakan, memelihara dan meningkatkan suasana yang damai dan sejuk tetapi dinamis di dalam masyarakat Kota Padang. Saya akan mulai dari pijakan normatif ideal selanjutnya baru realitas aktual, masalah dan ditutup dengan solusi 

II. DAMAI SEBAGAI NILAI DASAR ISLAM

Kata Islam sudah amat kita kenal berasal dari kosa, semantic, mufradat, masdar dari : aslama, yuslimu, islaman. Bermakna damai, sejahtera, sentosa dan selamat. Damai dan selamat dunia dan akhirat. Tenteram dan menyenangkan. Tentu saja perdefinisi kira-kira di antaranya bisa begini. Islam dalah agama Allah yang dibawa oleh Muhammad saw, Nabi dan Rasulullah sebagai pegangan dan petunjuk kehidupan manusia di dunia sampai ke akhir zaman untuk mencapai keridhaan Allah swt. Selanjutnya Islam sebagai repleksi damai itu bervariasi di dalam al-Qur’an. 

Oleh karena itu Islam tidak semata-mata sistem akidah dan ibadah tetapi pedoman dan jalan (syari’) kehidupan itu sendiri. Muhmmad Natsir mempadankan syariat, syari’ dan the way of life (jalan kehidupan) .

 

III. ADA MASALAH DALAM REALITAS 

Meskipun al-Quran dan kitab suci agama lain yang kemudian menjadi dogma (nilai dasar) dan doktrin (ajaran) dari agama-agama itu semuanya bernilai ideal, menjunjung tinggi hub atau cinta dan melahirkan hidup yang damai, tetapi di dalam kenyataan kehidupan umat manusia di dalam diri, keluarga, antar komunitas, antar agama, antar bangsa bahkan antar strata sosial terjadi masalah.

Oleh karena itu sejak tahun 1980, sangat serius hadir berbagai forum dan pembicaraan yang intensif antara tokoh pemeluk agama-agama di dunia. Beberapa organisasi independen global seperti World Conference on Religion and Peace (WCRP) Parliament of Religion Forum (PRF) dan Global Ethic Institute (GIE) dan lain-lain bersungguh-sungguh melakukan pendalaman dan rundingan serta kajian berbagai dogma agama dan apilikasinya secara internasional untuk menciptakan dan mempertahankan dunia yang damai.

Salah satu tokoh yang sering dikutip adalah Hans Küng, mengatakan, “Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antaragama, tak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama, dan tak ada dialog antaragama tanpa mengkaji fondasi agama-agama.”

Oleh karena itu maka muncul beberapa pernyataan sebagai konsekuensi bagaimana perdamaian itu harus menjadi anutan yang disebut etika global.

Dalam deklarasi universal etika global terdapat beberapa prinsip pokok yang melandasi pentingnya perdamaian dunia yang dibangun secara kultural oleh peranan umat beragama. Misalnya, ada deklarasi dan itu harus bisa diakses oleh kepentingan semua agama, dan kepentingan yang ada harus berpedoman pada dasar-dasar humanisasi. Küng amat menekankan pentingnya penerapan the golden rule atau yang dikenal sebagai etika timbal-balik (ethic of reciprocity), yang berbunyi:

”Berbuatlah kepada orang lain, sebagaimana Anda ingin orang lain berbuat kepada Anda. Jangan berbuat kepada orang lain, sebagaimana Anda tidak ingin orang lain berbuat kepada Anda.”  

Jalan tengah saat menjadi juru bicara perdamaian, Küng tidak hanya mewakili umat Kristen. Menurutnya, setiap kekuatan yang mendorong ke arah perdamaian harus dipandang bermanfaat bagi humanisme global.

Oleh karenanya, kekuatan tersebut tidak berhak dimiliki secara komunal oleh agama tertentu. Akibatnya, Küng diklaim sebagian kalangan sebagai penjunjung pluralisme. 

Namun, perlu digarisbawahi bahwa pada dasarnya Küng mendukung pluralisme yang proporsional. Selanjutnya dia mengatakan,

”Saya mencoba jalan tengah yang sulit diantara dua ekstrem. Di satu sisi, saya ingin menghindari absolutisme naif, yang mengabsolutkan satu kebenaran dari kebenaran yang lain. Namun, pada saat yang sama, sebagai teolog Kristen, saya juga tak mengharapkan dari siapa pun relativisme dangkal yang merelatifkan semua kebenaran dan menyamaratakannya. Rasanya hal ini tidak bisa dipertahankan, sebuah pluralisme asal-asalan yang tidak membedakan agamanya sendiri maupun agama lain.”

 Perjuangan ini bukan tanpa risiko. seringkali ia memperoleh perlawanan dari kalangan konservatif. Bahkan, pernah diusir dari tempatnya mengajar ke Universitas Tubingen. Ini menunjukkan bahwa seorang yang menyeru perdamaian ternyata tak selalu memperoleh dukungan positif dari lingkungan sekitarnya.

Dari tataran konsep ideal tidak selalu mulus di dalam aplikasi dan praktik. Hal itu terjadi di seluruh dunia. Terjadi berbagai kasus yang merusak kedamain ini. Baik internal umat salah satu agama, maupun eksternal antara umat beragama. Di kalangan umat Islam sudah kita ketahui ada dua kutub utama: Sunni dan Syi’i atau ahlu sunnah wal-jamaah dan ahlul bait Syi’ah. Bahkan di dalam internal sunni dan syi’i itu sendiri muncul pula sub aliran yang kadang tidak selalu rukun dan damai.

Di Indonesia di zaman Orde Baru ada usaha yang sangat massif dan intensif menjaga kerukunan (damai) itu dengan istilah Tiga K atau Tri Kerukunan: internal umat beragama; eksternal umat beragama; dan umat beragama dengan pemerintah . Sumbunya yang dapat meniup api dan membakar, lalu itu harus dipadamkan waktu itu apa yang disebut dengan SARA (Suku, Agama dan Ras atau antar Kelompok primordialistik dan etnik).

Maka secara artifisial namun kasat mata pada masa Orba itu hampir tidak ada gesekan dan konflik yang tak dapat dikendalikan. Paling tidak pada masa itu, isu tentang Pancasila, Dwi-Fungsi ABRI dan Sara tadi selalu aman. Kekuatan politik utama waktu itu Golkar ditambah dua partai marginal PPP dan PDI sanggup mempertahankan rezim 32 tahun. Tentu saja setelah era reformasi Mei 1998 sampai sekarang keadaan sudah semakin demokratis dan terbuka. Dan itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya

IV. PERANAN ORMAS MADANI: BAGAIMANA DENGAN PADANG ?

Organisasi Masyarakat Madani (Ormas Madani) yang dimaksud di sini adalah semua organisasi masyarakat, sosial, professional, hobby yang berdasarkan dan berafilisasi kepada agama, politik, dan ideologi atau yang tidak berafiliasi.

Di setiap negara di dunia, selalu dapat dinyana bentuk civil-society yang pro-agama dan civil-society netral agama dan tidak bahkan menolak agama, semata-mata untuk kepentingan kemanusiaan dan sekuler. Hubungan antar sesamanya, di kota Padang, menurut hemat saya cukup aman, damai dan luput dari gesekan yang berarti. Saya tidak membahas Minangkabau apa lagi Sumbar, atau wilayah yang lebih luas, baik darek ataupun rantau. Sesuai dengan ruang lingkup yang ingin saya diskusikan secara terbatas sekarang adalah kota Padang.

Kasus Wawah, nama lengkapnya Khairiyah Iniswah, tahun 1998 di Padang, kasus Ahmadiyah, tahun 2008, kasus Jamiyatul Islamiyah , Karim Jama’, Masjid Baitul Izza, di Jl. Proklamasi pada tahun 2006, tentu saja pernah mengusik kedamaian umat di Kota Padang.

Akan tetapi sepengetahuan saya, sejak 2 atau 3 tahun terakhir, sepanjang yang terpantau di media-massa, baik cetak maupun on-line, Kota Padang relatif aman dan damai. Memang ada beberapa bisik atau suara burung, beberapa hari lalu, ada sedikit terjadi gesekan pikiran dan opini di kalangan tertentu soal origami monumen perdamaian burung Merpati di Pantai Muara Lasak yang diresmikan Presiden Jokowi pada 12 April lalu. Akan tetapi saya pikir relative tidak mengganggu kedamaian di kota ini. Soalnya sekarang bagiamana mempertahankannya? Inilah fungsi organisasi masyarakat, organisasi sosial dan organisasi masyarakat muslim atau Ormas Madani diharapkan mengambil inisiatif dan memperkokoh peranannya. 

Padang, sebagai ibu kota provinsi sekaligus merupakan pusat ibu organisasi-organisasi masyarakat madani. Sebutlah MUI, BKMT, Aisyiah dan Muhammadiyah dengan 7 Orgsanisasi Otonomnya, Bundo Kanduang, LKAAM, DDII, Tarbiyah Islamiyah, PERTI, NU, ICMI, IKADI, HT, dengan semua organisasi sayap atau otonomnya pula , organisasi pemuda, profesi, hobby dan seterusnya.

Apakah yang harus dilakukan?. Menurut hemat saya, masing-masing organisasi itu tentulah terus menerus membina suasana yang sejuk, damai dan meningkatkan agenda, kegiatan-kegiatan dan program yang baik. Mendidik dan mengayomi warga dan anggota masing-masing mereka untuk lebih positif terhadap dirinya dan di luar dirinya.

Seterusnya antar organisasi, sepanjang yang saya amati tidak ada masalah. Hanya kurang berkomunikasi. Sehingga tatkala ada hal-hal yang memerlukan respon bersama, sebagian memberikan respon yang sepadan, tetapi tak kurang pula yang berlebihan dan tidak proporsional. Itupun secara sendiri-sendiri dan belum sebagai kumpulan yang merangkul semua Ormas Madani tadi.

Sementara itu ada pula yang pasif saja. Oleh karena itu pada Selasa, 19 April dan Jumat, 22 April lalu ada 9 pimpinan organisasi yang bersilaturrahim dan berdialog dengan Ketua DPRD Provinsi dan Gubernur Irwan Prayitno. Organisasi itu adalah Aisyiah, Bundo Kanduang, Muhammadiyah, Tarbiyah Islamiyah, PERTI, NU, Muslimat NU, Pemuda Muhammadiyah dan GP Ansor. Pada waktu berikutnya tentu BKMT menjadi pastisipan aktifnya pula.

Di situ disampaikan beberapa hal yang menjadi perhatian di dalam merespon masalah sosial yang kini tengah kita hadapi. Di antaranya penyalah gunaan Narkoba, prilaku menyimpang seperti LGBT, kerapuhan cinta dan damai di dalam keluarga, pemurtadan yang harus diwaspadai dan diantisipasi. Oleh karena itu seyogyanya para ulama, umara (pemerintah), aghnia (orang berpunya), azkiya’ (cendekiawan), kaum wanita dan generasi muda, saling menopang di dalam membangun dan menggerakkan umat.  

Pada saatnya pertemuan ormas madani yang sangat terbatas kamarin itu, diharapkan akan dikembangkan kepada spectrum yang lebih luas dengan jumlah yang sesuai dengan keberadaan organisasi-organisasi itu di tingkat wilayah atau provinsi. 

Mungkin akan ada forum yang rutin membahas masalah aktual yang mempunyai implikasi starategis dan signifikan bagi umat. Lalu ada gerakan bersama dalam agenda tertentu yang relevan. Baik di dalam menggesa konsepsi yang lebih atraktif, membumi dan mudah dicerna serta diamalkan dalam amar ma’ruf nahi mungkar bagi para da’i dan daiyat, muballigh dan muballightnya; pembaharuan sikap dan memahami persoalan plik dan rumit di dalam dakwah di berbagai level dan kategori masyarakat.

Dakwah untuk kaum awam dan kelas menengah serta kelas eksekutif. Mendorong usaha intensif dan sunguh-sungguh menjadikan nilai-nilai Islam semakin aplikatif di dalam hidup dan kehidupan. Sosialisasi ekonomi syariah dan bisnis Islami. Peduli kaum papa dan memberdayakan serta meningkatkan ekonomi produktif mereka. Memberikan konsepsi pendidikan yang mencerminkan filsafat pendidikan yang tauhidi dan islami. Gerakan tahfiz al-quran, model pendidikan Islami dari PAUD sampai ke Perguruan Tinggi. Dan berbagai kegiatan positif dan produktif lainnya di kota ini. 

Dengan begitu, rasa rahim yang asli dan murni muncul sehingga damai yang pasif selama ini menjadi aktif karena adanya interaksi dan relasi yang santun dan menyejukkan antar ormas madani ini. Dengan kata lain, hubungan yang kaku menjadi cair dan mesra di dalam aura cinta kepada Allah dan mengembangkan rasa damai dan tenteram.

Dengan begitu, maka diharapkan ke depan, suasana damai yang ada sekarang, lebih kondusif lagi dengan melakukan interaksi dan relasi positif dan produktif. Oleh karena itu melakukan silarurrahim antar pengurus, pimpinan dan warga dari berbagai organisasi ini serta dengan para tokoh utama pemerintah dan tokoh masyarakat lainnya adalah suatu keniscayaan. Tentu saja harus didasari oleh sikap tasamuh, toleran dan kerahiman. Allahu a’lam bi al-shawab. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment