Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Ayahanda YTC HbdlKarimBerhaji1976-1

http://hariansinggalang.co.id/memperkuat-masyarakat-madani-yang-gamang/

Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Home » Opini » Memperkuat Masyarakat Madani yang Gamang

Catatan dari Silaknas ICMI 2014 Gorontalo (5-habis) — Shofwan Karim — DI MASA awal berdirinya ICMI, 7 Desember 1990 di Kampus Universitas Brawijaya, isu sentral yang mengemuka antara lain adalah mempopulerkan dan menggairahkan elan vital Masyarakat Madani (MM).

BJ. Habibie yang pada waktu itu menjadi bintang utama ICMI bersama tokoh awal, amat ambius menjadikan MM sebagai poros segala harapan. Tokoh ini menjadi Ketua Umum ICMI 2 periode dan sampai sekarang, Habibie adalah Ketua Dewan Kehormatan ICMI Pusat. Pada sesi awal Silaknas, melalui video-teleconference langsung, hal itu tetap disinggungnya.

Meskipun bagi cendekiawan tertentu, MM dinisbahkan kepada civil-society (masyarakat kewargaan), dan itu dengan latar belakang konsep Barat, maka ICMI tidak serta merta menganut konsep itu.
ICMI lebih cendrung kepada konsep masyarakt sivil dengan yang mendapat aura dari masa awal kehadiran Islam awal periode Madinah di zaman Rasulullah.

Oleh karena itu, salah seorang di antara cendekiawan yang menonjol waktu itu, Nurcholish Madjid memahami MM itu dengan konsepsi Islami.

Di antaranya, MM yang dibangun Nabi Muhammad SAW berwatak : egalitarianisme (persamaan derajat); penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan kesukuan, keturunan, ras dan sebagainya); keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat; penegakan hukum dan keadilan; toleransi dan keadilan; dan musyawarah.

Menjawab gamang
Pada masa awal Orde Baru, dianggap oleh sebagian para ahli dan pengamat, jagad kehidupan berbangsa-bernegara Indonesia terkooptasi oleh triumpirat Soeharto, TNI (ABRI waktu itu dengan kredo dwi-fungsi) dan kaum birokrat dan teknokrat.

Walaupun begitu, sayap masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, meski di periperal, mulai mendapat tempat. Akan tetapi tentu saja tidak sejajar dengan tiga kekuatan tadi. Di dalam porsinya yang sangat kecil, pada waktu itu digalakkan suatu terma yang popular disebut partisipasi masyarakat.

Pemerintah sebagai pelaku utama pembangunan, dan masyarakat ikut serta. Kesannya ada nuansa, bahwa masyarakat menjadi faktor sekunder.

Pada era reformasi, pada awalnya, pendulum itu berbalik. Masyarakat dengan inti kaum muda, politisi progresif, sebagian TNI muda sahabat aktivis, ormas, wartawan, budayawan dan intelektual-cendekiawan, Ornop (organisasi non pemerintah) yang pada sebutan lain NGO, semuanya ‘menyerbu’ ke arena perjuangan membalikkan situasi.

Amin Rais, Nurcholish Madjid, Gus Dur, Yusril Ihza dan seterusnya, belumlah tokoh di pusat kekuasaan. Mereka adalah butiran pasir di tengah MM yang fokal dan dikagumi kalangan masyarakat sipil. Membaca kembali proyek kemajuan yang mereka perjuangkan waktu itu, pasti semuanya berdecak kagum kepada mereka. Artinya, MM menjadi lebih bergigi.

Akan tetapi sekarang, terjadi sebuah kontradiksi baru. Jagad persilatan ke-Indonesiaan sekarang, dipegang oleh partai politik, segelintir cendekiawan yang berkolaborasi dengan kelompok pers yang kuat. Sehingga menciptakan keterbelahan yang hampir optimal.

MM dalam pengertian yang murni, kelihatannya mayoritas tutup mulut dan tetapi pasang telinga dan buka mata. Organisasi besar seperti MUI, Muhammadiyah, NU, termasuk ICMI sendiri dan puluhan ormas Islam serta ormas Kristiani, Hindu dan Budha serta lain-lain, seakan tiarap.

Mereka bukan tiarap karena takut, tetapi lebih kepada mentiarapkan diri sendiri. Mungkin inilah masa yang dapat disebut era masyarakat madani yang gamang.

Kecendekiawanan, ke-Islaman dan ke-Indonesian ICMI terus menerus merevitalisasi kredo awalnya tentang tiga fundamen kehidupan MM yang menjadi obsesi idealnya. Tiga fundamen yang diharapkan terus menerus tempatnya berpijak adalah kekuatan nalar kecendekiawanan, nilai-nilai Islami, dan pondasi ke-Indonesiaan.

Ketua Dewan Penasehat, Jimly Asshiddiqie pada penutupan Silaknas, meminta ICMI untuk melakukan terus menerus revitalisasi internal. Antara lain melakukan hijrah moral, melakukan revolusi mental dengan meningkatkan peranan di dalam pembangunan. Terutama di dalam pemberdayaan ekonomi umat, tanggungjawab ICMI yang sudah menjadi sejarah kini mesti diperkuat kembali.

Sementara itu, Ketua Presidium Sugiharto di dalam sambutan penutupan meminta segenap anggota, pimpinan dan aktifis serta badan-badan otonomi, yang dulu sangat bergairah, kembali memperkuat gairah dan semangat. ***

1518762_10152853018943433_7990527101768230375_o

Advertisements

Home of my Thought and Expression