Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Ayahanda YTC HbdlKarimBerhaji1976-1

http://hariansinggalang.co.id/memperkuat-masyarakat-madani-yang-gamang/

Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Home » Opini » Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Catatan dari Silaknas ICMI 2014 Gorontalo (5-habis) — Shofwan Karim — DI MASA awal berdirinya ICMI, 7 Desember 1990 di Kampus Universitas Brawijaya, isu sentral yang mengemuka antara lain adalah mempopulerkan dan menggairahkan elan vital Masyarakat Madani (MM).

BJ. Habibie yang pada waktu itu menjadi bintang utama ICMI bersama tokoh awal, amat ambius menjadikan MM sebagai poros segala harapan. Tokoh ini menjadi Ketua Umum ICMI 2 periode dan sampai sekarang, Habibie adalah Ketua Dewan Kehormatan ICMI Pusat. Pada sesi awal Silaknas, melalui video-teleconference langsung, hal itu tetap disinggungnya.

Meskipun bagi cendekiawan tertentu, MM dinisbahkan kepada civil-society (masyarakat kewargaan), dan itu dengan latar belakang konsep Barat, maka ICMI tidak serta merta menganut konsep itu.
ICMI lebih cendrung kepada konsep masyarakt sivil dengan yang mendapat aura dari masa awal kehadiran Islam awal periode Madinah di zaman Rasulullah.

Oleh karena itu, salah seorang di antara cendekiawan yang menonjol waktu itu, Nurcholish Madjid memahami MM itu dengan konsepsi Islami.

Di antaranya, MM yang dibangun Nabi Muhammad SAW berwatak : egalitarianisme (persamaan derajat); penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras dan sebagainya); keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat; penegakan hukum dan keadilan; toleransi dan keadilan; dan musyawarah.

Menjawab gamang
Pada masa awal Orde Baru, dianggap oleh sebagian para ahli dan pengamat, jagad kehidupan berbangsa-bernegara Indonesia terkooptasi oleh triumpirat Soeharto, TNI (ABRI waktu itu dengan kredo dwi-fungsi) dan kaum birokrat dan teknokrat.

Walaupun begitu, sayap masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, meski di periperal, mulai mendapat tempat. Akan tetapi tentu saja tidak sejajar dengan tiga kekuatan tadi. Di dalam porsinya yang sangat kecil, pada waktu itu digalakkan suatu terma yang popular disebut partisipasi masyarakat.

Pemerintah sebagai pelaku utama pembangunan, dan masyarakat ikut serta. Kesannya ada nuansa, bahwa masyarakat menjadi faktor sekunder.

Pada era reformasi, pada awalnya, pendulum itu berbalik. Masyarakat dengan inti kaum muda, politisi progresif, sebagian TNI muda sahabat aktivis, ormas, wartawan, budayawan dan intelektual-cendekiawan, Ornop (organisasi non pemerintah) yang pada sebutan lain NGO, semuanya ‘menyerbu’ ke arena perjuangan membalikkan situasi.

Amin Rais, Nurcholish Madjid, Gus Dur, Yusril Ihza dan seterusnya, belumlah tokoh di pusat kekuasaan. Mereka adalah butiran pasir di tengah MM yang fokal dan dikagumi kalangan masyarakat sipil. Membaca kembali proyek kemajuan yang mereka perjuangkan waktu itu, pasti semuanya berdecak kagum kepada mereka. Artinya, MM menjadi lebih bergigi.

Akan tetapi sekarang, terjadi sebuah kontradiksi baru. Jagad persilatan ke-Indonesiaan sekarang, dipegang oleh partai politik, segelintir cendekiawan yang berkolaborasi dengan kelompok pers yang kuat. Sehingga menciptakan keterbelahan yang hampir optimal.

MM dalam pengertian yang murni, kelihatannya mayoritas tutup mulut dan tetapi pasang telinga dan buka mata. Organisasi besar seperti MUI, Muhammadiyah, NU, termasuk ICMI sendiri dan puluhan ormas Islam serta ormas Kristiani, Hindu dan Budha serta lain-lain, seakan tiarap.

Mereka bukan tiarap karena takut, tetapi lebih kepada mentiarapkan diri sendiri. Mungkin inilah masa yang dapat disebut era masyarakat madani yang gamang.

Kecendekiawanan, ke-Islaman dan ke-Indonesian ICMI terus menerus merevitalisasi kredo awalnya tentang tiga fundamen kehidupan MM yang menjadi obsesi idealnya. Tiga fundamen yang diharapkan terus menerus tempatnya berpijak adalah kekuatan nalar kecendekiawanan, nilai-nilai Islami, dan pondasi ke-Indonesiaan.

Ketua Dewan Penasehat, Jimly Asshiddiqie pada penutupan Silaknas, meminta ICMI untuk melakukan terus menerus revitalisasi internal. Antara lain melakukan hijrah moral, melakukan revolusi mental dengan meningkatkan peranan di dalam pembangunan. Terutama di dalam pemberdayaan ekonomi umat, tanggungjawab ICMI yang sudah menjadi sejarah kini mesti diperkuat kembali.

Sementara itu, Ketua Presidium Sugiharto di dalam sambutan penutupan meminta segenap anggota, pimpinan dan aktifis serta badan-badan otonomi, yang dulu sangat bergairah, kembali memperkuat gairah dan semangat. ***

1518762_10152853018943433_7990527101768230375_o

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

TK Aisyiah, Api yang Terus Menyala

fullsizeoutput_8fb7

Memo. Shofwan Karim (Padang, 2.2.17)

Bagai api, taman Taman Kana-kanak (TK) Aisyiah terus menyala. Masuk kira-kira 30-an meter dari Jalan Raya Ampang, Padang kelihatan nyala api terus hidup. Bagaikan tak mempedulikan enerji. Sepertinya tak ada kata padam dalam nafas kehidupannya.

Kemarin, ia tergopoh-gopoh mendatangi TK itu. Ada telepon mendadak dan amat penting. Ketua PWA Sumbar Mailiarni Rusli di ujung sana bersuara tinggi. “Sekarang juga kita kumpul di TK Aisyiah Ampang”,  “Berita mendadak Menteri Dikbudnas Prof Muhadjir dan rombongan meluncur ke sana”, katanya. Dari sebuah hotel di Padang, Menteri akan melihat beberapa objek. Yang pertama adalah TK Aisyiah itu.

Sudah tak tentu hitungan ke berapa ia menerima info mendadak-sontak, tiba-tiba dan tanpa aba-aba itu. Sebagai Ketua sebuah Ormas terbesar di wilayahnya, ia harus siap 24 jam. Ia bukan pejabat pemerintah. Akan tetapi begitulah keadaan sehari-hari yang harus dihadapi.

Di dalam mobil ke titik acara, ia menulis pesan ke groupnya. Jangan harap ada respon spontan. Akan tetapi sebagai sistem operational prosedur (SOP) tak resmi yang selalu ditaati, ia melakukan itu. Tak puas dengan mengirim pesan, ia kontak beberapa tokoh yang dianggapnya mesti hadir. Tetapi sang tokoh ada kesibukan lain. Sudahlah, katanya dalam hati.

Ia melangkah ke komplek TK dimaksud. Langsung masuk ke lokal. Di situ Menteri sedang tekun mendengar guru TK menjelaskan keadaan taman yang diasuhnya. Meski suara kana-kanak bagai gemuruh lebah dan kicau burung, menteri amat serius. Kemudian menteri dengan istri Muhadjir, bercakap-cakap dengan kanak-kanak usia 5, 6 dan 7 tahun itu. Dari  jarak 1 atau 2  meter tampak serius mengikuti perakapan itu adalah  Sekjen Dikbudnas, Direktur Paud dan Direkur Dikmas . Tentu  bersama Diknas Perovinsi dan kota Padang.

Kanak-kanak itu antusias menjawab pertanyaan sederhana dan mudah dari Muhadjir dan isterinya. Umumnya, sebagai teori pendidikan untuk anak usia kana-kanak ini, pertanyaan satu kata yang dapat dijawab dengan kata ya atau tidak. Sebagai pendidik yang berpengalaman, 4 kali, période Rektor UMM, Muhadjir tampaknya  lancar dan mahir mendekati dan bercakap-cakaop dengan anak-anak usia dini itu.

Semua pakar pendidikan Islam selalu membahas pendidikan anak bersumber al-Quran, hadist, wacana ulama, failasuf, ahli dan pakar. Ada beberapa terminologi yang dipakai al-quran dalam membicarakan anak. Paling tidak ada kata ibn (35 kali) , walad (102 kali).

fullsizeoutput_8fb6

Lainnya digunakan kata shobiyyun dan thiflun. Bahkan kata dzurriyah (keturunan) secara implit juga bermakna anak.

 Al-qur’an memuat berbagai petunjuk. Satu diantaranya pendidikan yang harus diberikan kepada anak terutama sejak kelahiran. Pendidikan tersebut berupa; pendidikan tauhid, syukur, kesehatan,  kecerdasan dan keterampilan. Pendidikan adalah proses sepanjang hayat, min al mahdi ila allahdi. Pendidikan wajib bagi setiap diri muslim dan muslimat. Ada yang fardhu ain dan ada yang kifayah. Teori taxanomi Bloom, selalu diulang. Ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Kecerdasan, penghayatan jiwa-emosi dan keterampilan-kemahiran.

Tentu saja kanak-kanak di bawah payung Aisyiah, sayap utama dalam tenda besar Muhamamdiyah, filsafat pendidikannya berbasis  Islam dan pemikiran pendidikan nasional. Maka  ajaran  tauhid, syukur, kesehatan , kecerdasan, kejiwaan, akhlak-karakter dan keterampilan,  menjadi resep utama dalam hidangan pendidikannya.

Tetapi semua itu tidak berarti apak-apa, kalau sarana, prasarana, guru, peralatan dan teknologi, kurikulum dan lingkungan pendidikan tidak memadai. Di dalam hal ini pemerintah, melalui Mendikbudnas, amatlah bertanggungjawab.

Apalagi di dalam pembukaan UUD 1945, yang disebut sebagai tujuan nasional, bangsa dan negara ini di antaranya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di dalam kenyataan, pemerintah tidaklah segala-galanya.  Di situlah peranan masyarakat, di dalam hal ini  antara lain Muhammadiyah dan Aisyiah menjadi ujung tombak yang terus diasah dan melesat mencapaui tujuannnya. Sebagai api yang tak kunjung padam, semangat itu menjadi elan vital yang terus menyala dan menggebu-gebu. Meski kedaan tidak selalu kondusif, tetapi apapun, tantangannnya, jihad pendidikan ini terus  menderu-deru. ***

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Wardah, Jatuh, Bangkit dan Go International

Wardah, Jatuh, Bangkit dan Go International

Wardah. Memo, Shofwan Karim (Padang, Ahad, 22/1/17)

 Hujan jatuh keras menimpa atap Asrama Haji Tabing. Berlari dari satu agenda ke agenda berikutnya. Ini seperti sudah rutin baginya. Yang Maha Mengatur membuka kran enerji tanpa batas. Acara yang molor hampir 2 jam dari yang tertera di undangan, sudah masuk urutan ke 4. Ia minta teman di sebelah bergeser ke kursinya. Ia manggalucuih keluar .

Suatu yang tidak baik sebenarnya. Meninggalkan satu undangan sebelum selesai. Seperti kebiasaan kebanyakan pejabat sejak dulu sampai sekarang. Akan tetapi kali ini ia memaafkan dirinya. Jarang sekali dilakukannya hal seperti ini. Hanya semata karena keterpaksaan.

Di Sawahan 62, sesi baru dimulai. Pertemuan Majelis Ekonomi (MEK) PWM. Ruangan sidang gedung dakwah itu cukup padat. Kapasitas 30 kursi penuh. Tamu sore ini adalah seorang tokoh wanita pemilik dan pemimpin tertinggi  satu perusahaan besar.  Tokoh itu adalah  Hj Nurhayati Subakat.  Setelah bersalam-salaman, ia  langsung duduk. Ketua MEK Yuzardi Maad barusan membuka pertemuan.

fullsizeoutput_8aee

Ia menyapu padangan berkeliling ke semua hadirin.  Memastikan siapa saja yang ada di depannya. Beberapa adalah pelaku ekonomi dan usahawan.  Ada pula  dosen yang juga pelaku ekonomi. Hadir teman SMA Nurhayati yang kini Dosen Senior Eknomi Unand Syahrial B Syarif.

Ada pemilik dan pimpinan Zagalo Mart, Suryani. Ia   dipanggil angkatan muda sebagai  Uni Cien. Ada pemilik dan pimpinan super market, Budiman Mart  dengan isterinya. Pasangan suami-isteri muda ini  memiliki 3 swalayan di Padang dan 3 pula di Bukittinggi.  Budiman dan Zagalo sore ini menjadi sponsor pertemuan sekalian hidangan durian dan ketan. Ada tokoh dan beberapa yang lain. Aisyiah, Ortom dan Agkatan Muda Muhammadiyah (AMM).

2-wardah_online

Acara tunggal sore itu tentang kewirausahaan. Menimba pengalaman dan merajut motivasi.  Tokoh sore itu adalah Nurhayati Subakat.  Owner dan CEO PT Paragon Technology Innovation (PTI) . Dulu bernama PT Pusaka Tradisi Ibu, pemilik merek kosmetik muslimah Wardah.

Ratu pengusaha kosmetika nasional yang sudah go internasional ini kelihatan rendah hati, simpel, dandan sederhana tetapi paten  Orang yang baru kenal akan keliru tentang  usianya. Nampak lebih irit dari seorang yang lahir 27 Juli 1950.  Di balik jilbab “lilit” Etek Amah (Rahama El-Yunusiah), Nurhayati yang tamat Diniyah Putri Padang Panjang pertengahan 1960-an itu, mulai bercerita.

Tidak cukup hanya dengan mengandalkan niat”, katanya. “Mesti lebih. Di dalam teori bisnis ada teori  4 P: Product (produk), Price (harga), Place (tempat) dan Promotion (promosi). Maka saya”, katanya , “menambahkan satu P lagi. Pertolongan Allah”. Di dalam menjalankan itu semua ia mengatakan fondasi utamanya, “silaturrahim (komunikasi intensif)”.

nurhayati_subakat-hadi

Silaturrahim tidak sekedar menjajakan promosi. Tetapi secara mendalam mengkomunikasikan kehidupan dan kemanusiaan. Tentu saja, di antaranya   memahami secara mendalam dan detail apa yang menjadi idaman setiap konsumen. Mengetuk hati publik-konsumen, merawat dan menolak galau atas produk. Semua itulah  mungkin yang dimaksudnya sebagai bagian dari silaturrahim tadi.

Sepintas lalu ia seperti  dosen pensyarah. Atau bak tokoh  Aisyiah dalam pengajian pimpinan. Ternyata lebih dari itu. Nur melanjutkan. “Semangat yang pantang menyerah”. Bagian lain yang menjadi soko guru utama. Beberapa sumber menyebut, ia membantu usaha orang tuanya ketika   menjadi siswa  SMA 1 Padang. Boleh jadi ini benih  awal jiwa wiraswasta, genétika asasi mengaliri pembuluh darahnya.

Setamat kuliah di jurusan Farmasi ITB, Nurhayati bekerja di Rumah Sakit Umum M Djamil Padang. Entah karena apa ia hengkang ke Jakarta. Mungkin karena kakak tingkatnya di ITB yang kemudian mempersuntingnya menggunggung membawa terbang. Lalu Nur bekerja si satu korporat kosmetik terkenal. 

Meski menikmati pekerjaannya di situ, tetapi ia tidak bertahan. Antara lain karena dua putra dan satu putrinya mulai meminta perhatian yang tinggi kepadanya. Sebagai ibu anak-anak, ia merasa kesulitan membagi waktu. Bekerja penuh waktu di industri kosmetik Wella membuatnya terpaksa meninggalkan putra-putri  yang butuh asuhan penuh dan tumbuh menjadi anak dan remaja . Nur keluar dari industri kosmetik yang sudah agak lama digelutinya ini. 

Setelah anak-anak mulai bersekolah dan ia mulai mempunyai waktu luang, keinginan untuk melakukan sesuatu muncul lagi. Ilmu farmasi dari ITB dan pengalaman  sebelumnya di instansi pemerintah dan swasta tadi menjadi modal pokok, ia  bergerak. Mulai dari usaha kosmetika produk rumahan. Menjajakan produk dari pintu ke pintu. Dari salon ke salon. Awalnya mempekerjakan 20 orang karyawan. Usaha kecil itu bergerak perlahan tetapi pasti.

fullsizeoutput_8ae9.jpeg

Cobaan datang. Upaya yang dirintis susah payah sejak  1985 itu, hanya beberapa tahun  bertahan dan jatuh. Bangkit lagi dan jatuh lagi.  Hampir saja ia  talak tiga dengan dunia usaha itu. Akan tetapi karena ada rasa tangung jawab kepada orang-orang yang bekerja dengan usaha kecil yang bergerak dinamis, tetapi runtuh itu, ia bangkit.

Pada awalnya kosmetika produk rumahan ini ia beri merek putri.  Sampai sekarang merek putri tetap eksis. Dengan alasan  pengembangan bisnis, ia berfikir perlu produk baru. Atas  saran  dari pesantren Hidayatullah untuk perlunya produk kosmetik yang islami bagi kaum muslimah, maka lahirlah  produk baru. Dengan berbagai pertimbangan, ia memilih  merek, brand baru itu adalah Wardah. Bermakna setangkai bunga.  

Ada kalanya bisnis ini mengalami kemunduruan–untuk tidak mengatakan bangkrut. Ia berusaha bertahan. Pinjaman dari Bank dan ditambah gaji Subakat Hadi, sang suami yang berkerja di perusahaan besar lain, menyuntik semangat dan kinerja. Ia kembali  mampu   menggaji karyawan.  Perlahan tetapi pasti,  sejak itu Kosmetika Wardah semakin naik di mata publik serta konsumen makin melirik.

Sekalian belakangan, ia cantumkan  embel-embel kosmetika halal. Tentu saja kala itu, tambahan label halal banyak yang memberi  kritik. Salah-salah bisa dianggap  menjual “agama”?.  Ia bertahan menghadapi berbagai kritik itu. Sekarang, malah justru dengan   fenomena label halal produknya diterima publik dengan ambat baik, penuh gairah dalam aura modern dan klasik

IMG_8428.JPG

Kembali kepada teori bisnis 4 P, seperti disebutkan di tas tadi, plus P ke-5 (Pertolongan Allah), diramu dengan kekuatan S (Silaturrahim), Wardah mendapat tempat yang semakin dicintai. Ia menggaet beberapa selebriti dan artis menjadi duta produk yang disebut Brand Ambassador.

Kini Wardah sudah  mendapat tempat yang sangat terhormat di mata konsumen. Bahkan Wardah sudah go internasional. Di dalam gathering di berbagai negara,  benua belahan sana,  Nurhayati sering dikejar. Terutama para  CEO Corporate Komestik Brand Top, dunia internasional lain.  Mereka bertanya, apa rahasia sukses. Kalau  yang lain pertumbuhan usaha corporate-cosmetics masing-masing mereka hanya berkisar 5 dan 6 %, tetapi Wardah rata-rata 30-35 % pertahun.

Wardah  kini memiliki  1  pabrik di Cibodas, Tangerang dengan luas 1500 meter persegi. Lokasi lain berada  pada  4 kawasan di Jatake, Tangerang dengan total 15 hektar atau 150.000 meter persegi.   Memberi pekerjaan kepada 7500 (tujuh ribu lima ratus) karyawan. Beroperasi di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Di beberapa negara Asia Tenggara dan sudah menembus beberapa negara di 5 benua, 7 Samudera.

Oleh karena sudah menjadi korporat kian besar dan menggurita, maka diperlukan konsentrasi keluarga. Subakat Hadi sengaja mempercepat pensiun dari perusahaan tempatnya  mendaki karir sebelumnya. Ayah  putra-putri anak Nurhayati dari Pitalah Padang Panjang itu kini menjadi super-visor , reviewer dan komisaris utama dari Corporate Paragon Technology Innovation. 

Corporate yang menaungi wardah dengan ribuan item dan jenis produk kosmetik dan body shop itu adalah milik keluarga tersebut.  Mereka menyerahkan manajemen  korporat kepada  2 putra dan 1 putrinya yang insinyur dan dokter. Sementara Nurhayati menjadi Presiden CEO dari PTI ini.

img_8421

Soal jalannya perusahan dan pengendalian korporat sudah sebagian besar diserahkan kepada generasi kedua dari keluarga tadi. Nurhayati lebih banyak meletakkan dan merawat strategi dan mengantisipasi masa depan. Memproyeksi perkembangan dunia korporate nasional dan internasioanl.

Lebih dari itu, Nurhayati banyak berkeliling kampus dan institusi bisnis, kewirausahaan dalam mentransfer  pengalaman dan ilmunya kepada generai muda. Tentu saja  di samping semua itu meneruskan hobinya traveling ke berbagai sudut dan penjuru bumi. Untuk merenung dan sekalian menggali inspirasi, mencipta kreasi baru dan mewujudkan cita-cita yang lebih besar lagi menuju korporat dunia.

Nurhayati  paripurna di dalam memaparkan,  penuh kapasitas dan intelegensia yang tajam dengan nyali bisnis dan tawaduk yang tinggi. Ia amat mahir myebut rincian pengetahuan dan pengalaman.   Menguasai seluk beluk dan dinamika dunia korporat dan bisnis, percaya diri, dan amat  meyakinkan.

Bagi audiens, Nurhayati menjadi sumber motivasi dan inspirasi dalam setiap pengabdian. Tentu saja lebih dari itu semua  bagaimana melahirkan mimpi-mimpi dalam kenyataan. Berhulu, bersumber dan kemudian bermuara  dari dan kepada ikhlas serta berharap ridha-Nya.

Insya Allah sesuai rencana Nurhayati akan menjadi pembicara dan berdialog dengan  Keluarga Besar Muhammadiyah, Aisyiah dan AMM di Kauman Padang Panjang, 4 Maret 2017 ini.  Pencerahan Muhammadiyah untuk Sumbar berkemajuan. Basamo mako manjadi. ***

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

My spouse and my son at Harau Resort – with Tria Yola, fortuna, Shofwan, Furqon, putri, Shofwim, Mella, and Adam at Lembah Harau

View on Path

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Bagian Lain Harau Belum Disentuh

Ada bagian lain dari Lembah  Harau. Agaknya  inilah Nagari Harau yang sebenarnya yang belum disentuh program pembangunan pariwisata.

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Hafal 30 Juz, Kader Muhammadiyah Bukittinggi Raih Kesempatan Belajar ke Jepang

fullsizeoutput_836a

Januari 17, 2017

SangPencerah.id– Sumatera Barat menyimpan banyak potensi anak muda Minangkabau, tidak hanya mahir berdagang bahkan juga bertalenta dari segi hafalan quran, salah satu yang bertalenta itu adalah Nindi (21) Hafizah 30 juz yang merupakan Santri PP Tahfiz Quran Muhammadiyah Sawah Dangka, Bukittinggi, Sumbar. Nindi satu-satunya utusan Sumbar lolos seleksi yang digelar PP Muhammadiyah dan sekarang mengikuti pertukaran pelajar bersama 8 orang hafizh ke negeri Sakura Jepang, Senin, (16/1/2017).

Menyikapi itu Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Dr H. Shofwan Karim Elhusein,MA mengatakan Ini berkah dari Allah SWT, Nindi bisa ikut pertukaran pelajar ke Jepang, ini membangkitkan memori saya ketika saya ikut pertukaran pelajar tahun 1980-1985 lalu.

“Ini berkah dari Allah Swt, Nindi Santri PP Tahfiz Al-Quran Muhammadiyah Sawah Dangka, Bukittinggi bisa lolos seleksi dan sekarang sudah berada di Jepang bersama 8 mahasiswa lainnya,” ujarnya

fullsizeoutput_8369

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Dr. H. Shofwan Karim Elhusein mengatakan Saya ikut berbangga bahwa Nindi hafizah 30 juza tahfizh quran Muhammadiyah Sawah Dangka bisa lolos seleksi pertukaran pelajaran ke Jepang.

Katanya, Sekretaris Badan Kerjasama Hubungan Luar Negeri (BKHL) PP Muhammadiyah Dr. Wachid Ridwan pernah memberitahu saya terkait pertukaran pelajar, dimana Salah seorang santri dari Pesantren Muhammadiyah Sumbar dikirim ikut pertukaran pelajar ke luar negeri kali ini ke Jepang. Yang beruntung lulus seleksi adalah Nindi Ningsih dari Pondok Pesantren Muhammadiyah (PPM) Tahfizul Quran Muallimin Muhammadiyah Sawah Dangka, Bukittinggi.

Lanjutnya, Lolosnya Nindi juga pernah saya singgung pada pidato PW Muhammadiyah pada Peringatan Hari Bela Negara, Peresmian Qabilah Hizbul Wathan (HW), Pembukaan Kemah HW 19 Desember 2016 lalu. “Alhamdulillah, hal itu kini menjadi kenyataan. Nindi kini sedang di Jepang bersama 9 orang lain dari Indonesia,” tandasnya

Lebih jauh dia mengatakan Pertukaran pelajar, mahasiswa dan pemuda keluar negeri sudah tak asing bagi setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Ke Amerika sejak tahun 60-an ada program AFS yang kini disebut Bina Antar Budaya untuk Siswa SMA setahun di Amerika. Sekarang di modifikasi setahun di berbagai negara di dunia yang berkolaborasi dengan AFS Amerika. Artinya kalau dulu siswa AFS Indonesia hanya ke Amerika, sekarang mereka dapat juga ke negara lain di luar itu Amerika, seperti Jepang Australia, Negara-negara Eropa dan lainnya.

img_6943

Tambahnya, Pertukaran pemuda juga sudah berlangsung lama sejak 1974-2015 Indonesia-Canada World Youth Exchange Program, kemudian menjadi Youth Leader in Action lalu menjadi Global Youth fokusnya adalah international community development, cultural exchange dan language learning lalu Kapal Pemuda ASEAN dan Jepang sejak tahun 1974. petukaran pelajar ini difokuskan pada friendship and partnership. Ada Indonesia-Australia dan Malaysia sejak 1981 fokusnya cultural exchange. Indonesia-Korea, China, India sejak 2010. Fokusnya youth collaboration. Belum lagi program irregular dengan Amerika seperti beasiswa short study pelajar, guru, studi pluralisme, budaya, bahasa, musik, kepemimpinan, wiraswasta dan pemerintahan.

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Shofwan Karim Pernah Ikut Pertukaran Pelajar

Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Shofwan Karim Elhusen juga pernah menjadi participant, group leader dan county coordinator Indonesia-Canada World Youth Exchange Program, 1980/1982, 1982/1983, 1984/1985 di Alberta, Saskatchewan dan Ontario. Pada tahun 2013 dan 2015 Shofwan diminta menjadi peserta dan nara sumber untuk program review dan working session di Montreal, Halifax, Truro, Charlottetown, Ottawa dan Toronto (Provinsi Quebec, Nova Scotia, Prince Edward Island dan Ontario). Kapasistasnya sebagai Senior Executive Advisor dan President Alumni Indonesia 1989-1993.

Pertukaran siswa, mahasiswa dan pemuda, itu semua pendidikan informal dan non-degree. Kalau pendidikan formal dengan beasiswa akademik degree itu sudah rutin atau regular di puluhan universitas di Amerika, Inggris, Jerman, Arab, Mesir, Australia, Jepang, Russia dan seterusnya. Pada kaman Habibi menjadi menteri Ristek dan Ketua BPPT dulu, puluh an ribu, malah.

Keadaan itu mengalami pasang naik dan pasang surut. Pasang naik adalah pada tahun 70 sampai awal 90-an sebelum reformasi. Ketika reformasi banyak program itu yang terhenti dengan berbagai alasan baik dari dalam negeri maupun dari negara partner luar negeri.

Muhammadiyah nampaknya tidak banyak terpengaruh oleh keadaan. Secara berkelanjutan, sejak zaman Drs. H. Lukman Harun menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah membidangi Luar Negeri dan Hubungan Publik, lalu lintas angkatan muda ke luar negeri melalui pendidikan formal dan informal itu cukup dinamis, banyak dan sangat menggairahkan.

Setiap bulan ada saja tokoh, warga dan pimpinan serta angkatan muda Muhammadiyah mengikuti kunjungan, seminar, workshop dan lawatan dengan berbagai tema dan agenda. Begitu pula pengiriman mahasiswa dari Muhammadiyah untuk kuliah di berbagai universitas di Timur Tengah, Amerika dan Australia, Jepang, Eropa dan Inggris cukup intensif.

Walaupun begitu, pemerataan kesempatan belum optimal. Tentu saja dengan berbagai alasan. Tetapi tetap saja peluang itu ada. Shofwan juga pernah ikuti program dari PP Muhammadiyah pada tahun 1994, 1996, 2005, 2010 dan 2011. Mulai dari Konferensi Dunia, Agama dan Perdamaian di Roma dan Riva del Garda, Konferensi Asosiasi Konstitusi dan Parlemen Sedunia di Barcelona, Sepanyol, Konferensi Konfederasi Buruh Islam Internasional di Malaysia, Workshop Universitas Terbuka oleh Konfederasi Buruh Islam Internasional di Maroko, Konferensi Nushrah lil Quds di Mesir dan lain-lain.

Sekarang dengan terus berdirinya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di berbagai negara di dunia, migrasi dan mobilitas demografis dan geografis warga Muhammadiyah semakin mudah. Data terakhir sudah 21 PCIM di luar negeri dan itu terus bertambah.

Pada 1-8 November 2016, Ketua PWM Sumbar ini bertemu dengan warga, mahasiswa dan AMM Muhamadiyah di Australia Barat. Kabar terbaru bahkan PP Muhammadiyah kini sedang aktif mempersiapkan Universitas Muhammadiyah Malaysia.

Jauh sebelum inisiatiaf itu, Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 2005-2010, Drs. Rb Khatib P Kayo semasa dia masih anggota PWM ujung 1990-an sudah mendirikan bersama Muhammadiyah setempat Kolej Islam Muhammadiyah (KIM) Singapura. KIM bekerjsama dengan IAIN Imam Bonjol Padang di masa Rektor IAIN Prof. Dr. H. Mansur Malik.(sp/mn)

http://sangpencerah.id/2017/01/hafal-30-juz-kader-muhammadiyah-bukittinggi-raih-kesempatan-belajar-ke-jepang.html

 

 

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Politik Lokal Ka’bah

http://sumbar.muhammadiyah.or.id/content-9-sdet-direktori-ketua-pwm.html
Memo, 22.1.17.

img_8393

Masih ada senior yang eksis

Memo, Shofwan (Padang, Ahad 22 Jan 17-23 Rb Akhir 1438).

Matahari pagi sepenggalahan. Ada surel (surat elektronik)  undangan menghadiri Hari Lahir (Harla) ke-44 Partai Persatuan Pembangunan (PPP/P3). Sejalan dengan pelantikan DPW dan DPC partai berlambang ka’bah itu. Datang dari Jakarta Ketua Umum Ir. Muhammad Romahurmuzy, MT dan rombongan. Romi, panggilan singkat para sahabat  kepada Ketua Umum.

Panitia telah menunjukkan tempat duduknya yang tertulis di sandaran kursi. Baris kedua berdampingan Ketua Aisyiah yang juga masih kosong.

Tiba-tiba seorang pengurus, yang kemudian  ia  tahu rupanya juga dilantik, memintanya pindah ke kursi barisan pertama di depan bersebelahan tamu VVIP lain. Walaupun mulanya berbasa-basi, ia  tetap pindah ke depan. Duduk bersebelahan dengan Wakil Walikota Pariaman.

Ia tidak hafal siapa saja kepala daerah yang diusung P3 pada Pilkada lalu yang datang pada Harla ini, selain tokoh yang duduk di sebelahnya. Belakangan rombongan dan anggota DPD RI duduk di deretannya.

Rombongan Ketua Umum dan Ketua DPW H Hariadi BE yang dilantik, kemudian datang Gubernur Irwan Prayitno,  duduk di deretan yang sama pada bagian seberangnya.

Ia sempat berbicang pendek kepada pengurus yang tadi mempersilahkan pindah kursi. Untuk menyegarkan ingatan, kini kursi P3 di DPRD ada 8. Bersamaan dengan itu ada  sekitar 50 kursi perolehan partai hijau ini di seluruh Kabupaten dan Kota  di   provinsi ini, kecuali, Kab Mentawai.

Dengan begitu dapat dikatakan bahwa   P3  agak merata kekuatannya di Ranah Minang. Untuk DPR RI, P3 memproleh 1 kursi di Dapil 1 dan 1 kursi di Dapil II.

Artinya P3 pada Pemilu lalu di atas PAN yang hanya memproleh 1 kursi di Dapil 1 dan kosong di Dapil II, untuk perolehan kursi DPR RI.  Paling tidak dengan begitu P3 sejajar di antara 8 partai yang memperoleh kursi untuk DPR RI dari seluruh Sumbar.

Melihat panorama itu dapat dikatakan P3 berada pada papan atas di Sumbar.  Meskipun sampai sekarang DPP masih terbelah antara Jan Farid dan Romi.

Dari bisik-bisik untuk kepengurusan DPW Sumbar kali ini sudah dikombinaasikan pengikut kedua kubu itu.  Kalau info ini benar, maka P3 menjadi solid dan akan bergerak lebih cepat.

Meskipun ada info lain, Jan Farid dan Epiyardi Asda sudah mengganti DPW yang lama kepada  Irwan Fikri, Wakil Bupati Agam 2012-2015  sebagai Ketua DPW versi Jan Farid yang baru.

Jangan lupa, untuk Pilkada 15 Februari ini, Jan Farid mendudukung Ahok  untuk Pilgub DKI. Sementara Romi mengusung Agus-Sylvi. Hal lain yang perlu dicermati adalah SK Menkumham yang mengesahkan kepenguruan DPP Romi di batalkan Pengadilan PTUN Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Kembali ke P3 Sumbar, kelihatannya secara ideologis masih tetap kokoh. Secara kultural, masih layak. Persoalan pokok lain yang tak kalah penting adalah struktur, SDM dan dukungan finansial sebagai enerji.

Semua partai, organisasi massa dan badan-badan LSM, kini sedang lesu darah. Mungkin untuk partai masih ada bantuan pemerintah. Tetapi untuk Sumbar, Ormas seperti MUI, LKAAM, Bundo Kanduang, Muhammadiyah, NU, Perti-Taribiyah, sejak 3 tahun ini, hampa.

Meskpipun begitu ada harapan kepada pendukung P3  loyalis lama dan mereka berasal dari ormas yang dulu memang menjadi akarnya. Seperti Muhammadiyah, Perti dan kelompok Tarikat serta lainnya.

Para loyalis ini, sesuai sejarahnya hampir tidak mempedulikan soal materi. Mereka lebih konsen kepada perjuangan dan isi plat-form partai berbasis Islam itu. Bayangkan, mereka yang dulu zaman Orba, bahkan rela berhenti dari pekerjaannya yang berafiliasi dengan pemerintah  untuk semata-semata hidup dengan caranya sendiri dan loyal kepada P3.

Sebagai angota DPRD Sumbar 1992-1997, penulis memo ini  melihat tokoh senior P3 lama yang sudah malang melintang sejak 44 tahun lalu, masih  ada yang eksis. Tentu ditambah yang baru dan muda-muda usia. Bolehlah berharap kepada tokoh senior itu mengasah ideologi dan semangat  kader-kader yang baru.

Apa lagi sekarang hampir-hampir mereka tidak membaca plat-form dan  inti perjuangan partai. Sebagian besat orientasi mereka hanya kedudukan dan mengejar kursi legislatif atau pada waktunya kepala daerah. Sehingga tipologi poltikus seperti ini sama dengan tupai, di mana durian yg masak melompat ke situ.

Bagaimanapun, massa P3 bolehlah berharap saatnya kini P3 bangkit. Bila kabinet Hariadi mampu merangkul ulang dan meningkatkan daya juang pasukan yang selama ini berlanglang buana ke partai lain dan sekarang kembali ke P3,  lalu mampu mengeksplorasi semangat dan daya juang kader baru,  maka Partai lambang Ka’bah in mungkin akan mendulang kemenangan  yang signifikan  di 2019.***

 

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Marhaban Radha

Memo, 22.1.2017, Marhaban Radhiyah Azima Putri Affandy (Radha)

Waktu berlari kencang. Ba’da subuh, kabar dag dig dug terus ditunggu. Putri Bulqish Shofwan, anak Shofwan ke-3 itu, sejak semalam bolak-balik ke rumah sakit. Dan alhamdulillah, sebagaimana ibunya dulu, sangat mudah melahirkan.

img_8418

Bulqish dilahirkan oleh isteri tercinta Shofwan Karim, Imnati Ilyas hari Ahad, 6 Rabiul Awal 1404 H bertepatan dengan 11 Desember 1983.

Dan pk 10.42, Ahad 23 Rabiul Akhir 1408-22 Januari 2017 ini, Putri Bulqish melahirkan buah hatinya yang ke-3. Didampingi suaminya, Marwan Affandy Nasrun. Oleh Ayahnya diberi nama Radhiyah Azima Putri Affandy (dipanggil Radha).

IMG_8390.jpg

Bayi yang sehat berat 3,6 kg dan panjang 50 cm itu terdengar mengeak nyaring. Tangis awal direkam by video oleh mereka. Shofwan menikmati foto dan video itu by WA di kediamannya di Padang. Agenda yang cukup banyak di Padang tidak memungkinkan Shofwan terbang ke Jakarta melihat karunia Allah swt yang penuh gémbira itu.

Suasana di RS Hermina, Jakarta Selatan menjadi riuh-rendah. Ada Mama Bulqis, Imnati. Hadir adiknya Adam Putra (Lhr 24Juli 1996), Mahasiswa Studi Film dan TV, IKJ. Ada Mella Meuthia, ipar Bulqish, isteri kakaknya, Iqbal Shoffan (Uda-Iqbal). Kakak sulung Bulqish, menikah dengan cucu H. Amir Ali, Ketua PW Muhammadiyah Sumbar 1985-1990. Iqbal dan Mella mempunyai satu putra Arkoun Farandae Iqbal (7 th).

Dari Bandung peristiwa itu di ikuti kakak dan ipar Bulqish. Kakak kedua Bulqish, Shofwim (Abang-Opim) menikah dengan Triya Yola Roomdhona (Yola), belasteran gadis Cirebon-Cianjur. Opim-Yola memiliki 2 putra dan 3 putri. Putri bungsu mereka lahir 29 Shafar 1438 – 29 November 2016, pk. 04.45. Kritis sekali, lahir sebelum dibawa ke rumah sakit, di rumahnya Antapani Bandung. Waktu itu berat bayi perempuan itu 3,3 kg dan panjang 52 cm. (Bersambung)

 

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Malikah, Menemukan-Nya

Memo 20.1.17, Malikah Menemukan-Nya

Memo, Shofwan (Padang/20.1.17)

Bismillah. Sejak kanak-kanak ia gelisah. Usia 6 tahun ia berlari keluar pekarangan. Melihat langit terbelah.  Di tengah belahan itu ada Cahaya. Itukah Tuhan? Wanita muda 32 tahun itu senyum. Lalu melihat ke dépan.

Sekitar 40-an hadirin hening. Mereka mendengarkan dengan seksama.  Apa lagi  berikutnya. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya seperti magnit memukau. Mata tak berkedip.

Sejak itu kegelisahan terus mengusung jiwanya. Sampai  usia remaja galau di hatinya tak pernah berhenti. Sampai suatu saat ia bekerja di industri pengolahan daging. Disitu ia bertemu dengan orang Turki yang muslim.

Ia tidak mau dekat dengan orang-orang Turki  muslim itu. Bukankah Muslim terroris?. Bahaya. Label muslim-terroris itu sampai ke puncak kulminasinya. Waktu itu  gedung kembar WTC di New York dihancurkan oleh 19 pembajak.

Kapal terbang yang mereka bajak menabrak  dua gedung sama bentuk dan tertinggi di Manhattan, New York City itu.  Gedung pencakar langit itu hancur lebur bagai kerupuk diremas entah oleh siapa. Teori konspirasi? Entahlah. Menurut Wikipedia, korban terbunuh 2996 orang termasuk 19 orang pembajak tadi dan mencederai 6000 orang, alhamdulillah masih hidup.

September 11, 2001. Kosa kata nine-eleven (9/11), memenuhi gaung petala bumi 16 tahun lalu. Saking berangnya, George Bush yunior Presiden Amerika waktu itu menyatakan perang. George W. Bush, President Amerika ke 43 itu, mungkin keceplos.

Baru menjabat 8 bulan, ia mengatakan  perang salib mutakhir  “war on terror” . Tafsiran masyarakat umum kata itu ditujukan terhadap  negara penyimpan  dedengkot terrorisme. Belakangan yang dimaksud adalah  Osama Ben Laden di   Afghanistan.

Lalu Irak dibawah Presiden Saddam Hussein dianggap menyimpan senjata pemusnah massal dan pada sebagian pendapat juga menyembunyikan tokoh al-Qaeda, Abu Musab al-Zarqawi. Jadilah Afghanistan dan Irak dua sasaran lawan  menjadi  lawan tanding  tak berimbang.

Malikah, wanita yang sedang dibicarakan ini berada di tengah keluarga yang tidak peduli dengan agama. Isu, hoax, bully menyerang Islam dan muslim terroris itu semakin nyaring. Ayahnya seorang yang tak bertuhan. Ibunya mengaku Nasrani tetapi tidak pernah ke gereja.

Tentu saja sanak keluarga yang lain yang juga tidak peduli dengan agama semuanya berprasangka buruk kepada Islam dan muslim. Lingkungan tak kondusif. Kegelisahannya semakin dalam.

Meski begitu, sahabat Turki ini  sering guyonan kepadanya. Mereka yang  suka membantu dan berbagi itu mengatakan kalimat Allah dan Nabi Muhammad saw terlalu sering ke telinga. Bahkan suatu kali, kamu sudah Islam kata mereka. Meski belum mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dasar seorang yang gelisah mencari pegangan hidup, keadaan itu membuatnya makin intensif dan massif mendengar, berbicara, dan bergaul. Sekalipun  terhadap oang-orang  asing. Muslim Turki yang sama bekerja dengannya tak sedikitpun terkesan  terroris.

Sebaliknya sangat baik. Ramah dan suka berbagi. Apa pun meme dan bullydialamatkan ke mereka, tak ada respons negatif dari pihak para imigran ini. Hitung-hitung ternyata kebanyakan mereka tidak mengerti Bahasa Belanda. Meski ada yang sudah puluhan tahun hijrah ke Belanda.

Sebaliknya yang terjadi pada dirinya. Semakin hari, kedekatan dan persahabatannya dengan orang-orang Turki membuat ia mulai berfikir. Mengapa tidak belajar Bahasa Turki? Belajar Bahasa berarti sekalian belajar budaya, adat dan tradisi masyarakatnya.

Itulah, hari berganti hari membuat ia larut dalam persahabatan dengan muslim Turki tadi. Tuduhan terroris, issu dan bully pihak lain terhadap Islam dan Muslim mulai ditampiknya. Padahal awalnya ia mencoba menjaga jarak. Apa lagi mendengar kata Islam, dulu, tangannya langsung bergerak membikin pagar  di depan dada tanda penolakan  yang lantang dan keras.

Melihat lingkungan keluarga yang tak peduli dengan Tuhan, ia semakin jauh melibatkan batin, hati dan akalnya mencari Tuhan.  Tuhan yang mana? Tuhan Yahudi, Nasrani, Hindu, atau Budha?

Sekonyong-konyong, hidayah dan kemauan Allah, datang, katanya. Setelah membandingkan, merenung dan memikirkan, ia memilih Islam.   Bismillah. Ia nengucapkan dua kalimat syahadat dengan jujur, ikhlas dan sungguh-sungguh.

Begitu intensifnya ia mendalami Islam, ia mengambil kuliah pascasarjna (S2) Studi  Teologi kemudian Perbandingan Agama. di Belanda.  Kini ia menekuni studi Islam S3 Program Doktor di UIN Jakarta.

Ke Indonesia?.  Bermula dari maksud  hanya pergi bertamasya ke Jakarta diajak kenalan. Lalu semakin dekat dengan orang-orang Indonesia. Mengaku ibu angkat dengan orang tua perempuan tokoh trainer spriritual kontemporer ISQ 165 Ari Ginanjar.

Tokoh ini ia anggap sebagai kakak. Begitu pula dengan Bang Din (ia menyebut begitu), Prof. Dr. Din Syamsuddin Ketua PP Muhammadiyah 2005-2015. Dan banyak tokoh tempatnya berdisksui dan mengadu pikiran.

Namanya Siti Malikah Melek Feer. Siti nama yang diberikan Ari Ginanjar. Malikah diberikan sahabatnya imigran Turki di Belanda. Melek adalah nama kecilnya dan Feer adalah nama keluarga ayahnya di Belanda.

Malikah bertemu dengan penulis memo ini dan Rektor UMSB Novelti pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, 1-7 Agustus 2015. Waktu itu Malikah mengatakan soal rencana kuliah S3 di UIN.

Ia barusan selesai testing seleksi masuk tetapi hasilnya belum keluar. Alhamdulillah, belakangan Malikah diterima dan kini  menjadi mahasiswa doctoral kandidat doktor. Pertemuan berikut adalah pada kenduri perkawinan putra Pak Din pertengahan tahun lalu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, komunikasi tiga arah antara PWM-Rektorat-Malikah,  berhasil mengajak wanita muda yang segera meninggalkan  masa gadisnya ini ke Kampus UMSB. Berbagi wacana dan pengalaman serta gagasan.

Hadir di sesi ini lengkap Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Wakil Ketua PWM. Begitu pula Ketua dan anggota BPH UMSB. Lengkap pula PWA hadir Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Dari Rektorat lebih lengkap lagi di samping Rektor dan semua Wakil Rektor juga beberapa Dekan, Dosen dan Mahasiswa.

Hadir teman dekat Malikah dan Rektor Novelti di Padang. Malikah menyebutnya Uni Firti Rahmatika.  Bu Firti dari Kopertis Wil X adalah isteri teman penulis memo ini Prof. Dr. Elfindri. Sejak dulu UMSB intensif berkomunikasi termasuk soal mendatangkan Malika sekarang ini. Dan pagi harinya Malika ada sesi di Kopertis.

Di dalam sesi diskusi, Malikah menjawab beberapa pertanyaan. Bahwa memeluk Islam memang karena hidayah Allah. Akan tetapi tetap ada causa-prima (penyebab utama duniawi). Dalam kasus dirinya adalah  prilaku dan santunya sahabat Turki Muslim tadi.

Betapa budaya masyarakat Muslim menjadi budaya Islam yang memang sesuai dengan al-Quran, rahamatan lil alamin. Dan tentu sangat ditentukan pula oleh ketahanan mental yang bersangkutan dari rongrongan dan pengucilan pihak keluarga dan lingkungannya.

Di sela-sela Muktamar tempo hari, Malika bercerita bahwa pada awal kerberislamannya sangatlah berat. Tidak diterima oleh ayah, ibu dan keluarga ketika  ia memjutuskan masuk Islam. Sehingga masa remaja terpaksa mencari tempat kos di luar dan bekerja untuk kehidupannya.

Keadaan itu alhamdulillah tidak berlangsung lama. Sekarang keluarga di Belanda tidak mempersoalkan lagi tentang dirinya yang menjadi Muslimah.

Soal bagaimana berkompetisi dengan agama lain yang agresif dan intensif menjalankan zending dan misinya meraup pengikut sebanyak-banyaknya?.  Malika mencontohkan kelompok Keristen Yehova. Mereka memahami betul ajaran dasar dan semua konsep serta aplikasi keagamaannya. Setiap orang dalam kelompok Yehova adalah missionaris.

Mereka mempunyai latar belakang ilmu yang kuat. Pertemuan sangat intensif. Sama ada awam dan elit. Semua dapat menjawab segala persoalan yang berkaittan dengan agamanya. Kita, kaum muslim in di situ kurangnya.

Misalnya soal jilbab. Kalau ditanya kepada wanita biasa, lebih kepada jawaban klise. Ya, ini ketentuan syariat, tetapi tidak bisa menjelaskan surat dan ayat quran serta hadis dan sirah keluarga Rasulullah tetang adab berpakaian itu.

Padahal di dalam kepala saya, kata Malikah, kita harus semua menjadi Zakir Naik. DR. Zakir Abdul Karim Naik (Lahir 18 Oktober 1965) adalah muballigh dunia berasal dari India. Menguasai dan memahami serta hafal semua ayat dari semua kitab-kitab Quran, Injil, Taurat dan Kita-kitab  ajaran Hindu dan Budha.

Dari mulut Zakir, sepertinya semua hal dapat dijawab dan dikupas tuntas. Di setiap tabligh akbar   hadir puluhan ribu orang.  Di situ puluhan orang mengkonversi diri menjadi muslim. Saya berambisi menjadi Zakir Naik, katanya.

Di sela sesi serius ada selingan. Malika sempat secara sepintas berkisah soal lamaran pujaannya. Dimulai dari perkenalan persahabatan awal di media  Instagram. Perlahan tapi pasti, meningkat ke jenjang berikutnya.

Dan proses lamaran dari sang pujaan telah berlangsung dengan orag tua angkatnya ibu Ari Ginanjar dan keluarga. Ayah dan ibunya di Belanda sudah tahu. Mereka tidak mempesoalkan. Yang penting, kata mereka, “Melek Feer” bahagia. Dan Insya Allah April nanti, akad nikah itu akan dilangsungkan.

Ketika ditanya soal dibolehkannya poligami dalam Islam dan dikaitkan dengan jodohnya  pria beruntung  dari keluarga kerajaan Solo-Surakarta itu, Malika seperti agak ragu menjawab.

Saya paham, katanya. Ketentuan syariat memang membolehkan suami beristeri lebih dari satu. Akan tetapi, sambil mengurut dada, kalau bisa janganlah menemukan keadaan yang seperti itu.

Seakan-akan Malikah ingin mengatakan meski hukum syariat membiolehkan, tetapi poligami bukanlah wajib. Dan bila ada yang melaksanakan, setidaknya, tidak dilakukan oleh sang suami yang nanti menikahinya. Allah al-a’lam bi al-shawab. (Bersambung)

I

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Mandeh Resort Pessel, Sumbar. – with adri, Cynara, Fineke, Dian Azhari, fortuna, Suci, Yuliandre, Ari, Musfi, Lisa, putri, Ari, Muchtar, Akbar, Dini, Tria Yola, Riana, fachry, Mazfur, abdullah, Iashika, Indah, sariani, Anton, CINDY, agung, Herlin, Yong, Johny, Andi, Allevia, Ita, Dior, Rahmi, RAFI, Taufiq, Vina, Shofwim, Mella, Jafra , Irma, muchtar, John, Gustira, Shofwan, Musfi, Mila, Salam, Achie, Hendri, Wedy, and Hendra at Puncak Mandeh

View on Path

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment

Doa yg terkabul – at Mesjid Nurul Ihsan

See on Path

Posted in Outsourcing Articles | Leave a comment